Saling Tuding, Mentahkan Perundingan Iran dan Amerika di Islamabad

Khoerun Nadif Rahmat
12/4/2026 17:12
Saling Tuding, Mentahkan Perundingan Iran dan Amerika di Islamabad
Pimpinan Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf yang memimpin delegasi perundingan Iran dengan Amerika Serikat( ATTA KENARE / AFP)

KEGAGALAN perundingan Iran dan Amerika Serikat di Islamabad dipicu oleh saling tuding, dengan Teheran menilai Washington tidak dapat dipercaya dan terlalu memaksakan syarat, sementara AS menuntut komitmen tegas terkait program nuklir Iran.

Perundingan maraton selama 21 jam di Pakistan tersebut berakhir tanpa kesepakatan untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan bahwa delegasi Teheran telah mengajukan sejumlah inisiatif konstruktif, namun Washington gagal membangun kepercayaan. 

"Rekan-rekan saya dalam delegasi Iran mengajukan inisiatif konstruktif tetapi pada akhirnya pihak lain tidak mampu mendapatkan kepercayaan dari delegasi Iran dalam putaran negosiasi ini," tulis Ghalibaf di platform X sebagaimana dikutip dari AFP.

Senada, mantan Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menilai kegagalan perundingan disebabkan oleh upaya Amerika Serikat untuk mendikte syarat.

"Tidak ada negosiasi setidaknya dengan Iran yang akan berhasil berdasarkan 'syarat kami atau syarat kalian'," ujar Zarif.

Dari pihak Amerika Serikat, Wakil Presiden JD Vance meninggalkan Islamabad setelah menyampaikan apa yang disebutnya sebagai "penawaran final dan terbaik" kepada Iran. Ia menegaskan bahwa Washington menuntut komitmen tegas dari Teheran.

"Fakta sederhananya adalah kami perlu melihat komitmen yang jelas bahwa mereka tidak akan mengupayakan senjata nuklir dan tidak akan mencari sarana yang memungkinkan mereka dengan cepat mencapainya," kata Vance.

Media pemerintah Iran, IRIB, menyebut kegagalan perundingan dipicu oleh tuntutan yang tidak masuk akal dari pihak Amerika Serikat. 

"Delegasi Iran bernegosiasi secara terus menerus dan intensif selama 21 jam untuk melindungi kepentingan nasional rakyat Iran; meskipun berbagai inisiatif dari delegasi Iran, tuntutan tidak masuk akal dari pihak Amerika Serikat menghalangi kemajuan negosiasi. Dengan demikian perundingan berakhir," demikian laporan IRIB.

Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei juga menekankan bahwa keberhasilan diplomasi bergantung pada sikap Washington.

"Keberhasilan proses diplomatik ini bergantung pada keseriusan dan itikad baik pihak lawan, menahan diri dari tuntutan berlebihan dan permintaan yang melanggar hukum, serta menerima hak dan kepentingan sah Iran," tulisnya di X.

Meski demikian, Baqaei menilai tidak realistis mengharapkan kesepakatan dalam satu putaran perundingan.

"Secara alami sejak awal kita seharusnya tidak mengharapkan untuk mencapai kesepakatan dalam satu sesi. Tidak ada yang memiliki harapan seperti itu," ujarnya.

Sejumlah negara turut menyayangkan mandeknya perundingan tersebut. Menteri Kesehatan Inggris Wes Streeting mengatakan bahwa kegagalan mencapai terobosan merupakan hal yang mengecewakan.

"Jelas mengecewakan bahwa kita belum melihat terobosan dalam negosiasi dan berakhirnya perang di Iran secara berkelanjutan," ujarnya kepada Sky News.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong juga menegaskan pentingnya melanjutkan gencatan senjata.

"Prioritas sekarang harus melanjutkan gencatan senjata dan kembali ke meja perundingan," katanya.

Dari tuan rumah, Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar mendesak kedua pihak untuk tetap berkomitmen pada gencatan senjata.

"Sangat penting bahwa para pihak terus menjunjung komitmen mereka terhadap gencatan senjata," ujarnya.

Di sisi lain, Arab Saudi melaporkan bahwa fasilitas energi utama mereka telah kembali beroperasi setelah sebelumnya diserang Iran.

Kementerian Energi Saudi menyebut serangan tersebut menyebabkan "kehilangan sekitar 700.000 barel per hari kapasitas pemompaan melalui pipa timur barat", dan proses pemulihan penuh masih berlangsung di ladang minyak Khurais. (H-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya