Rekam Jejak Godzilla El Nino: Sejarah Kekeringan Ekstrem di Indonesia sebelum 2026

Putri Rosmalia Octaviyani
08/4/2026 14:20
Rekam Jejak Godzilla El Nino: Sejarah Kekeringan Ekstrem di Indonesia sebelum 2026
Karhutla di Aceh Barat.(Dok. Antara)

SEBELUM memasuki tahun 2026, Indonesia tercatat telah beberapa kali menghadapi fenomena iklim El Nino dengan intensitas sangat kuat atau yang sering dijuluki sebagai "Godzilla El Nino". Dua periode paling signifikan yang tercatat dalam sejarah meteorologi adalah pada tahun 1997/1998 dan 2015/2016.

Fenomena ini ditandai dengan kenaikan suhu permukaan laut di Samudera Pasifik yang jauh di atas normal, mengakibatkan curah hujan di wilayah Indonesia merosot tajam dan memicu bencana hidrometeorologi kering yang berkepanjangan.

Dampak SGodzilla El Nino di Indonesia

Berdasarkan catatan historis, berikut adalah dampak utama yang dirasakan Indonesia saat dihantam Godzilla El Nino:

Periode Dampak Utama
1997/1998 Kebakaran hutan terparah dalam sejarah yang menghanguskan jutaan hektare lahan, kabut asap lintas batas, serta krisis pangan yang memperburuk kondisi ekonomi saat krisis moneter.
2015/2016 Kekeringan di 28 provinsi, kegagalan panen (puso) massal, serta kebakaran lahan gambut hebat di Sumatra dan Kalimantan yang memicu darurat pencemaran udara.

Dampak ekonomi dari fenomena Godzilla El Nino sangat masif. Pada tahun 2015, Bank Dunia memperkirakan kerugian Indonesia akibat kebakaran hutan dan lahan yang dipicu El Nino mencapai lebih dari Rp221 triliun. Selain itu, sektor pertanian mengalami penurunan produksi beras secara nasional yang memaksa pemerintah melakukan impor untuk menjaga cadangan pangan.

Istilah "Godzilla" digunakan oleh para ahli iklim (seperti NASA) untuk menggambarkan El Nino dengan indeks anomali suhu yang sangat tinggi, yang kekuatannya mampu mengganggu pola cuaca global secara drastis.

Pengalaman pahit dari tahun-tahun tersebut menjadi landasan bagi pemerintah Indonesia dalam menyusun strategi mitigasi Godzilla El Nino yang lebih matang, termasuk pembangunan ribuan embung, optimalisasi lahan rawa, dan penguatan sistem peringatan dini kebakaran hutan yang kini diterapkan untuk menghadapi ancaman serupa di masa depan. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya