Menlu Iran Abbas Araghchi Beri Ultimatum AS: Gencatan Senjata atau Perang

Media Indonesia
09/4/2026 07:50
Menlu Iran Abbas Araghchi Beri Ultimatum AS: Gencatan Senjata atau Perang
Abbas Araghchi.(Al Jazeera)

PEMERINTAH Iran memberikan peringatan keras kepada Amerika Serikat (AS) untuk segera menentukan sikap di tengah eskalasi konflik Timur Tengah. Teheran menegaskan bahwa Washington harus memilih antara mendukung gencatan senjata atau melanjutkan perang melalui proksinya, Israel.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa posisi Iran saat ini sangat tegas dan tidak dapat ditawar. "Syarat-syarat gencatan senjata Iran-AS jelas dan eksplisit. Amerika harus memilih antara gencatan senjata atau perang berkelanjutan melalui Israel. AS tidak dapat memiliki keduanya," tulis Araghchi melalui platform X pada Rabu (8/4).

Krisis Kemanusiaan di Libanon

Araghchi juga menyoroti situasi kritis di Libanon yang terus menjadi sasaran agresi militer. Ia menegaskan bahwa dunia internasional tengah menyaksikan pembantaian yang terjadi di wilayah tersebut. "Bola ada di tangan Amerika dan dunia sedang mengamati apakah AS akan bertindak sesuai komitmennya," tambahnya.

Pernyataan Menlu Iran ini diperkuat oleh laporan kantor berita semi-resmi Tasnim. Mengutip sumber terpercaya, Teheran mengancam akan menarik diri dari kesepakatan gencatan senjata dengan AS jika Israel terus melanggar komitmen melalui serangan udara dan darat terhadap Libanon.

Eskalasi Serangan Israel

Di sisi lain, militer Israel mengonfirmasi telah melancarkan serangan terkoordinasi terbesar sejak dimulai operasi terbaru di Libanon. Tentara Israel mengeklaim telah menyerang lebih dari 100 lokasi strategis hanya dalam waktu 10 menit di berbagai wilayah, termasuk:

  • Beirut
  • Lembah Beqaa
  • Libanon Selatan

Agresi ini tetap berlangsung meskipun gencatan senjata secara teknis telah berlaku sejak November 2024. Israel tercatat telah menyerang Iran sejak 28 Februari lalu serta melancarkan serangan darat di Libanon selatan sejak awal Maret 2026.

Diplomasi di Bawah Tekanan

Ketegangan ini terjadi hanya beberapa hari setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan dengan Iran pada Selasa (7/4). Pengumuman tersebut merupakan hasil mediasi Pakistan ketika Teheran mengajukan proposal 10 poin sebagai dasar negosiasi.

Namun, pengumuman Trump tersebut disampaikan di bawah bayang-bayang ancaman. Sebelumnya, Trump menetapkan tenggat waktu bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan bernegosiasi dengan peringatan keras bahwa Teheran akan menghadapi kehancuran seluruh peradaban jika menolak.

Kini, dialog di Islamabad yang dijadwalkan pada Jumat mendatang berada di ujung tanduk, bergantung pada kemampuan Washington untuk meredam aksi militer Israel di Libanon guna menjaga stabilitas pasokan energi global yang berdampak pada ekonomi dunia.

Peringatan Strategis: Ancaman Iran untuk menarik diri dari kesepakatan dapat memicu penutupan kembali Selat Hormuz, yang secara otomatis akan melambungkan harga minyak dunia dan memperburuk krisis energi global. (Anadolu/Ant/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya