Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
ESKALASI konflik di Timur Tengah telah memaksa Amerika Serikat (AS) melakukan pergeseran strategis yang berisiko melemahkan pengaruhnya di kawasan lain. Demi menopang operasi di kawasan Teluk Persia, Washington mulai memindahkan aset pertahanan dari Asia Pasifik—termasuk dari Filipina—ke Timur Tengah.
Langkah ini menjadi konsekuensi logis setelah keterlibatan AS dan Israel dalam konfrontasi melawan Iran menguras sumber daya secara masif. Meski gencatan senjata dua pekan telah disepakati sejak 8 April lalu, beban finansial dan kerusakan aset akibat pertempuran yang pecah sejak 28 Februari silam dilaporkan tetap membebani keuangan Gedung Putih.
Analis geopolitik internasional Sukron Makmun, Selasa (14/4), memandang keputusan AS untuk memprioritaskan eskalasi militer ketimbang jalur diplomasi sebagai langkah yang kontraproduktif. Menurutnya, dominasi global AS kini berada di titik nadir akibat tekanan ekonomi dari kompetitor Asia dan biaya perang yang tidak masuk akal.
"Iran memang rugi, tapi AS jauh lebih menderita. Bukan hanya soal tentara yang tewas, tapi reputasi dan citra mereka hancur. Pangkalan-pangkalan tua simbol hegemoni yang dibangun puluhan tahun ternyata bisa dihancurkan Iran dalam sekejap," ujar Sukron, yang juga merupakan intelektual muda NU dan Wakil Sekjen PERHATI.
Strategi 'Perang Urat Syaraf' Iran
Sukron, yang memiliki latar belakang studi di Iran, menjelaskan bahwa Teheran menerapkan strategi untuk membuat biaya perang musuh menjadi tidak rasional. Strategi ini tidak berfokus pada kemenangan militer konvensional, melainkan pada ketahanan durasi.
"Iran sadar lawannya lebih kuat. Makanya mereka main waktu dan durasi. Tujuannya agar ekonomi global terganggu dan kantong lawan bolong. Tidak perlu menang telak, cukup pastikan musuh tidak bisa menang. Jika perang panjang, tekanan domestik di AS dan Israel yang akan menjatuhkan mereka sendiri," jelasnya.
Lebih jauh, ia menilai sanksi dan embargo yang dijatuhkan AS justru memicu lahirnya tatanan ekonomi baru. "Embargo justru membuat Iran menjadi pemasok energi murah bagi negara-negara lain. Akibatnya, kompetitor AS bisa produksi lebih murah dan menang saing. Dunia sekarang multipolar, sanksi tidak mematikan, malah memunculkan sistem transaksi alternatif yang meninggalkan dolar," tambahnya.
Dilema Asia Pasifik dan Nasib Filipina
Pengalihan fokus ke Timur Tengah berdampak langsung pada postur militer AS di Asia. Saat ini, AS memiliki setidaknya 13 pangkalan di Filipina di bawah skema Enhanced Defense Cooperation Agreement (EDCA) yang tersebar di lokasi strategis seperti Palawan dan Luzon. Namun, pangkalan-pangkalan tersebut kini kehilangan prioritas.
"AS dipaksa memilih: selamatkan muka di Timur Tengah atau pertahankan pengaruh di Asia? Mereka pilih yang pertama demi gengsi. Akibatnya, pengawasan di Asia berkurang drastis. Ini keuntungan besar bagi kompetitor mereka (China) untuk bergerak bebas," tegas Sukron.
Kekhawatiran senada muncul dari kalangan akademisi Filipina Roland G Simbulan secara terbuka mengkritik kehadiran militer AS yang dinilai berisiko menyeret Manila ke dalam pusaran konflik global yang bukan menjadi kepentingan nasional mereka.
Sukron menyimpulkan bahwa pengalihan fokus militer ini akan menandai berakhirnya superioritas absolut AS di Asia Pasifik. Di saat Washington sibuk menguras pundi-pundi untuk mesin perang, negara-negara kompetitor justru mendapatkan momentum untuk memperkuat industri dan sistem keuangan mereka.
"AS sibuk berperang dan menguras harta, sementara pihak lain justru menuai keuntungan (windfall profit). Industri makin kuat, cadangan energi aman, dan sistem keuangan makin bergeser. Perang memang musibah, tapi bagi yang cerdas membaca peluang, ini adalah berkah," pungkasnya. (P-2)
Wilayah udara Turki saat ini ditutup bagi pejabat Israel dan pesawat yang membawa senjata.
Nilai tukar rupiah ditutup menguat ke Rp17.229 per dolar AS. Pengamat menilai sentimen konflik Iran-AS dan kebijakan The Fed masih memengaruhi pasar.
Sebanyak 415 tentara AS terluka dan 13 tewas dalam operasi melawan Iran. Konflik meningkat sejak serangan gabungan AS-Israel pada Februari.
Militer Iran menegaskan komitmen seluruh pasukan untuk mempertahankan kedaulatan negara. Pihak Angkatan Darat siap berjuang hingga titik darah penghabisan.
AS resmi akhiri kehadiran militer 10 tahun di Suriah. Seluruh pangkalan diserahkan ke Damaskus seiring integrasi pasukan Kurdi ke institusi negara. Fokus lawan ISIS.
Amerika Serikat berencana mengerahkan sekitar 10 ribu pasukan tambahan ke Timur Tengah untuk menekan Iran agar menyepakati pengakhiran konflik.
Militer AS melalui USS Rafael Peralta mencegat kapal tanker M/T Stream menuju Iran. Ketegangan di Selat Hormuz meningkat di tengah kebuntuan diplomasi.
Presiden AS Donald Trump memilih strategi blokade ekonomi berkepanjangan terhadap Iran untuk menekan ekspor minyak dan menghindari risiko perang terbuka.
Arab Saudi mendesak Dewan Keamanan PBB secara eksplisit mengecam serangan Iran sejak awal krisis, sembari menyoroti pentingnya keamanan Selat Hormuz bagi ekonomi global.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres memperingatkan bahwa kebuntuan ini berpotensi memicu krisis pangan global.
Pertemuan mungkin masih berlangsung, serta menegaskan proposal tersebut sedang dibahas. Meski demikian, Leavitt menolak berspekulasi lebih jauh.
HARGA minyak dunia terus menunjukkan tren kenaikan meskipun Iran mengajukan proposal untuk mengakhiri blokade di Selat Hormuz.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved