Raja Charles III Soroti NATO dan Ukraina dalam Pidato di Kongres AS

Thalatie K Yani
29/4/2026 08:12
Raja Charles III Soroti NATO dan Ukraina dalam Pidato di Kongres AS
Raja Charles III sampaikan pidato krusial di depan Kongres AS. Tekankan pentingnya aliansi NATO, krisis iklim, hingga dukungan untuk Ukraina di tengah tensi politik.(AFP)

RAJA Charles III menggarisbawahi pentingnya "hubungan spesial" antara Britania Raya dan Amerika Serikat dalam pidato bersejarah di hadapan sidang gabungan Kongres AS, Selasa (28/4) waktu setempat. Dalam pidato pertama anggota kerajaan Inggris dalam 35 tahun terakhir tersebut, Sang Raja memberikan pesan kuat mengenai NATO, pertahanan Ukraina, hingga krisis iklim global.

Pidato ini dipandang banyak pihak sebagai upaya diplomatik untuk mendorong Donald Trump agar kembali pada aliansi tradisional Eropa dan memulihkan peran AS sebagai pembela nilai-nilai liberal.

"Kata-kata Amerika membawa bobot dan makna, sebagaimana yang telah terjadi sejak kemerdekaan. Tindakan bangsa besar ini bahkan jauh lebih penting," ujar Charles di hadapan para anggota dewan.

Menyinggung Demokrasi dan Ukraina

Di hadapan audiens yang mencakup politisi dari kedua partai dan pejabat tinggi militer, Charles memuji ikatan historis kedua negara yang ia sebut "benar-benar unik." Namun, ia juga melontarkan pernyataan yang memicu reaksi positif dari faksi Demokrat ketika menyinggung prinsip checks and balances.

"Prinsip bahwa kekuasaan eksekutif tunduk pada checks and balances (pengawasan dan keseimbangan)," tutur Charles, merujuk pada dokumen hukum kuno Inggris, Magna Carta.

Terkait konflik di Eropa Timur, ia mendesak adanya "tekad yang teguh" untuk mendukung "Ukraina dan rakyatnya yang paling pemberani" demi mengamankan perdamaian yang adil dan langgeng.

Komitmen Iklim dan Ekonomi

Sebagai pejuang lingkungan, Raja Charles III tidak melewatkan isu krisis iklim. Ia mengingatkan  fondasi kemakmuran dan keamanan nasional sangat bergantung pada kesehatan ekosistem alam.

"Kita mengabaikan fakta bahwa sistem alam ini, dengan kata lain ekonomi alam itu sendiri, menyediakan fondasi bagi kemakmuran dan keamanan nasional kita, dengan risiko yang sangat besar," tegasnya.

Di sektor ekonomi, Charles menonjolkan nilai perdagangan tahunan kedua negara yang mencapai US$430 miliar serta investasi timbal balik sebesar $1,7 triliun. Pernyataan ini muncul di tengah ancaman tarif baru yang sempat dilontarkan Trump terhadap Inggris.

Aliansi Keamanan Dunia

Sang Raja juga menegaskan komitmen militer AS dan sekutunya tetap menjadi jantung bagi NATO dalam menghadapi ancaman bersama. Ia pun memberikan dukungan penuh bagi Aukus, pakta pertahanan trilateral dengan Australia.

"Kami tidak melakukan upaya luar biasa ini bersama-sama hanya karena sentimen. Kami melakukannya karena hal tersebut membangun ketahanan bersama yang lebih besar untuk masa depan, sehingga membuat warga kami lebih aman bagi generasi mendatang," jelasnya.

Menutup pidatonya, Charles menggambarkan dunia saat ini jauh "lebih fluktuatif dan lebih berbahaya" dibandingkan tahun 1991, saat terakhir kali Ratu Elizabeth II berdiri di podium yang sama. Ia memperingatkan bahwa tantangan besar saat ini terlalu berat untuk dipikul oleh satu negara sendirian.

"Dalam lingkungan yang tidak dapat diprediksi ini, aliansi kita tidak dapat bersandar pada pencapaian masa lalu, atau berasumsi bahwa prinsip-prinsip dasar akan bertahan begitu saja," pungkasnya. (The Guardian/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya