Kebuntuan Perundingan Iran dan Amerika Serikat, Bagaimana Masa Depan Damai Timur Tengah?

Khoerun Nadif Rahmat
12/4/2026 19:30
Kebuntuan Perundingan Iran dan Amerika Serikat, Bagaimana Masa Depan Damai Timur Tengah?
Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance(Andrew Harnik / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

HARAPAN untuk mengakhiri kecamuk perang di Timur Tengah menemui jalan buntu setelah perundingan Iran dan Amerika Serikat (AS) di Islamabad gagal membuahkan kesepakatan pada Minggu (12/4). Meski demikian, kawasan tersebut masih menggantungkan asa pada gencatan senjata yang saat ini masih bertahan tanpa adanya tanda-tanda kembalinya permusuhan secara langsung.

Wakil Presiden AS JD Vance langsung bertolak meninggalkan Pakistan usai pertemuan tingkat tinggi pertama sejak Revolusi Islam 1979 tersebut berakhir.

Vance melontarkan peringatan keras bahwa Washington telah memberikan penawaran terakhir dan terbaik kepada Teheran.

"Kami pergi dari sini dengan proposal yang sangat sederhana. Kita akan lihat apakah Iran menerimanya," tegas Vance dikutip dari AFP.

Di sisi lain, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan bahwa tim perundingnya telah mengajukan inisiatif konstruktif. Namun, ia menilai pihak lawan gagal membangun kepercayaan selama putaran negosiasi tersebut.

"Pihak lain tidak mampu mendapatkan kepercayaan dari delegasi Iran dalam putaran perundingan kali ini," ujar Ghalibaf.

Kegagalan ini memicu kekhawatiran global akan kembalinya pertempuran yang dapat melambungkan harga energi dunia serta merusak infrastruktur minyak dan gas di Teluk.

Namun, secercah harapan muncul saat Kementerian Energi Arab Saudi mengumumkan bahwa pipa minyak utama timur-barat telah kembali beroperasi. Qatar juga mulai mencabut beberapa pembatasan pelayaran di Teluk.

Pakistan, sebagai fasilitator pertemuan, mendesak kedua belah pihak untuk tetap menghormati gencatan senjata sementara.

Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar menekankan pentingnya komitmen para pihak untuk menjaga stabilitas demi menghindari eskalasi lebih lanjut.

Dikutip dari Axios, titik buntu perundingan terletak pada tuntutan Iran untuk mengendalikan Selat Hormuz dan penolakan Teheran untuk menyerahkan cadangan uranium yang diperkaya.

Ketegangan semakin terasa ketika media Iran menuduh AS mengajukan "tuntutan berlebihan" terkait jalur maritim vital yang mengangkut seperlima minyak dunia tersebut.

Di tengah proses diplomasi, Presiden AS Donald Trump justru menunjukkan sikap skeptis. Ia mengklaim Washington telah berada di posisi pemenang setelah serangan terhadap infrastruktur militer dan pemimpin Iran. 

"Apakah kita membuat kesepakatan atau tidak, itu tidak ada bedanya bagi saya. Alasannya adalah karena kita menang," cetus Trump.

Situasi semakin pelik karena Israel menegaskan bahwa gencatan senjata ini tidak berlaku untuk Libanon. Serangan Israel di Lebanon selatan dilaporkan telah menewaskan 18 orang pada Sabtu, sehingga total korban jiwa melampaui 2.000 orang sejak perang pecah.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan keinginannya untuk kesepakatan damai dengan Libanon yang "akan bertahan selama beberapa generasi," meski tetap menolak gencatan senjata dengan Hizbullah.

Sementara itu, militer AS mulai mengerahkan kapal penyapu ranjau di Selat Hormuz untuk memastikan jalur aman bagi kapal tanker.

Langkah itu langsung dibantah dan ditanggangpi dingin oleh Komando Angkatan Laut Garda Revolusi Iran yang menyatakan bahwa jaminan keamanan selama gencatan senjata hanya berlaku bagi kapal sipil dengan syarat-syarat tertentu. (H-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya