Harapan Gencatan Senjata AS-Iran Menipis, Trump: Masih Belum Cukup

Thalatie K Yani
07/4/2026 06:22
Harapan Gencatan Senjata AS-Iran Menipis, Trump: Masih Belum Cukup
Presiden AS Donald Trump(White House)

UPAYA diplomatik untuk mengakhiri perang di Timur Tengah melalui proposal gencatan senjata 45 hari kini berada di ambang kegagalan. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menegaskan draf perdamaian yang diajukan mediator internasional saat ini "masih belum cukup" untuk menghentikan operasi militer terhadap Iran.

Dalam konferensi pers di Washington pada Senin waktu setempat, Trump mengakui proposal yang dimediasi Pakistan, Mesir, dan Turki tersebut merupakan "usulan yang signifikan." Namun, ia menuntut syarat yang lebih berat, termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz bagi pelayaran internasional paling lambat Selasa tengah malam GMT.

Jika tuntutan itu diabaikan, Trump mengancam akan meluncurkan serangan dahsyat yang menyasar infrastruktur sipil Iran.

"Kami memiliki rencana, karena kekuatan militer kami, di mana setiap jembatan di Iran akan hancur besok malam jam 12, di mana setiap pembangkit listrik di Iran akan berhenti beroperasi, terbakar, meledak, dan tidak akan pernah bisa digunakan lagi," tegas Trump.

Ia menambahkan dengan nada mengancam, "Maksud saya penghancuran total pada jam 12 malam, dan itu akan terjadi dalam periode empat jam, jika kami menginginkannya."

Saling Tolak di Tengah Perang

Sikap keras tidak hanya datang dari Washington. Pihak Teheran melalui media pemerintah menyatakan telah menolak draf gencatan senjata tersebut. Pejabat Iran menegaskan bahwa mereka hanya akan menerima kesepakatan yang membawa "pengakhiran konflik secara definitif." Militer Iran pun bersumpah akan terus berperang selama otoritas politik menganggapnya perlu.

Di saat negosiator masih berdiskusi, pertempuran di lapangan justru semakin intensif. Serangan udara gabungan AS-Israel dilaporkan telah menghantam fasilitas petrokimia terbesar Iran di Asaluyeh dan Shiraz. Israel juga mengonfirmasi tewasnya Asghar Bagheri, komandan unit operasi khusus Pasukan Quds, serta kepala intelijen Garda Revolusi Iran, Majid Khademi.

"Kami akan menjangkau siapa pun yang berusaha mencelakai kami," ujar Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.

Dampak Ekonomi ke Indonesia

Perang yang meletus sejak akhir Februari ini telah melumpuhkan ekonomi dunia akibat blokade Selat Hormuz. Dampak nyata mulai dirasakan di Indonesia, di mana pemerintah mengumumkan kenaikan biaya tambahan bahan bakar jet (jet fuel surcharge). Maskapai berbiaya rendah seperti Air Asia X bahkan telah mengumumkan kenaikan harga tiket hingga 40 persen sebagai dampak lonjakan harga minyak dunia.

Dunia kini menanti apakah para mediator mampu memperbaiki proposal gencatan senjata sebelum tenggat waktu tengah malam berakhir, atau kawasan Timur Tengah akan terjerumus ke dalam penghancuran infrastruktur sipil yang lebih luas. (AFP/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya