PM Spanyol Pedro Sanchez Desak Tiongkok Akhiri Perang Iran dan Ukraina

Wisnu Arto Subari
14/4/2026 06:58
PM Spanyol Pedro Sanchez Desak Tiongkok Akhiri Perang Iran dan Ukraina
Ilustrasi.(Freepik)

PERDANA Menteri Spanyol Pedro Sanchez memulai kunjungannya ke Tiongkok pada Senin (13/4). Ia menyerukan kepada Beijing untuk memanfaatkan pengaruhnya secara internasional dan membantu mengakhiri perang di Iran dan Ukraina.

"Tiongkok dapat berbuat lebih banyak, semisal menuntut, seperti yang sudah dilakukannya, agar hukum internasional ditegakkan dan konflik di Libanon, Iran, Gaza, Tepi Barat, dan Ukraina diakhiri," kata Sánchez dalam pidatonya di Universitas Tsinghua di Beijing.

Tiongkok, yang sedang bersiap untuk menjamu kunjungan Presiden Donald Trump bulan depan, mengutuk serangan AS dan Israel terhadap Iran sebagai tidak dapat diterima. Presiden Xi Jinping, yang dijadwalkan bertemu Sánchez selama kunjungannya, sejauh ini tetap diam mengenai konflik yang melanda sahabat utama Tiongkok tersebut.

Pada Minggu, Trump mengancam akan memblokade Selat Hormuz setelah pembicaraan dengan Iran gagal pada akhir pekan. Perang yang kini memasuki minggu ketujuh telah menaikkan harga minyak dan meningkatkan prospek penderitaan ekonomi lebih lanjut di seluruh dunia.

Spanyol menjadi salah satu negara Eropa yang paling keras menentang operasi militer AS-Israel dan secara terbuka dianggap ilegal oleh Sánchez. Negara ini telah menutup wilayah udaranya untuk penerbangan pesawat tempur AS yang berpartisipasi dalam konflik tersebut dan mencegah Washington menggunakan dua pangkalan militernya di wilayah Spanyol untuk tujuan tersebut.

Spanyol mendesak Tiongkok untuk mengambil peran global yang lebih besar di tengah pergeseran AS. Namun Spanyol juga mengutuk tanggapan Iran terhadap serangan AS dan Israel serta destabilisasi seluruh kawasan. 

Sánchez percaya bahwa Beijing dapat berkontribusi lebih banyak untuk menghentikan konflik di Teluk dan Ukraina dengan menggunakan pengaruh yang masih dimiliki Tiongkok terhadap Iran dan Rusia, dua negara yang memiliki hubungan luas dengannya. "Hukum internasional adalah dasar dari segalanya," kata Sánchez di ibu kota Tiongkok.

Menerima Tiongkok ialah pendekatan yang membawa risiko besar bagi Spanyol. Ini karena kembalinya Trump ke Gedung Putih memicu gejolak, baik dalam hubungan Eropa dengan Washington maupun dalam hubungan AS-Tiongkok.

Tahun lalu, Sánchez melakukan perjalanan ke Beijing beberapa hari setelah tarif AS diberlakukan di hampir setiap negara. Langkah itu dipandang sebagai provokasi di Washington, dengan Menteri Keuangan Scott Bessent menyebutnya sebagai menggorok leher sendiri.

Sejak saat itu, negara-negara Eropa lain melunakkan sikap mereka terhadap Tiongkok. Padahal secara resmi Negeri Panda itu dipandang Uni Eropa sebagai pesaing dan rival sistemik.

Spanyol mencatat defisit perdagangan dengan Tiongkok lebih dari US$36 miliar pada 2025, sementara defisit keseluruhan Uni Eropa mencapai hampir US$364 miliar.

Berbicara di awal kunjungan resminya ke negara tersebut, Sánchez menggunakan bahasa yang lebih keras daripada sebelumnya untuk menggambarkan ketidakseimbangan tersebut. Ia menyebut defisit itu tidak berkelanjutan dan hubungan perdagangan harus seimbang dan timbal balik.

Meskipun tatanan multipolar baru sedang terbentuk, hal itu, "Akan membutuhkan ekonomi yang lebih horizontal dan adil. Tidak ada wilayah yang kalah dan wilayah yang menang," tambahnya. (Bloomberg/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya