Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MASALAH ginjal yang dialami pasien diabetes bukan disebabkan obatnya melainkan gula darah yang tidak terkontrol. Hal itu dikatakan dokter spesialis penyakit dalam konsultan endokrin metabolik dari Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) Prof Sidartawan.
"Sebetulnya yang merusak ginjal itu kalau diabetes tidak terkontrol. Kalau gulanya tinggi terus terjadi kerusakan dan kalau sudah rusak maka tidak bisa balik," kata dia dalam media gathering secara daring bertajuk Cegah Dini Komplikasi Ginjal Pada Penjuang Diabetes, Selasa (16/11).
Menurut Prof. Sidartawan, hingga saat ini, pasien diabetes yang berkonsultasi pada dokter kerap menyatakan ketakutan mereka pada obat. Sebagian berpendapat obat merusak ginjal.
Baca juga: 11,9 Juta Remaja Tuntas Divaksinasi per 17 November
Dia tidak menampik memang ada obat-obatan tertentu yang tidak bisa dikonsumsi pasien bila ginjalnya bermasalah. Oleh karena itu, dokter biasanya akan memeriksa kondisi keseluruhan organ pasien seperti jantung dan ginjalnya untuk menentukan obat yang sebaiknya diberikan.
"Tergantung fungsi ginjal, ada obat yang boleh diberi dan tidak boleh diberi," kata dia yang mengatakan sering kali pasien tidak tahu dirinya terkena diabetes.
Hal senada juga diungkapkan dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal dan hipertensi dari Universitas Indonesia, Tunggul D Situmorang.
Seperti Prof Sidartawan, dia juga menegaskan penyebab rusaknya ginjal pada pasien diabetes bukan obat melainkan tidak dicapainya target pengendalian gula darahnya.
"Penyebab utama gagal ginjal bahkan sampai cuci darah adalah hipertensi dan diabetes yang tidak terkontrol," tutur dia.
Lebih lanjut, Tunggul mengatakan, hipertesi dan diabetes bisa muncul bersamaan. Sekitar dua dari tiga pasien yang harus cuci darah, disebabkan diabetes dan hipertensi.
"Kalau bisa dicegah secara dini, bisa dikendalikan gula darah dengan baik, kalau ada hipertensi dikendalikan dengan baik, maka kita akan bisa mencegah tidak gagal ginjal atau minimal memperlambat tidak sampai cuci darah," pesan Tunggul. (Ant/OL-1)
Studi Herbalife mengungkap 88 persen konsumen Indonesia rutin konsumsi suplemen, namun banyak yang belum memahami dosis aman dan risiko interaksi obat.
Untuk mengatasi ketersediaan obat, strategi pertama adalah bagaimana menyediakan substitusinya.
Spesialis Paru RSPI Sulianti Saroso ingatkan pasien TB untuk konsisten minum obat guna membunuh kuman dorman dan mencegah resistensi obat yang berbahaya.
Pasien tuberkulosis disarankan segera berkonsultasi dengan dokter jika merasakan gejala ringan agar dapat diberikan penanganan yang tepat.
Sebagai obat pereda nyeri (analgesik), penggunaan tramadol wajib berada di bawah pengawasan tenaga medis.
Pengguna sering kali mengincar efek instan Tramadol berupa tubuh yang terasa lebih segar, peningkatan energi, hingga lonjakan suasana hati (mood) dan rasa percaya diri.
Katarak bukan lagi penyakit lansia. Kenali katarak juvenil yang mengincar usia produktif akibat diabetes, trauma, hingga miopia tinggi. Cek gejalanya di sini!
Masyarakat disarankan melakukan deteksi dini, yaitu skrining untuk mengidentifikasi risiko diabetes sejak awal.
Konsumsi minuman berpemanis (SSB) di Indonesia meningkat tajam. Pakar Gizi IPB ingatkan risiko diabetes dan pentingnya membatasi asupan gula harian.
Gula aren sering dianggap lebih sehat, tapi benarkah aman untuk diabetes? Simak kandungan, indeks glikemik, batas konsumsi harian, serta risiko kesehatan jika berlebihan.
Simak 5 cara efektif menjaga kadar gula darah tetap stabil, mulai dari pola makan hingga kelola stres, guna mencegah komplikasi diabetes sejak dini.
Sering kesemutan atau mati rasa? Jangan anggap sepele. Bisa jadi itu tanda neuropati perifer, gangguan saraf yang berbahaya jika dibiarkan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved