88 Persen Konsumen Indonesia Rutin Konsumsi Suplemen tapi Minim Pengetahuan Keamanan

Basuki Eka Purnama
29/4/2026 07:06
88 Persen Konsumen Indonesia Rutin Konsumsi Suplemen tapi Minim Pengetahuan Keamanan
Ilustrasi(Freepik)

KESADARAN masyarakat akan pentingnya menjaga kondisi tubuh tetap prima guna menghindari kunjungan ke fasilitas kesehatan terus meningkat. Di kawasan Asia Pasifik (APAC), termasuk Indonesia, layanan kesehatan preventif kini menjadi prioritas utama bagi kesejahteraan jangka panjang.

Berdasarkan studi terbaru yang dilakukan Herbalife terhadap 9.000 konsumen di 11 pasar pada Mei 2025, tercatat bahwa 92% responden di Indonesia menganggap kesehatan preventif sangat penting. Hal ini mendorong perubahan perilaku, mulai dari pemilihan makanan sehat, rutin berolahraga, hingga konsumsi suplemen kesehatan.

Dr. Alex Teo, Director, Research Development and Scientific Affairs, Asia Pacific, Herbalife, menjelaskan bahwa suplemen kini dipandang sebagai instrumen vital untuk mendukung imunitas dan mencapai tujuan kesehatan. Namun, ia menyoroti adanya tantangan besar terkait literasi konsumen dalam memilih produk secara bertanggung jawab.

Tingginya Konsumsi, Rendahnya Kepercayaan Diri

MI/HO

Meskipun mayoritas masyarakat Indonesia sudah menjadikan suplemen sebagai bagian dari rutinitas harian, tingkat keyakinan mereka dalam memilih produk yang tepat masih tergolong rendah. Banyak konsumen yang belum memahami sepenuhnya mengenai komposisi bahan, dosis yang dianjurkan, hingga potensi interaksi dengan obat-obatan medis.

Berikut adalah data kunci hasil survei Herbalife terkait perilaku konsumen di Indonesia:

Indikator Survei (Indonesia) Persentase
Menganggap kesehatan preventif penting 92%
Mengonsumsi suplemen secara rutin 88%
Yakin telah mengambil keputusan yang bertanggung jawab 69%
Mengandalkan saran dokter atau ahli gizi 63%

Kesenjangan Pengetahuan Antar Generasi

Studi ini juga mengungkap perbedaan mencolok antara kelompok usia dalam hal kepedulian terhadap keamanan suplemen. Kelompok Boomer di APAC tercatat sebagai kelompok yang paling kurang peduli, dengan hanya 30% yang memperhatikan pentingnya pengambilan keputusan yang tepat.

Sebaliknya, Gen Z menjadi kelompok yang paling percaya diri (58%) dalam kemampuan mereka memilih suplemen dengan baik.

Salah satu risiko yang paling mengkhawatirkan adalah ketidaktahuan mengenai batas maksimum konsumsi nutrisi tertentu. Sebagai contoh, konsumsi kalsium yang berlebihan dapat memicu hiperkalsemia yang berisiko melemahkan tulang dan menyebabkan batu ginjal.

Di Indonesia, 62% responden tidak mengetahui batas harian kalsium, dan 73% tidak memahami dampak negatif jika dikonsumsi secara berlebihan.

Peringatan Interaksi Obat: Dr. Alex Teo mencontohkan bahwa suplemen seperti St. John’s Wort dapat menurunkan efektivitas obat-obatan penting seperti warfarin (pengencer darah) dan beberapa jenis statin (obat kolesterol).

Tanggung Jawab Kolektif untuk Edukasi

Menghadapi kesenjangan pengetahuan ini, Herbalife menekankan bahwa edukasi bukan hanya tanggung jawab konsumen. Diperlukan kolaborasi antara penyedia suplemen, tenaga kesehatan, dan masyarakat itu sendiri.

“Konsumen perlu membaca label dengan cermat dan mencari panduan dari sumber kredibel. Di sisi lain, penyedia suplemen wajib menghadirkan pelabelan yang jelas dan komunikasi transparan terkait keamanan produk,” tegas Dr. Teo.

Dengan pengawasan kualitas yang ketat dan edukasi yang berkelanjutan, suplementasi diharapkan dapat menjadi pilar kesehatan preventif yang efektif bagi masyarakat Indonesia dalam jangka panjang. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya