Mengenal Godzilla El Nino dan Dampaknya pada Karhutla 2026

Putri Rosmalia Octaviyani
07/4/2026 14:24
Mengenal Godzilla El Nino dan Dampaknya pada Karhutla 2026
Pemadaman karhutla di sekitar Bandara Supadio Kalimantan Barat.(Dok. Antara)

FENOMENA iklim ekstrem yang dikenal sebagai "Godzilla El Nino" diprediksi dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia secara signifikan pada tahun 2026. Kondisi ini dipicu oleh anomali suhu permukaan laut yang sangat panas di Samudra Pasifik, yang menyebabkan curah hujan menurun drastis di wilayah Indonesia sepanjang musim kemarau 2026.

Apa Itu Godzilla El Nino?

Istilah "Godzilla El Nino" pertama kali dipopulerkan oleh pakar iklim NASA untuk menggambarkan intensitas El Nino yang sangat kuat dan tidak biasa. Berbeda dengan El Nino moderat, kategori "Godzilla" merujuk pada pemanasan suhu permukaan laut di zona ekuator Pasifik yang melampaui ambang batas normal dalam durasi yang lama. Fenomena ini mengganggu pola sirkulasi atmosfer global secara masif.

Di Indonesia, dampak utama dari fenomena ini adalah musim kemarau yang jauh lebih kering dan lebih panjang dari biasanya. Hal ini menyebabkan berkurangnya ketersediaan air tanah dan mengeringnya vegetasi di lahan gambut maupun hutan mineral.

Potensi Karhutla 2026

Terkait potensi karhutla pada tahun 2026, para ahli meteorologi memperingatkan bahwa jika Godzilla El Nino terjadi, maka kerentanan wilayah rawan seperti Riau, Jambi, Sumatra Selatan, dan Kalimantan akan meningkat berkali-kali lipat. Lahan yang kering menjadi sangat mudah terbakar, bahkan oleh pemicu kecil sekalipun.

Hingga saat ini, data spesifik mengenai intensitas El Nino untuk kuartal kedua tahun 2026 masih dalam tahap pemantauan intensif oleh badan meteorologi nasional dan internasional. Informasi mengenai kepastian kekuatan fenomena ini sedang divalidasi lebih lanjut.

Langkah Antisipasi

Pemerintah dan otoritas terkait diimbau untuk memperkuat langkah mitigasi sejak dini. Beberapa langkah strategis yang perlu diambil antara lain:

  • Peningkatan patroli di wilayah rawan kebakaran.
  • Optimalisasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk menjaga tinggi muka air tanah di lahan gambut.
  • Sosialisasi intensif kepada masyarakat mengenai larangan pembukaan lahan dengan cara membakar.
  • Kesiapsiagaan personel dan alat pemadam kebakaran hutan di tingkat daerah.

Meskipun teknologi prediksi iklim semakin maju, ketidakpastian cuaca tetap ada. Oleh karena itu, kewaspadaan terhadap potensi lonjakan titik panas (hotspot) karhutla akibat Godzilla El Nino harus menjadi prioritas dalam agenda perlindungan lingkungan nasional tahun ini. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya