Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PRESIDEN Amerika Serikat, Donald Trump, kembali memicu ketegangan di internal NATO. Kali ini, ia menyiratkan kegagalan mengamankan Selat Hormuz akan berdampak buruk bagi masa depan aliansi pertahanan tersebut. Pernyataan ini sontak memicu reaksi keras dari para sekutu Washington yang menilai Trump telah melampaui batas mandat NATO.
Mantan Kepala Staf Pertahanan Inggris, Jenderal Sir Nick Carter, menegaskan NATO bukanlah alat untuk melegitimasi perang pilihan salah satu anggota.
"NATO dibentuk sebagai... aliansi pertahanan. Ini bukan aliansi yang dirancang agar salah satu sekutu melakukan perang pilihan dan kemudian mewajibkan semua orang untuk mengikuti. Saya tidak yakin itu jenis NATO yang ingin kita ikuti," ujar Carter kepada BBC.
Reaksi paling tajam datang dari Berlin. Juru bicara pemerintah Jerman menyatakan ketegangan dengan Iran sama sekali tidak ada hubungannya dengan NATO. Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius, bahkan mempertanyakan efektivitas pengiriman armada kecil Eropa ke wilayah tersebut.
"Apa yang Trump harapkan dari segelintir kapal fregat Eropa yang tidak bisa dilakukan oleh angkatan laut AS yang perkasa?" tanya Pistorius sinis. "Ini bukan perang kami. Kami tidak memulainya."
Kekhawatiran ini beralasan. Iran diketahui memiliki kemampuan asimetris di Selat Hormuz, mulai dari kapal cepat bersenjata, drone bunuh diri, hingga sistem rudal pesisir. Foto terbaru dari kantor berita Fars bahkan menunjukkan ratusan kapal dan drone yang tersimpan di terowongan bawah tanah, menandakan kesiapan Teheran menghadapi konflik jangka panjang.
Di tengah kebuntuan diplomatik, masalah teknis yang krusial muncul, ancaman ranjau laut. Trump sempat meremehkan upaya pembukaan jalur Selat Hormuz sebagai "upaya kecil", namun sejarah berkata lain. Operasi pembersihan ranjau besar terakhir pada 1991 memakan waktu hingga 51 hari.
Inggris saat ini berada dalam posisi sulit karena tidak memiliki kapal pemburu ranjau aktif di wilayah tersebut. Sebagai gantinya, Angkatan Laut Inggris berencana menawarkan drone laut yang belum teruji dalam pertempuran nyata.
"Kita mungkin akan mengetahui dalam beberapa minggu ke depan apakah teknologi ini berhasil atau tidak," ungkap Tom Sharpe, mantan komandan Angkatan Laut Inggris.
Perdana Menteri Inggris, Sir Keir Starmer, menyatakan pembicaraan untuk menyusun "rencana yang layak" terus dilakukan bersama mitra AS, Eropa, dan Teluk. Namun, ia menekankan Inggris belum sampai pada tahap pengambilan keputusan.
Starmer menegaskan setiap personel militer yang dikirim harus memiliki jaminan keamanan dan landasan hukum yang jelas.
"Setidaknya mereka berhak mengetahui bahwa mereka melakukannya atas dasar hukum dan dengan rencana yang dipikirkan dengan matang," tegas Starmer.
Hingga saat ini, rencana tersebut nyatanya memang belum ada. Sementara sekutu-sekutu NATO masih ragu di ambang pintu keterlibatan konflik Iran, ancaman terhadap ekonomi global akibat tersumbatnya jalur minyak dunia di Selat Hormuz terus membayangi. (BBC/Z-2)
Donald Trump menyatakan King Charles III sejalan dalam mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Pernyataan disampaikan saat jamuan kenegaraan di AS.
Raja Charles III sampaikan pidato krusial di depan Kongres AS. Tekankan pentingnya aliansi NATO, krisis iklim, hingga dukungan untuk Ukraina di tengah tensi politik.
AS menangguhkan pengiriman senjata HIMARS dan Javelin ke Estonia akibat konflik dengan Iran. Simak dampak geopolitik bagi NATO dan Finlandia di sini.
Presiden AS Donald Trump menyebut negara Timur Tengah seperti UEA sebagai sekutu yang lebih baik dibanding NATO. Ia mempertimbangkan tarik AS dari NATO.
Setelah pertemuan tersebut, Rutte kemudian menyampaikan kepada para mitra di Eropa bahwa Washington menuntut "komitmen konkret" dalam beberapa hari ke depan.
Medvedev menyebut pernyataan Trump itu hanya sekadar “gertakan”.
Militer AS melalui USS Rafael Peralta mencegat kapal tanker M/T Stream menuju Iran. Ketegangan di Selat Hormuz meningkat di tengah kebuntuan diplomasi.
Presiden AS Donald Trump memilih strategi blokade ekonomi berkepanjangan terhadap Iran untuk menekan ekspor minyak dan menghindari risiko perang terbuka.
Analisis mengungkap krisis Timur Tengah picu kerugian global US$1 triliun. Di sisi lain, perusahaan minyak raup laba besar di tengah kemiskinan dunia.
Emirat Arab resmi umumkan keluar dari OPEC dan OPEC+ mulai 1 Mei. Langkah strategis ini diambil di tengah krisis energi akibat konflik di Selat Hormuz.
Arab Saudi mendesak Dewan Keamanan PBB secara eksplisit mengecam serangan Iran sejak awal krisis, sembari menyoroti pentingnya keamanan Selat Hormuz bagi ekonomi global.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres memperingatkan bahwa kebuntuan ini berpotensi memicu krisis pangan global.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved