Di Depan Kongres AS, King Charles III Beri Pesan Tersirat bagi Korban Jeffrey Epstein

Thalatie K Yani
29/4/2026 05:34
Di Depan Kongres AS, King Charles III Beri Pesan Tersirat bagi Korban Jeffrey Epstein
King Charles III memberikan pidato emosional di depan Kongres AS. Di tengah skandal Pangeran Andrew, sang Raja menyelipkan pesan khusus bagi para penyintas kekerasan.(Royal Family)

RAJA Inggris, King Charles III, menorehkan sejarah baru dalam kunjungan kenegaraannya ke Amerika Serikat. Di tengah sorotan tajam publik terhadap skandal yang menyeret nama adiknya, Pangeran Andrew, sang monarki memberikan pidato emosional di hadapan para anggota Kongres AS pada Selasa (28/4).

Dalam pidato tersebut, Raja berusia 77 tahun ini menyerukan pembaruan aliansi antara AS dan Inggris di tengah "masa ketidakpastian besar." Namun, di balik seruan persatuan NATO dan dukungan untuk Ukraina, terdapat satu bagian pidato yang dianggap sebagai referensi halus bagi para korban mendiang predator seksual, Jeffrey Epstein.

Pesan Terselubung di Podium Kehormatan

Menjadi anggota kerajaan Inggris kedua setelah mendiang Ratu Elizabeth II yang berpidato di Kongres, King Charles menyoroti kekuatan masyarakat yang bebas dalam menghadapi "penyakit" sosial.

"Di kedua negara kita, fakta bahwa masyarakat kita yang dinamis, beragam, dan bebaslah yang memberi kita kekuatan kolektif, termasuk untuk mendukung para korban dari beberapa penyakit yang, secara tragis, ada di kedua masyarakat kita saat ini," ujar sang Raja.

Seorang asisten istana mengonfirmasi bahwa pengakuan terhadap korban pelecehan memang ada dalam pikiran Raja saat menyusun naskah tersebut, sehingga kalimat itu secara alami dimasukkan ke dalam pidatonya.

Bayang-Bayang Skandal Pangeran Andrew

Pesan ini muncul setelah serangkaian desakan dari politisi Amerika agar King Charles secara terbuka mengakui para korban Epstein selama kunjungan ini. Sebagaimana diketahui, hubungan pribadi dan politik antara keluarga kerajaan dengan lingkaran Epstein telah menjadi beban berat bagi monarki, terutama setelah penangkapan Pangeran Andrew pada 19 Februari lalu atas dugaan pelanggaran jabatan publik.

Meski ada permintaan untuk bertemu langsung dengan para penyintas, pihak istana telah menyatakan bulan lalu bahwa pertemuan tersebut tidak memungkinkan. Langkah ini diambil guna menghindari prasangka atau gangguan terhadap investigasi kepolisian Inggris yang tengah berlangsung terhadap dokumen-dokumen Epstein.

Pangeran Andrew, 66, secara konsisten membantah melakukan kesalahan terkait hubungannya dengan Epstein, yang tewas bunuh diri di penjara pada 2019.

Komitmen Terhadap Korban Pelecehan

Isu perlindungan korban bukan hal asing bagi pasangan kerajaan ini. Dalam sebuah pesta kebun di Kedutaan Besar Inggris sehari sebelumnya, Ratu Camilla secara khusus berbicara dengan para pendukung penyintas kekerasan domestik, termasuk Sandra Jackson, CEO House of Ruth.

"Memiliki seseorang dengan status beliau untuk memberikan perhatian pada perjuangan ini sangatlah penting," kata Jackson. "Beliau berterima kasih atas kerja keras yang kami lakukan... kami bersyukur atas semangat dan kepemimpinannya."

Terkait keputusan Raja untuk tidak bertemu langsung dengan korban Epstein di AS, Jackson menyatakan, "Saya menghormati keputusan mereka."

Sikap tegas King Charles terhadap skandal ini sebenarnya telah terlihat sejak Oktober 2025, saat ia mencopot gelar kerajaan dan kehormatan militer Pangeran Andrew. Dalam pernyataan resmi saat itu, pihak istana menegaskan:

"Yang Mulia ingin memperjelas bahwa pikiran dan simpati terdalam mereka telah, dan akan tetap, bersama para korban dan penyintas segala bentuk pelecehan."

Melalui pidato di Washington ini, King Charles seolah menegaskan kembali bahwa meski hukum sedang berjalan, simpati moral pihak takhta tetap berpihak pada mereka yang terluka oleh masa lalu yang kelam tersebut. (People/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya