Warga Iran Bentuk Perisai Manusia di Pembangkit ListrikTanggapi Ancaman Trump

Ferdian Ananda Majni
08/4/2026 10:36
Warga Iran Bentuk Perisai Manusia di Pembangkit ListrikTanggapi Ancaman Trump
Sinagog di Iran hancur akibat serangan Israel.(Al Jazeera)

SEJUMLAH warga Iran membentuk perisai manusia di sekitar fasilitas pembangkit listrik sebagai respons atas ancaman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait eskalasi konflik yang tengah berlangsung.

Laporan dari kantor berita Fars, yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Iran, menampilkan rekaman video di media sosial yang memperlihatkan ratusan warga berkumpul di depan pembangkit listrik siklus gabungan di Kazerun. 

Dalam unggahan tersebut, aksi itu disebut sebagai rantai manusia di depan pembangkit listrik siklus gabungan Kazerun.

Video yang kemudian diverifikasi oleh CBS News Confirmed menunjukkan warga sipil berdiri berjejer di sekitar fasilitas tersebut. 

Aksi itu disebut sebagai respons atas seruan seorang pejabat Iran yang meminta masyarakat untuk bertindak sebagai pelindung fasilitas vital negara. Dalam rekaman tersebut, sebagian warga terlihat membawa dan mengibarkan bendera Iran di lokasi.

Pembangkit listrik Kazerun diketahui merupakan fasilitas berbahan bakar gas alam yang terletak di Provinsi Fars, Iran bagian barat daya, tidak jauh dari kawasan Teluk Persia.

Ketegangan di kawasan meningkat sejak pecahnya konflik antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026. 

Berdasarkan laporan Al Jazeera, jumlah korban tewas di Iran akibat serangan gabungan AS-Israel telah mencapai sedikitnya 2.076 orang hingga saat ini.

Iran kemudian melancarkan serangan balasan yang menargetkan wilayah Israel serta fasilitas militer AS di sejumlah negara Teluk. 

Dalam serangan tersebut, dilaporkan 13 personel militer AS tewas dan sekitar 200 lainnya mengalami luka-luka.

Sementara itu, di pihak Israel tercatat 26 korban jiwa dan lebih dari 7.000 orang terluka. Korban juga dilaporkan jatuh di beberapa negara lain yang terdampak konflik.

Selain aksi militer langsung, Iran turut menutup Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan minyak dunia, yang berdampak pada lonjakan harga energi global.

Menanggapi situasi tersebut, Trump meminta dukungan negara-negara lain untuk membantu membuka kembali Selat Hormuz, meskipun ia mengklaim bahwa kekuatan militer Iran telah dilemahkan. Namun, permintaan tersebut tidak mendapat respons positif dari sekutu-sekutu AS.

Trump kemudian mengeluarkan ultimatum kepada Iran untuk menyetujui gencatan senjata atau menghadapi serangan besar-besaran yang akan menyasar pembangkit listrik dan infrastruktur vital lain. 

Ia juga menuntut Iran menghentikan program nuklirnya serta membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Batas waktu yang ditetapkan Trump jatuh pada Selasa (7/4) pukul 20.00 waktu AS bagian Timur, yang bertepatan dengan Rabu (8/4) dini hari sekitar pukul 03.30 waktu Iran. (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya