Tawaran Terakhir AS Ditolak Iran, Perundingan di Pakistan Gagal

Khoerun Nadif Rahmat
12/4/2026 11:30
Tawaran Terakhir AS Ditolak Iran, Perundingan di Pakistan Gagal
Wakil Presiden AS, JD Vance, menegaskan bahwa AS menginginkan komitmen mendasar dari Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.(Dok. CNN)

PERUNDINGAN tingkat tinggi antara Amerika Serikat dan Iran berakhir tanpa kesepakatan setelah berlangsung selama 21 jam di Islamabad, Pakistan, pada Minggu (12/4) waktu setempat.

Wakil Presiden AS, JD Vance, menyatakan bahwa Washington telah mengajukan proposal terakhir kepada Teheran terkait penghentian konflik.

"Kami meninggalkan tempat ini dengan proposal yang sangat sederhana, sebuah metode pemahaman yang merupakan tawaran terbaik dan terakhir kami. Kita akan lihat apakah pihak Iran menerimanya," ujar Vance kepada wartawan.

Vance menegaskan bahwa AS menginginkan komitmen mendasar dari Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir. Namun, ia mengakui belum melihat adanya komitmen tersebut.

"Kami belum melihat itu," katanya.

Meski demikian, Vance menyatakan masih memberi waktu bagi Iran untuk mempertimbangkan tawaran tersebut. Sebelumnya, Washington pada Selasa (8/4) mengumumkan jeda serangan bersama Israel selama dua pekan untuk membuka ruang negosiasi.

Konflik meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari, yang memicu balasan dari Teheran dan mengguncang stabilitas kawasan serta ekonomi global.

Dalam perundingan yang dimediasi Pakistan, kedua pihak datang dengan posisi keras. Amerika Serikat juga meningkatkan tekanan dengan mengirim kapal penyapu ranjau ke Selat Hormuz, jalur vital bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Ketegangan terlihat ketika media Iran menuduh Washington mengajukan "tuntutan berlebihan" terkait Selat Hormuz. Iran kemudian merespons dengan mengendalikan jalur tersebut, yang mendorong lonjakan harga minyak dunia.

Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak terlalu peduli dengan hasil perundingan tersebut. Ia mengklaim Amerika Serikat telah meraih kemenangan di medan perang.

"Apakah kita mencapai kesepakatan atau tidak, itu tidak membuat perbedaan bagi saya. Alasannya karena kita telah menang," ujar Trump.

Ia juga menyebut keberhasilan operasi militer dengan menewaskan para pemimpin Iran dan menghancurkan infrastruktur militer utama.

Delegasi Iran yang berjumlah sekitar 70 orang dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dan turut dihadiri Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi. Sementara itu, tim AS turut melibatkan Jared Kushner dan Steve Witkoff.

Iran sebelumnya menuntut pencabutan pembekuan aset serta penghentian perang Israel melawan Hizbullah di Lebanon sebagai bagian dari kesepakatan. Namun, Vance menegaskan isu tersebut tidak akan dibahas dalam perundingan di Islamabad.

Di sisi lain, militer AS menyatakan dua kapal angkatan laut telah melintasi Selat Hormuz untuk memastikan jalur tersebut aman bagi kapal tanker. Namun, Iran membantah klaim tersebut dan memperingatkan akan merespons keras jika kapal militer asing memasuki wilayah itu.

"Setiap upaya kapal militer untuk melintasi Selat Hormuz akan ditanggapi dengan tegas," demikian pernyataan Komando Angkatan Laut Garda Revolusi Iran melalui media pemerintah IRIB.

Pernyataan itu juga menegaskan bahwa jaminan keamanan selama gencatan senjata dua pekan hanya berlaku bagi kapal sipil dengan kondisi tertentu.

Ghalibaf menyampaikan sikap skeptis Iran terhadap Amerika Serikat.

"Pengalaman kami dalam bernegosiasi dengan Amerika selalu berakhir dengan kegagalan dan janji yang dilanggar," ujarnya.

Sebelumnya, Vance menyatakan AS tetap membuka peluang dialog jika Iran menunjukkan itikad baik.

"Jika mereka bersedia bernegosiasi dengan itikad baik, kami tentu siap mengulurkan tangan," katanya.

"Namun kami tidak akan menerima jika mereka mencoba mempermainkan kami," tambahnya.

Di tengah situasi tersebut, Israel menegaskan gencatan senjata tidak mencakup operasinya di Lebanon. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan menginginkan kesepakatan damai dengan Lebanon yang "akan bertahan selama beberapa generasi".

Namun, Israel tetap menolak gencatan senjata dengan Hizbullah dan memilih menekan pemerintah Lebanon.

Sementara itu, otoritas Lebanon melaporkan serangan Israel di wilayah selatan pada Sabtu (11/4) menewaskan 18 orang, sehingga total korban jiwa sejak konflik berlangsung melampaui 2.000 orang.

Meski Israel mengklaim telah "menghancurkan" program nuklir dan rudal balistik Iran, Teheran berulang kali membantah mengembangkan senjata nuklir. Badan pengawas nuklir PBB juga menyatakan tidak ada ancaman langsung dari program nuklir Iran.

Seorang warga Teheran berusia 30 tahun menyatakan keraguannya terhadap hasil perundingan.

"Saya menganggap sebagian besar yang dikatakan Trump hanyalah omong kosong dan tidak masuk akal," ujarnya. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya