Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KETUA Dewan Pembina Indonesia Health Development Center (IHDC), Nila Djuwita F. Moeloek menyampaikan bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk meraih bonus demografi 2045 yang sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia sejak usia dini.
“Status gizi, tumbuh kembang, dan kemampuan kognitif anak menjadi fondasi utama dalam membentuk generasi yang unggul. Sayangnya, Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari stunting, kekurangan asupan gizi, hingga anemia defisiensi besi yang masih tinggi pada anak khususnya pada usia sekolah. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga berpotensi menurunkan kemampuan belajar, termasuk fungsi working memory yang penting dalam proses pendidikan,'' kata Nila pada acara pemaparan hasil studi IHDC, Rabu (15/4).
Oleh karena itu, tambahnya, pemenuhan gizi optimal sejak dini menjadi langkah krusial untuk mendukung kualitas pembelajaran anak sekaligus mendorong tercapainya visi Indonesia Emas.
Sejalan dengan hal tersebut, studi yang dilakukan IHDC menemukan bahwa sekitar 1 dari 5 anak (19,7%) mengalami anemia, sementara 22,1% mengalami kesulitan dalam working memory. Studi ini juga menemukan bahwa kadar hemoglobin yang lebih rendah berkaitan dengan performa working memory yang lebih rendah. Temuan ini menunjukkan bahwa anemia tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga dapat memengaruhi kemampuan anak dalam belajar.
KAITAN GIZI DAN FUNGSI KOGNITIF
Executive Director of Indonesia Health Development Center (IHDC), Ray Wagiu Basrowi menjelaskan bahwa hasil studi ini menunjukkan adanya keterkaitan yang konsisten antara status gizi anak dengan fungsi kognitif, khususnya working memory. “Anak dengan anemia memiliki risiko hampir dua kali lebih tinggi mengalami kesulitan dalam memproses dan menyimpan informasi. Hal yang sama juga terlihat pada anak dengan stunting, yang memiliki risiko hingga tiga kali lebih tinggi mengalami defisit working memory,'' jelas dr Ray.
Selain itu, ujar Ray, pihaknya juga menemukan bahwa asupan gizi anak --terutama protein dan zat besi-- masih belum optimal dan berkaitan erat dengan kondisi anemia. ''Temuan ini menegaskan pentingnya pendekatan yang lebih komprehensif dalam pemenuhan gizi anak usia sekolah, karena tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga pada kemampuan belajar mereka,” tambah dr Ray.
Dari sisi asupan gizi, anak dengan anemia juga cenderung memiliki asupan protein yang lebih rendah, yakni hanya sekitar 46% dari Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang direkomendasikan. Hal ini semakin menunjukkan bahwa kecukupan zat besi dan protein, sebagai bagian dari status gizi yang optimal, berperan penting dalam mendukung fungsi kognitif anak, khususnya dalam proses belajar.
DUKUNG TUMBUH KEMBANG
President of Indonesian Nutrition Association, Luciana B. Sutanto, menjelaskan bahwa pemenuhan gizi yang optimal memegang peranan penting dalam mendukung tumbuh kembang dan fungsi kognitif anak usia sekolah.
“Dalam mendukung tumbuh kembang dan kemampuan belajar anak, penting untuk memastikan asupan gizi yang optimal dan seimbang setiap hari. Protein dan zat besi menjadi dua zat gizi penting karena berperan dalam pembentukan jaringan tubuh serta mendukung perkembangan otak, konsentrasi, dan daya ingat anak. Namun, keduanya tetap perlu didukung oleh asupan zat gizi lain, seperti karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral, agar fungsi tubuh dan kognitif anak dapat berjalan optimal,'' papar Luciana.
Menurutnya, kecukupan gizi ini juga penting dalam mencegah anemia dan stunting. ''Oleh karena itu, anak perlu mendapatkan pola makan bergizi seimbang dengan beragam sumber pangan, seperti telur, ikan, daging, susu, serta sumber nabati seperti tahu, tempe, sayur, dan buah. Selain itu, untuk mengoptimalkan penyerapan zat besi, perlu dikombinasikan dengan asupan yang mengandung vitamin C,” ungkapnya.
Peran keluarga dan sekolah juga penting dalam membentuk kebiasaan makan sehat anak sejak dini. Namun dalam praktiknya, masih banyak orang tua yang belum menyadari bahwa tantangan seperti anak yang sulit fokus atau mudah lupa saat belajar dapat berkaitan dengan asupan gizi sehari-hari. Ibu dari dua anak, Putri Titian, turut berbagi pengalamannya sebagai orangtua dengan anak usia sekolah.
“Sebagai ibu, tentu ada kekhawatiran saat melihat anak sulit fokus atau mudah lupa saat belajar, bahkan dalam hal-hal sederhana sehari-hari. Dari riset ini, saya jadi lebih sadar bahwa hal-hal tersebut bisa berkaitan dengan asupan gizi anak sehari-hari, yang mungkin selama ini belum terlalu diperhatikan. Saya rasa masih banyak orang tua yang mungkin belum menyadari hal ini. Ini juga jadi pengingat buat saya dan orangtua lainnya untuk lebih memperhatikan kebutuhan gizi anak, supaya mereka bisa tumbuh optimal dan mencapai potensi terbaiknya,” ujar Tian.
Hasil studi IHDC ini semakin memperkuat pentingnya peran berbagai pihak dalam memastikan pemenuhan gizi anak sejak dini. Sebagai riset berbasis data lokal, temuan ini diharapkan dapat menjadi landasan dalam mendorong upaya penanganan masalah gizi anak yang lebih terarah dan berkelanjutan, mulai dari pendekatan preventif, edukasi gizi, hingga penguatan peran keluarga dan lingkungan sekolah dalam membentuk kebiasaan makan sehat.
Sejalan dengan komitmen dalam meningkatkan kualitas gizi anak, Danone Indonesia turut mendukung IHDC dalam menghadirkan riset berbasis sains yang relevan dan aplikatif. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat sinergi lintas sektor dalam meningkatkan kesadaran serta praktik pemenuhan gizi anak, sebagai langkah penting dalam mempersiapkan generasi masa depan Indonesia menuju Generasi Emas 2045. (H-1)
Moody’s menahan rating Indonesia di Baa2. Pemerintah klaim ekonomi dan fiskal tetap kuat, defisit terjaga, Danantara dan MBG jadi tumpuan investasi.
Universitas Satya Negara Indonesia secara resmi mengukuhkan Prof. Dr. Yusriani Sapta Dewi, M.Si. sebagai Guru Besar Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik USNI.
PEMERINTAH menegaskan pentingnya peran pemerintah daerah dalam memanfaatkan bonus demografi agar menjadi kekuatan pembangunan, bukan justru berubah menjadi persoalan sosial dan ekonomi
Potensi bonus demografi 2045 terancam gagal total jika usia produktifnya lumpuh akibat utang dan mentalitas instan.
Generasi muda perlu ruang untuk kembali merumuskan harapan dan arah masa depan.
Presiden INA Dr. dr. Luciana B. Sutanto menekankan pentingnya protein dan zat besi untuk kecerdasan anak serta pencegahan stunting dan anemia.
Pakar IPB University ingatkan bahaya konsumsi Ultra Processed Food (UPF) berlebih pada anak, mulai dari obesitas hingga risiko penyakit jantung dan stroke.
Dokter spesialis anak ingatkan bahaya konsumsi mie instan dan susu kental manis berlebih bagi anak di pengungsian banjir Sumatra. Simak saran gizinya.
Dietisien RS Pelni menekankan pentingnya protein, sayur, dan buah bagi tumbuh kembang anak serta risiko jangka panjang akibat kurang gizi.
Dr. dr. Tan Shot Yen mengingatkan calon jemaah haji untuk menjaga kesehatan, mengontrol penyakit kronis, dan mengatur pola makan sebelum berangkat ke Arab Saudi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved