Badan POM: Situasi Politik di Timur Tengah belum Pengaruhi Stok Obat

Denny Parsaulian Sinaga
17/4/2026 14:01
Badan POM: Situasi Politik di Timur Tengah belum Pengaruhi Stok Obat
Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan Taruna Ikrar (tengah) , Kepala Badan Pemeliharaan dan Perawatan Pertahanan Kemenhan Supo Dwi Diantara (kanan) dan Ketua Umum GP Farmasi Indonesia (Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia) F. Tirto Kusnadi memberikan k(DOK GP FARMASI)

DINAMIKA geopolitik di Timur Tengah saat ini, dipastikan belum memengaruhi pasokan dan stok obat dalam negeri saat ini. Hal itu disampaikan Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (POM) Taruna Ikrar, Kamis (16/4), seusai Halalbihalal dengan Menkes Budi Gunadi Sadikin bersama para stakeholder obat-obatan Indonesia Gabungan Perusahaan Farmasi (GP Farmasi) di Jakarta. 

''Obat-obatan, sebelum beredar itu biasanya sudah dipesan satu tahun sebelumnya. Satu tahun sebelumnya untuk tahun yang berjalan itu selalu. Apakah itu bahan bakunya? apakah itu bahan kemasannya? Apakah itu olahannya? Termasuk obat yang sudah jadi? Biasanya begitu,'' jelas Taruna.

''Kita bersyukur dari pasokan tahun lalu, kita sudah punya data. Sebetulnya itu masih bisa aman sekitar 6 bulan,'' imbuhnya lagi.

Meskipun demikian, Taruna tetap berharap kondisi perang saat ini agar segera berakhir. ''Kalau bisa (perang) secepat mungkin berakhir,  selesai, aman. Maka kita pasokannya akan aman hingga akhir tahun. Karena tentu akan ada supply baru,'' ujar Taruna.

STRATEGI LANJUTAN
Jika perang terus berlanjut, Taruna menegaskan harus ada strategi baru. Untuk mengatasi ketersediaannya, strategi pertama adalah bagaimana menyediakan substitusinya. ''Misalnya kalau makanan kan ada substitusi makanan. Kalau obat, betul. Tidak bisa seperti makanan. Karena disitu ada kontennya, zat aktifnya. Harus tetap ada zat aktifnya, tidak bisa diganti yang lain. Tetapi sumbernya kan ada alternatif,'' jelas Taruna.

Dari Eropa, biasanya bahan yang bersifat petrokimia dan sejenisnya. ''Tapi kalau sumbernya, misalnya dari India, dari Tiongkok. Kan tidak perlu lewat Selat Hormuz. Nah, kemudian kita sekarang lagi berkomunikasi dengan Rusia. Di luar Pasifik,'' ujar Taruna.

Saat ini, pihaknya juga sedang mengidentifikasi kemungkinan bahan sebagian dari Eropa. Sumber-sumber itu misalnya dari Belanda, dari Swiss, dari Eropa. ''Itu semua ga perlu lewat Hormuz. Jadi kesimpulannya, kita substitusi sumber bahan bakunya. Dan itu ada aturannya,'' pungkas Taruna. (H-1)


 

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Denny parsaulian
Berita Lainnya