Perundingan Iran dan Amerika Gagal, Ancaman Krisis Energi Global Kian Nyata?

Naufal Zuhdi
12/4/2026 18:40
Perundingan Iran dan Amerika Gagal, Ancaman Krisis Energi Global Kian Nyata?
Gambar satelit yang disediakan oleh Maxar Technologies ini memperlihatkan Pabrik Pengayaan Bahan Bakar Fordow di Iran tengah pada 14 Juni 2025. Operasi yang dilancarkan Israel pada dini hari 13 Juni 2025 itu menargetkan sistem pertahanan udara Iran dan me(Maxar Technologies / AFP)

KEGAGALAN perundingan Iran dan Amerika Serikat di Islamabad dinilai berpotensi memperparah ketidakpastian pasokan yang berujung pada krisis energi global. Kondisi ini dikhawatirkan akan menjaga harga energi dunia tetap tinggi dalam jangka waktu yang belum dapat dipastikan.

Praktisi minyak dan gas sekaligus Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI), Hadi Ismoyo, menyatakan bahwa kegagalan negosiasi tersebut menimbulkan risiko serius terhadap stabilitas energi global.

“Dampak kegagalan perundingan ini, dunia menghadapi kembali ketidakpastian pasokan energi yang lebih serius kedepannya. Itu artinya harga minyak dunia termasuk di dalamnya adalah BBM dan LPG akan remaining high (tetap tinggi). Sehingga dunia harus menahan napas untuk sementara waktu menghadapi krisis energi,” ucap dia saat dihubungi, Minggu (12/4).

Ia menambahkan, ketidakpastian ini diperburuk dengan kebijakan Iran yang masih menerapkan skema selected pass through, sehingga distribusi energi global tidak berjalan optimal.

“Karena perundingan gagal dan Iran masih menerapkan selected pass through, maka pasokan energi dunia akan terus mengalami gangguan. Kelangkaan Crude, BBM dan LPG akan membayangi dunia dan tidak tahu pasti kapan akan berakhir,” lanjutnya.

Menurut Hadi, gangguan pasokan tersebut berpotensi memicu tekanan lanjutan terhadap harga energi, baik minyak mentah maupun produk turunannya seperti bahan bakar minyak (BBM) dan liquefied petroleum gas (LPG). 

Gagalnya perundingan Iran dan Amerika, sambung dia,  berisiko menekan daya beli masyarakat serta meningkatkan biaya produksi di berbagai sektor industri. (H-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya