Bahaya Ultra Processed Food bagi Anak dan Risiko Penyakit Degeneratif

Basuki Eka Purnama
14/4/2026 16:29
Bahaya Ultra Processed Food bagi Anak dan Risiko Penyakit Degeneratif
Ilustrasi(Freepik)

MAKANAN ultra-processed food (UPF) kini semakin mudah ditemukan dan sering kali menjadi pilihan utama bagi anak-anak karena kepraktisannya serta rasa yang menarik. Namun, di balik kemudahan tersebut, konsumsi berlebihan makanan ini menyimpan potensi risiko kesehatan yang serius bagi tumbuh kembang anak, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, Dr. dr. Karina Rahmadia Ekawidyani, menjelaskan bahwa UPF merupakan kategori makanan yang telah melalui proses pengolahan sangat intensif di pabrik.

"Makanan ultra processed itu makanan yang mengalami pengolahan yang sangat banyak, sehingga bentuk makanan aslinya sudah tidak bisa kita lihat lagi," ujar Karina dalam tayangan IPB Pedia di kanal YouTube IPB TV.

Tinggi GGL, Rendah Nutrisi Esensial

Karina menyoroti bahwa karakteristik utama dari UPF adalah kandungan Gula, Garam, dan Lemak (GGL) yang sangat tinggi. Selain itu, produk ini biasanya diperkaya dengan berbagai bahan tambahan pangan (BTP) untuk menjaga rasa dan keawetan.

"Biasanya ditambahkan dengan banyak bahan seperti gula, garam, minyak, dan juga zat aditif seperti pengawet dan pewarna," jelasnya. Beberapa contoh nyata dari UPF yang sering dikonsumsi anak-anak meliputi:

  • Minuman berpemanis dalam kemasan.
  • Makanan ringan (camilan) kemasan.
  • Produk olahan daging seperti nuget dan sosis.

Ia menambahkan bahwa makanan jenis ini cenderung memiliki kalori yang sangat tinggi namun miskin zat gizi penting. Jika dikonsumsi secara rutin, anak berisiko mengalami kelebihan kalori, namun di saat yang sama justru kekurangan serat, vitamin, dan mineral yang dibutuhkan untuk pertumbuhan.

Risiko Kesehatan: Dari Karies hingga Penyakit Degeneratif

Dampak negatif dari konsumsi UPF dapat muncul dalam spektrum waktu yang berbeda. Dalam jangka pendek, asupan gula yang tinggi dapat memicu karies gigi (gigi berlubang) dan gangguan pencernaan seperti sembelit karena kurangnya asupan serat.

Namun, yang lebih mengkhawatirkan adalah dampak jangka panjangnya. Kebiasaan mengonsumsi UPF sejak dini dapat meningkatkan risiko obesitas, diabetes melitus, hingga hipertensi pada usia muda.

"Dengan sekumpulan risiko seperti obesitas dan hipertensi, dalam jangka panjang bisa berisiko menjadi penyakit degeneratif seperti jantung dan stroke," tegas Karina.

Pesan untuk Orangtua: Meskipun praktis, orangtua diimbau untuk membatasi frekuensi pemberian UPF kepada anak dan lebih mengutamakan real food atau makanan utuh.

Keseimbangan Pola Makan

Meski memiliki risiko, Karina menyatakan bahwa UPF tidak harus dihindari secara total, melainkan harus dikendalikan dengan ketat. Kuncinya terletak pada keseimbangan pola makan secara keseluruhan.

"Boleh sekali-sekali, tetapi tidak setiap hari. Kita harus melihat pola makan secara keseluruhan dan menyeimbangkannya dengan makanan utuh," tuturnya.

Ia mendorong para orangtua untuk mulai membiasakan anak mengonsumsi real food seperti sayur-sayuran, buah-buahan, dan masakan rumahan sejak dini. Langkah ini penting untuk membentuk kebiasaan makan sehat hingga mereka dewasa.

"Jajan boleh, tapi jangan kebanyakan yang ultra processed food," pungkasnya. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya