Memahami Batas Trombosit DBD dan Fase Kritis yang Wajib Diwaspadai

Asha Bening Rembulan
20/4/2026 10:22
Memahami Batas Trombosit DBD dan Fase Kritis yang Wajib Diwaspadai
Ilustrasi(Freepik)

DEMAM Berdarah Dengue (DBD) tetap menjadi ancaman kesehatan serius yang memerlukan kewaspadaan tinggi. Penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus dengue melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti ini sering kali ditandai dengan gejala klasik seperti demam tinggi mendadak, sakit kepala hebat, hingga munculnya bintik-bintik merah pada kulit.

Salah satu indikator klinis paling krusial dalam memantau kondisi pasien DBD adalah jumlah trombosit atau keping darah. Penurunan kadar trombosit, yang dikenal secara medis sebagai trombositopenia, menjadi parameter utama bagi tenaga medis untuk menentukan tingkat keparahan infeksi dan langkah penanganan selanjutnya.

Mengenal Batas Trombosit dan Tingkat Keparahan

Trombosit memiliki peran vital dalam proses pembekuan darah. Saat virus dengue menyerang, produksi trombosit di sumsum tulang belakang cenderung menurun, ditambah dengan adanya kerusakan pada pembuluh darah yang memperburuk kondisi pasien. Dalam kondisi normal, orang dewasa memiliki rentang trombosit antara 150.000 hingga 450.000 sel per mikroliter darah.

Berikut adalah klasifikasi tingkat keparahan DBD berdasarkan jumlah trombosit dalam darah:

Kategori Kondisi Jumlah Trombosit (per mikroliter) Gejala Umum
Normal 150.000 – 450.000 Kondisi tubuh sehat.
DBD Ringan 140.000 – 101.000 Demam, pusing ringan.
DBD Sedang 100.000 – 51.000 Demam tinggi, mual, muntah, bintik merah.
DBD Parah (Kritis) < 20.000 Risiko pendarahan hebat, kerusakan pembuluh darah.

Waspada Fase Kritis: Saat Demam Justru Turun

Masyarakat sering kali terkecoh ketika demam pasien mulai menurun pada hari ke-3 hingga ke-7. Padahal, periode ini merupakan fase kritis ketika risiko kebocoran plasma dari pembuluh darah berada pada titik tertinggi. Penurunan trombosit yang drastis pada fase ini dapat memicu kondisi fatal jika tidak segera ditangani.

Keluarga pasien diminta untuk segera mencari bantuan medis darurat jika muncul tanda-tanda bahaya (warning signs) sebagai berikut:

  • Nyeri perut yang hebat dan terus-menerus.
  • Muntah secara berkelanjutan.
  • Tubuh terasa sangat lemas secara drastis setelah suhu tubuh turun.
  • Terjadi pendarahan spontan seperti mimisan atau gusi berdarah.
  • Adanya darah pada muntah atau feses (buang air besar berdarah).
  • Kulit terasa dingin, lembap, dan tampak pucat.
  • Napas memburu dan detak jantung berdebar kencang.

Langkah Penanganan dan Pemulihan

Penanganan utama bagi pasien yang mengalami penurunan trombosit adalah pemantauan ketat di fasilitas kesehatan. Fokus utama medis adalah menjaga hidrasi tubuh melalui pemberian cairan infus, pemeriksaan darah rutin, hingga prosedur transfusi trombosit pada kasus-kasus tertentu yang sangat parah.

Di sisi lain, dukungan nutrisi juga memegang peranan penting dalam masa pemulihan. Pasien disarankan mengonsumsi makanan yang kaya akan:

  • Vitamin B12 dan Asam Folat: Membantu proses pembentukan sel darah di sumsum tulang.
  • Vitamin C: Memperkuat sistem imun dan membantu penyerapan nutrisi.

Kabar baiknya, jumlah trombosit akan kembali meningkat secara alami setelah pasien berhasil melewati fase kritis. Seiring meredanya infeksi dan kembalinya fungsi normal sumsum tulang, tubuh akan memulihkan kadar keping darah ke batas normal dengan sendirinya. (alodokter/halodoc/Z-1)

Catatan Redaksi: Segera lakukan pemeriksaan laboratorium jika demam tidak turun dalam 2-3 hari untuk mendeteksi dini potensi penurunan trombosit.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya