Xi Jinping Bahas Unifikasi dengan Pemimpin Oposisi Taiwan

Cahya Mulyana
10/4/2026 18:49
Xi Jinping Bahas Unifikasi dengan Pemimpin Oposisi Taiwan
Presiden Tiongkok Xi Jinping (tengah)(Xinhua)

PRESIDEN Tiongkok Xi Jinping bertemu Ketua Partai Kuomintang (KMT) Taiwan Cheng Li-wun, di Beijing, Jumat (10/4) dengan salah satu materi pembicaraan berupa unifikasi kedua pihak.

"Presiden Xi Jinping menekankan bahwa apa pun perubahan dalam dunia internasional maupun situasi di Selat Taiwan, tren kebangkitan besar bangsa Tiongkok tidak akan berubah, dan arus besar semakin menyatukan hubungan antar masyarakat di kedua sisi Selat juga tidak akan berubah," demikian disebutkan dalam laman media pemerintah Tiongkok yang diakses ANTARA di Beijing, Jumat.

Sebelum bertemu Xi Jinping di Beijing, Cheng juga mengunjungi Shanghai pada 8-9 April 2026 untuk menyaksikan perkembangan teknologi dan industri di kota tersebut.

Pertemuan itu juga menjadi pertemuan pertama pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKC) dan KMT setelah 10 tahun.

"Rakyat di kedua sisi Selat Taiwan sama-sama merupakan bagian dari bangsa Tiongkok. Termasuk masyarakat Taiwan, berbagai kelompok etnis bersama-sama membentuk negara multietnis yang bersatu, bersama-sama menulis sejarah Tiongkok yang gemilang, menciptakan peradaban Tiongkok yang cemerlang, serta membentuk semangat bangsa yang besar," ungkap Xi Jinping.

Atas klaim tersebut, Presiden Xi menyebut ada keyakinan bersama bahwa wilayah tidak boleh terpecah, negara tidak boleh terbelah, bangsa tidak boleh terpisah, dan peradaban tidak boleh terputus.

"Masyarakat di kedua sisi Selat mengharapkan perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan, perbaikan dan perkembangan hubungan lintas Selat, serta kehidupan yang lebih baik. Ini merupakan tanggung jawab yang tidak dapat dihindari oleh kedua partai, sekaligus menjadi pendorong kerja sama bersama," tambah Xi Jinping.

Pemerintah Tiongkok, kata Presiden Xi, berpegang pada "Konsensus 1992" dan menentang "kemerdekaan Taiwan".

"Bersama berbagai partai politik, kelompok, dan tokoh masyarakat Taiwan, termasuk Kuomintang, kami ingin memperkuat pertukaran dan dialog, demi mewujudkan perdamaian lintas Selat, kesejahteraan masyarakat, dan kebangkitan bangsa, serta memastikan masa depan hubungan lintas Selat berada di tangan rakyat Tiongkok sendiri," jelas Xi Jinping.

Konsensus 1992 adalah kesepahaman antara KMT yang berkuasa saat itu dan PKC tentang prinsip "Satu Tiongkok" sambil tetap memberikan ruang untuk interpretasi yang berbeda. Sedangkan Partai berkuasa Taiwan saat ini, Partai Progresif Demokratik (DPP), secara konsisten menolak Konsensus 1992, dengan alasan bahwa hal itu merusak kedaulatan Taiwan.

KMT diketahui secara tradisional mempertahankan hubungan yang hangat dengan Tiongkok. Presiden Xi Jinping dalam pertemuan itu juga mengemukakan empat hal mengenai hubungan lintas selat.

"Pertama, berpegang pada identitas yang benar untuk mempererat kesatuan. Masyarakat di kedua sisi Selat memiliki akar yang sama, budaya yang sama, serta hubungan darah yang erat, dan merupakan komunitas dengan masa depan bersama," ungkap Xi Jinping. Perbedaan sistem sosial, tambah Xi, bukanlah alasan untuk memecah belah.

"Kedua partai serta masyarakat di kedua sisi Selat harus berpegang pada posisi nasional, mewarisi dan mengembangkan budaya Tiongkok, serta memperkuat identitas terhadap bangsa, budaya, dan negara, sehingga menumbuhkan rasa percaya diri dan kebanggaan sebagai orang Tiongkok," tambah Xi Jinping.

Kedua, berpegang pada pembangunan damai untuk menjaga rumah bersama. "Masyarakat di kedua sisi Selat harus menjaga dan membangun rumah bersama ini, yang pada dasarnya terletak pada berpegang pada 'Konsensus 1992' dan menentang 'kemerdekaan Taiwan', dengan inti pengakuan bahwa kedua sisi Selat termasuk dalam satu Tiongkok," ungkap Xi.

Presiden Xi menyebut "Kemerdekaan Taiwan" disebut sebagai penyebab utama yang merusak perdamaian di Selat Taiwan, dan tidak akan ditoleransi.

"Ketiga, berpegang pada dialog dan integrasi untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Pemerintah Tiongkok akan terus berpegang pada prinsip 'satu keluarga lintas Selat' dan secara aktif memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Taiwan," kata Xi.

Daratan Tiongkok, sebut Xi, memiliki alam yang indah dan pasar yang luas, dan menyambut masyarakat Taiwan untuk sering berkunjung, mendorong generasi muda Taiwan untuk datang dan berkembang di Tiongkok daratan, serta membuka pasar bagi produk pertanian, perikanan, dan barang berkualitas dari Taiwan.

"Keempat, berpegang pada persatuan dan perjuangan untuk mewujudkan kebangkitan besar bangsa Tiongkok. Akan semakin banyak masyarakat Taiwan yang memahami sistem sosial dan jalur pembangunan daratan, serta menyadari bahwa masa depan Taiwan terkait dengan kebangkitan bangsa Tiongkok," ungkap Xi.

Sedangkan Cheng Li-wun menyatakan bahwa masyarakat di kedua sisi Selat sama-sama merupakan keturunan dan bagian dari bangsa Tiongkok, yang dipengaruhi oleh budaya yang sama serta merupakan satu keluarga.

"Karena itu, kedua pihak seharusnya bekerja sama dan harus berpegang pada 'Konsensus 1992' dan menentang 'kemerdekaan Taiwan', memperkuat kepercayaan politik, memanfaatkan media komunikasi, menjaga sejarah dan budaya Tiongkok, serta mendorong kerja sama di berbagai bidang dan mendorong pembangunan damai hubungan lintas Selat," kata Chen dalam pemberitaan tersebut.

Kunjungan tersebut juga mendahului pemilihan lokal di Taiwan yang akan berlangsung pada akhir tahun ini dan dinilai dapat memengaruhi pemilihan presiden berikutnya pada 2028.

Cheng Li-wun sendiri adalah mantan pembawa acara talk show dan mantan anggota DPP. Ia terpilih sebagai ketua KMT pada akhir 2025 dimana KMT saat ini memegang kursi mayoritas di parlemen Taiwan.

Kunjungan Cheng terjadi beberapa bulan setelah KMT memblokir anggaran pertahanan sebesar 57 miliar dolar AS yang akan memungkinkan Taipei membeli senjata AS untuk mempertahankan diri dari invasi apa pun oleh Tiongkok. KMT tidak mendukung paket tersebut karena berpendapat Taiwan tidak mampu membiayainya.

Pemerintah Tiongkok sendiri menggambarkan pemimpin Taiwan saat ini Lai Ching-te sebagai "separatis" yang menginginkan "kemerdekaan Taiwan". (Ant/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya