Belasan Korban Jeffrey Epstein Sebut Nama-Nama Besar, Namun Minim Penindakan

Thalatie K Yani
23/4/2026 06:34
Belasan Korban Jeffrey Epstein Sebut Nama-Nama Besar, Namun Minim Penindakan
Jeffrey Epstein(US Department of Justice)

RILIS terbaru dokumen Departemen Kehakiman AS terkait kasus Jeffrey Epstein mengungkap sisi gelap yang lebih luas dari sekadar aksi sang mendiang pemodal. Tinjauan CNN terhadap belasan wawancara kredibel FBI menunjukkan pola mengerikan di mana Epstein dan rekannya, Ghislaine Maxwell, diduga "meminjamkan" korban kepada lingkaran pertemanan mereka yang kaya dan berkuasa.

Dalam salah satu kesaksian paling memilukan, seorang korban berusia 15 tahun menceritakan momen saat ia dipanggil ke rumah mewah Epstein di Palm Beach. Ia diperkenalkan kepada seorang pria misterius dan diperintahkan untuk melayani pria tersebut secara seksual.

“Pastikan teman kita bersenang-senang,” duga korban menirukan ucapan Ghislaine Maxwell saat itu.

Korban mengaku diperkosa oleh pria yang tidak ia ketahui namanya tersebut. Setelah kejadian, ia menerima uang tunai sekitar US$1.000, sementara Maxwell menjanjikan akan memperkenalkannya kepada relasi Epstein lainnya di masa depan.

Nama-Nama Besar dalam Pusaran Kasus

Dokumen tersebut mencantumkan lebih dari setengah lusin nama pria yang diduga terlibat dalam pertemuan seksual ilegal tersebut. Nama-nama yang muncul mencakup eksekutif Wall Street, mantan senator, psikiater kaya, hingga produser film ternama.

Beberapa nama yang disebut dalam berkas tersebut antara lain:

  • Henry Jarecki: Psikiater terkemuka yang dituduh melakukan pelecehan seksual mingguan terhadap seorang wanita muda. Jarecki, melalui juru bicaranya, membantah keras tuduhan tersebut.
  • Harvey Weinstein: Mantan produser film yang kini dipenjara. Seorang saksi mengidentifikasi foto Weinstein sebagai pria yang melecehkannya saat ia masih berusia 15 tahun. Pihak Weinstein membantah tuduhan ini.
  • George Mitchell: Mantan Senator AS yang dituduh meminta layanan seksual dari korban yang dikirim oleh Epstein. Mitchell membantah klaim tersebut dan menyatakan tidak pernah bertemu dengan korban.
  • Jes Staley: Mantan eksekutif Barclays dan JPMorgan yang dituduh melakukan pelecehan seksual kasar di rumah Epstein di New York. Staley membantah tuduhan tersebut.

Kritik Atas Lambannya Penegakan Hukum

Hingga saat ini, hanya Epstein dan Maxwell yang secara resmi didakwa terkait perdagangan seks dalam kasus ini. Direktur FBI Kash Patel menyatakan tidak ada informasi kredibel yang menunjukkan Epstein memperdagangkan korbannya kepada orang lain. Namun, pernyataan ini kontradiktif dengan isi dokumen yang penuh dengan kesaksian korban dan saksi mata.

Mantan detektif LAPD, Moses Castillo, menyayangkan minimnya tindak lanjut investigasi yang terlihat dalam berkas tersebut.

“Saya tidak melihat adanya penulisan surat perintah penggeledahan untuk mendapatkan komputer seseorang, catatan penerbangan, atau catatan hotel. Saya tidak melihat semua itu dilakukan,” ujar Castillo.

Pihak Departemen Kehakiman (DOJ) berkilah bahwa setiap petunjuk telah diselidiki secara menyeluruh, namun jaksa pada saat itu merasa bukti yang ada tidak cukup untuk melakukan penuntutan.

Tuntutan Akuntabilitas

Kekecewaan meluas hingga ke Kongres. Perwakilan Robert Garcia menyatakan kemarahannya atas minimnya akuntabilitas terhadap para pria berkuasa yang terlibat.

“Fakta bahwa ada begitu banyak pria berkuasa, banyak miliarder, yang terlibat dalam pemerkosaan dan pelecehan anak-anak... setiap warga Amerika seharusnya merasa marah akan hal itu,” tegas Garcia.

Kasus ini menyisakan luka mendalam bagi para penyintas. Meskipun rilis dokumen ini memberikan sedikit titik terang, banyak pihak menilai penanganan kasus selama dua dekade terakhir merupakan kegagalan besar dalam sistem keadilan Amerika Serikat, yang seolah-olah membiarkan para kolaborator Epstein melenggang bebas tanpa tersentuh hukum. (CNN/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya