AS Resmi Angkat Kaki dari Suriah setelah 10 Tahun, Kendali Penuh Kembali ke Tangan Damaskus

Haufan Hasyim Salengke
17/4/2026 08:14
AS Resmi Angkat Kaki dari Suriah setelah 10 Tahun, Kendali Penuh Kembali ke Tangan Damaskus
Sebuah truk mengangkut peralatan militer di Provinsi Hasakah, Suriah, 16 April 2026.(Str/Xinhua)

AMERIKA Serikat (AS) resmi menyelesaikan penarikan seluruh pasukannya dari Suriah setelah 10 tahun kehadiran militer, dengan seluruh pangkalan yang sebelumnya digunakan telah diserahkan kepada otoritas interim Suriah.

Otoritas urusan luar negeri Suriah, Kamis (16/4) waktu setempat, menyatakan bahwa semua fasilitas militer yang sebelumnya ditempati pasukan AS telah dievakuasi dan dialihkan ke kendali pemerintah interim.

“Penyerahan ini menandai pemulihan kendali Damaskus atas wilayah, khususnya di timur laut dan sepanjang perbatasan, yang sebelumnya berada di luar otoritasnya,” demikian pernyataan resmi tersebut.

Otoritas itu juga menegaskan bahwa perkembangan ini merupakan bagian dari upaya menyatukan negara di bawah satu kerangka pemerintahan, sekaligus sejalan dengan kemajuan integrasi pasukan Kurdi ke dalam institusi negara.

Pemerintah Suriah kini mengambil alih tanggung jawab penuh dalam memerangi terorisme serta menghadapi tantangan keamanan di dalam negeri.

Sebelumnya pada hari yang sama, otoritas pertahanan Suriah mengumumkan bahwa pasukan pemerintah telah mengambil alih Pangkalan Udara Qasrak di Provinsi Hasakah, wilayah timur laut Suriah, setelah ditinggalkan oleh pasukan koalisi pimpinan AS.

Pengambilalihan ini merupakan bagian dari penarikan bertahap pasukan AS. Pada Februari lalu, pasukan Suriah telah lebih dahulu mengambil alih Pangkalan al-Tanf di perbatasan Irak dan Yordania, serta Pangkalan al-Shaddadi di Hasakah. Sementara itu, Pangkalan Rmeilan yang berada dekat perbatasan Irak diserahkan pada pertengahan Maret.

Seorang pejabat Suriah kepada Middle East Eye menyebut bahwa pasukan AS terakhir meninggalkan basis mereka di Hasakah pada Kamis, menandai berakhirnya kehadiran militer AS selama 10 tahun yang bertujuan memerangi kelompok ISIS.

Setelah penarikan tersebut, militer Suriah langsung memasuki pangkalan terakhir yang sebelumnya dikuasai AS, yakni Qasrak, yang juga dilengkapi landasan udara.

Pengamat Suriah, Charles Lister, melalui media sosial menyatakan bahwa pasukan yang mengambil alih pangkalan tersebut adalah Divisi ke-60 tentara Suriah yang sebagian besar terdiri dari pejuang Kurdi yang berafiliasi dengan Pasukan Demokratik Suriah (SDF), mitra lama AS.

Hindari Serangan Iran

Lister juga mengungkapkan bahwa pasukan dan peralatan militer AS ditarik melalui Yordania guna menghindari potensi serangan dari kelompok paramiliter yang didukung Iran di Irak.

Dalam pernyataan terpisah, Kementerian Luar Negeri Suriah menyambut baik proses penyerahan pangkalan militer tersebut.

“Penyelesaian penyerahan ini mencerminkan keberhasilan integrasi SDF ke dalam struktur nasional serta pengambilalihan penuh tanggung jawab negara Suriah dalam memerangi terorisme dan menghadapi ancaman regional di wilayahnya,” ujar kementerian tersebut.

Keputusan AS untuk menarik pasukan terjadi setelah Presiden interim Suriah, Ahmed al-Sharaa, berhasil mengalahkan Bashar al-Assad pada Desember 2024, mengakhiri lebih dari satu dekade perang saudara.

Washington, yang mendukung pemerintahan baru tersebut, sebelumnya menempatkan sekitar 1.000 personel militer di Suriah. Pada awal tahun ini, AS juga memfasilitasi kesepakatan antara SDF dan Damaskus, yang memberikan peran utama kepada pemerintah Suriah dalam memerangi kelompok militan seperti ISIS.

Pasukan AS sendiri telah berada di Suriah sejak 2015 sebagai bagian dari operasi melawan ISIS. (Middle East Eye/Xinhua/B-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Haufan Salengke
Berita Lainnya