Libanon Tegaskan tak Ada Info soal Panggilan dengan Israel

Ferdian Ananda Majni
16/4/2026 16:35
 Libanon Tegaskan tak Ada Info soal Panggilan dengan Israel
Presiden Libanon Joseph Aoun(AFP)

PEMERINTAH Libanon menyatakan belum memiliki informasi terkait rencana panggilan telepon dengan Israel, meski Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengeklaim komunikasi antara kedua pihak akan segera terjadi.

"Saat ini kami tidak memiliki informasi apa pun tentang kemungkinan panggilan telepon antara kepresidenan Libanon dan pihak Israel," kata sumber resmi Libanon kepada Anadolu, Kamis (16/4).

Sebelumnya, Trump melalui platform Truth Social menyampaikan bahwa Washington tengah berupaya meredakan ketegangan antara kedua negara tersebut.

"Berusaha untuk mendapatkan sedikit ruang bernapas antara Israel dan Libanon. Sudah lama sejak kedua pemimpin tersebut berbicara, sekitar 34 tahun. Itu akan terjadi besok," tulisnya.

Pernyataan itu disampaikan setelah pertemuan yang berlangsung pada Selasa (14/4) di Departemen Luar Negeri AS.

Pertemuan tersebut mempertemukan Duta Besar Libanon Nada Hamadeh dan Duta Besar Israel Yechiel Leiter, serta difasilitasi oleh Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bersama sejumlah pejabat tinggi lainnya, termasuk Duta Besar AS untuk Libanon Michel Issa, penasihat Departemen Luar Negeri Michael Needham, dan Duta Besar AS untuk PBB Mike Waltz.

Kelompok Hizbullah tidak dilibatkan dalam pertemuan tersebut dan dilaporkan menolak langkah tersebut. Di sisi lain, Menteri Sains Israel Gila Gamliel menyatakan bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu diperkirakan akan melakukan komunikasi dengan Presiden Libanon Joseph Aoun. Namun, hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari pejabat senior Israel terkait rencana tersebut.

Situasi di kawasan tetap tegang. Israel masih melanjutkan serangan di Libanon selatan sejak bentrokan lintas perbatasan dengan Hizbullah pada 2 Maret, meskipun kedua pihak sebelumnya telah menyepakati gencatan senjata pada November 2024.

Otoritas kesehatan Libanon melaporkan bahwa sejak Maret, lebih dari 2.000 orang telah tewas dan lebih dari satu juta lainnya terpaksa mengungsi akibat eskalasi konflik tersebut. (Fer/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya