Negosiasi AS-Iran Berlanjut, Islamabad Jadi Lokasi Utama

Dhika Kusuma Winata
15/4/2026 16:33
Negosiasi AS-Iran Berlanjut, Islamabad Jadi Lokasi Utama
Hotel Serena, di Islamabad, Pakistan, tempat negosiasi AS-Iran jilid I beberapa waktu lalu.(Aljazeera)

PRESIDEN Donald Trump menyatakan bahwa pembicaraan lanjutan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berpotensi segera digelar, dengan Islamabad menguat sebagai lokasi utama di tengah perbedaan tajam terkait isu pengayaan uranium.

Dalam wawancara melalui telepon, Trump mengungkapkan bahwa proses negosiasi masih berjalan, meskipun belum menunjukkan perkembangan signifikan. Ia sempat menyebut bahwa putaran kedua perundingan untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung tujuh minggu itu kemungkinan digelar di Eropa.

Namun, dalam pembaruan pernyataannya, Trump mengisyaratkan bahwa Pakistan menjadi opsi paling realistis untuk melanjutkan dialog.

"Sebaiknya Anda tetap di sana, karena sesuatu mungkin akan terjadi dalam dua hari ke depan, dan kami lebih cenderung pergi ke sana," katanya dikutip New York Post, Rabu (15/4).

"Kemungkinan besar, tahukah Anda mengapa? Karena Marsekal Lapangan melakukan pekerjaan yang hebat," lanjutnya.

Trump merujuk pada Asim Munir, Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan yang dinilainya berperan penting dalam meredakan konflik sebelumnya di kawasan. Ia bahkan memberikan pujian secara terbuka.

"Dia fantastis, dan karena itu kemungkinan besar kita akan kembali ke sana," ucap Trump.

"Mengapa kita harus pergi ke negara yang tidak ada hubungannya dengan ini?," tambahnya.

"Saya hanya berpikir dia adalah orang yang hebat, orang itu. Marsekal lapangan. Anda tahu, dia mengakhiri perang dengan India, menyelamatkan 30 juta orang," papar Trump.

Meski demikian, Trump tidak mengungkapkan siapa yang akan mewakili AS dalam perundingan tersebut, namun memastikan dirinya tidak akan hadir secara langsung.

Di sisi lain, Trump juga menyoroti ketidakpuasannya terhadap usulan penghentian sementara program pengayaan uranium Iran selama 20 tahun yang sempat muncul dalam pembicaraan sebelumnya.

"Saya sudah mengatakan bahwa mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir, jadi saya tidak menyukai moratorium 20 tahun itu," jelasnya.

"Saya tidak ingin mereka (Iran) merasa seperti mereka telah menang," tegas Trump saat menanggapi kemungkinan kompromi tersebut.

Pandangan Trump mendapat dukungan dari Andrea Stricker, yang menilai solusi sementara berisiko tinggi.

"Bahkan penangguhan pengayaan selama dua dekade akan menimbulkan tantangan verifikasi yang signifikan dan meningkatkan risiko kecurangan Iran," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa hanya pelucutan total yang dapat menjamin keamanan jangka panjang.

"Hanya pelucutan senjata nuklir Iran yang penuh, terverifikasi, dan permanen, yang dilakukan selama Trump menjabat, yang dapat memastikan rezim tersebut tidak akan memulihkan opsi senjata nuklir," ungkapnya.

Menurutnya, sikap Trump dapat memperkuat posisi negosiator AS untuk kembali pada tuntutan utama, yakni pelarangan permanen pengayaan uranium Iran.

Sementara itu, dari pihak Pakistan, Letnan Jenderal purnawirawan Muhammad Saeed menilai Iran menunjukkan fleksibilitas dalam isu tersebut, meskipun dengan sejumlah syarat.

"Iran harus mampu memberikan sesuatu kepada rakyatnya yang tidak terlihat seperti penyerahan diri," tegasnya.

Berbeda dengan pandangan tersebut, akademisi Iran Mohammad Marandi yang turut mendampingi delegasi Teheran menegaskan bahwa tekanan eksternal tidak akan mengubah sikap negaranya.

"Blokade tidak akan mengubah posisi Iran," pungkasnya, seraya menegaskan bahwa penghentian pengayaan uranium bukanlah opsi yang dapat diterima oleh Iran. (Fer/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya