Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
NYAMUK kerap dianggap sebagai musuh manusia, terutama karena peran mereka dalam menyebarkan penyakit berbahaya seperti malaria, demam berdarah dengue atau dbd, dan virus Zika. Namun, apakah dunia akan menjadi tempat yang lebih baik jika semua nyamuk tiba-tiba lenyap? Shune Oliver, seorang Medical Scientist dari National Institute for Communicable Diseases, memberikan penjelasan komprehensif mengenai dampak hilangnya nyamuk dari muka bumi.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Oliver menekankan bahwa kita perlu terlebih dahulu memahami apa itu nyamuk. Ia menjelaskan, nyamuk sebenarnya adalah kelompok besar serangga. Mereka adalah lalat, yang berarti nyamuk dewasa terlihat sangat berbeda dari bayi nyamuk, yang dikenal sebagai larva. Nyamuk dewasa juga hanya memiliki dua sayap, tidak seperti lebah dan tawon yang memiliki empat.
Nyamuk yang kita kenal sebenarnya terdiri dari 3.500 jenis serangga berbeda, dan tidak semua menggigit manusia. Orang mungkin tidak menyadarinya, tetapi hanya nyamuk betina yang menggigit kita, karena mereka membutuhkan darah kita agar bisa bertelur. Nyamuk jantan meminum nektar — cairan manis yang dibuat oleh tanaman — untuk bertahan hidup. Oliver juga menjelaskan bahwa dari ribuan spesies nyamuk, hanya sekitar 40 yang benar-benar berbahaya bagi manusia karena mampu menularkan penyakit.
“Dari semua spesies nyamuk tersebut, hanya nyamuk betina dari sekitar 40 jenis yang benar-benar berbahaya karena mereka dapat menularkan penyakit yang membuat orang sakit,” jelas dia.
Namun, meski jumlahnya kecil, jenis-jenis nyamuk ini menyebarkan penyakit ke ratusan juta orang setiap tahun, terutama di Afrika. “Jika hanya nyamuk yang menyebabkan malaria yang lenyap, lebih dari 500 ribu nyawa akan terselamatkan setiap tahun, sebagian besar adalah anak-anak berusia di bawah lima tahun. Jika hanya nyamuk penyebar malaria yang lenyap, dunia akan menjadi jauh lebih sehat,” bebernya.
Meski terdengar ideal, Oliver mengingatkan bahwa pemberantasan nyamuk dari bumi bukanlah solusi yang tanpa risiko. Dalam ekosistem, semua makhluk hidup memiliki peran, termasuk nyamuk.
“Ada miliaran nyamuk. Itu adalah jumlah serangga yang sangat banyak yang bisa menjadi santapan bagi hewan lain. Sekarang, kita memang tidak mengetahui adanya hewan yang hanya memakan nyamuk, tetapi karena nyamuk sangat banyak dan mudah diburu, banyak hewan yang memakannya,”
Larva nyamuk, misalnya, merupakan makanan favorit ikan mosquito fish. Hewan lain seperti katak, capung, semut, laba-laba, tokek, dan kelelawar juga memangsa nyamuk. Oliver mengilustrasikan dampaknya dengan perumpamaan sederhana, bayangkan jika semua beras di dunia lenyap. Tidak ada orang yang hanya makan nasi, tetapi jika beras lenyap besok, banyak orang akan kehilangan sebagian besar makanannya. Tidak hanya itu, nyamuk jantan juga membantu proses penyerbukan.
“Nyamuk jantan juga dapat membantu tanaman bereproduksi dengan menyerbuki, memberi tanaman kesempatan untuk menyebar dan tumbuh di tempat berbeda. Mereka memang tidak seefektif lebah, tetapi mereka jelas penting untuk beberapa tanaman seperti anggrek Blunt-leaf,” kata dia.
Meski demikian, para ilmuwan masih berselisih pendapat tentang dampak besar dari menghapus nyamuk sepenuhnya. Para ilmuwan berpikir bahwa menghapus semua nyamuk dari dunia mungkin tidak akan memberikan dampak buruk secara keseluruhan terhadap lingkungan. Tapi tidak ada dari kita yang benar-benar tahu apa yang akan terjadi pada ekosistem kecil dan apakah mereka akan lebih baik tanpa nyamuk. (H-4)
Menurut para astronom, perbedaan ini terjadi karena faktor perspektif. Posisi pengamat di Bumi terutama perbedaan garis lintang membuat orientasi Bulan terlihat berbeda
Ilmuwan memprediksi pembentukan superbenua Pangea Ultima dalam 250 juta tahun ke depan akan memicu suhu ekstrem hingga 50°C dan mengancam kepunahan mamalia.
NASA merilis foto terbaru dari misi Artemis II, memperlihatkan sisi lain Bulan yang selama ini selalu hanya memperlihatkan satu wajah yang sama ke Bumi.
Misi Artemis II milik NASA mencatat sejarah baru dalam eksplorasi antariksa setelah para astronautnya berhasil menempuh jarak terjauh dari Bumi
Astronaut Artemis II terpukau melihat Bumi dari luar angkasa hingga menunda makan. Foto NASA ungkap keindahan planet biru dari kapsul Orion.
Empat astronot dalam misi Artemis II membagikan potret bumi dari luar angkasa yang langsung menarik perhatian publik.
DINAS Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Garut, Jawa Barat, menggencarkan aksi Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di seluruh lingkungan masyarakat.
GUNA mencegah tingginya kasus stunting dan Demam Berdarah Dengue (DBD) Kelurahan Kariangau, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, telah memfokuskan penanganan langsung ke masyarakat.
Raditya Dika ajak pelaku usaha dan pekerja kreatif lakukan vaksinasi DBD sebagai investasi kesehatan untuk menjaga kelancaran produktivitas dan pekerjaan.
KADIN, Takeda, dan Bio Farma luncurkan SIAP Lawan Dengue untuk perkuat K3 dan produktivitas perusahaan dari risiko demam berdarah di Indonesia.
Kenali batas normal dan kritis trombosit pada pasien DBD serta tanda bahaya saat fase kritis untuk penanganan medis yang tepat.
OTORITA Ibu Kota Nusantara (IKN) memaksimalkan pemberian edukasi pada masyarakat agar terbebas dari penyebaran malaria dan Demam Berdarah Dengue (DBD).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved