Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KEDISIPLINAN dalam menjalani pengobatan menjadi kunci utama kesembuhan bagi pasien Tuberkulosis (TB). Dokter Spesialis Paru dari Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Prof. Sulianti Saroso, dr. Titi Sundari, Sp.P(K) FISR, menekankan pentingnya konsistensi mengonsumsi obat setiap hari tanpa terputus.
Menurut Titi, karakteristik kuman penyebab TB cukup unik karena tidak semuanya aktif secara bersamaan. Ada kuman yang aktif berkembang biak (multiplikasi), namun ada pula yang berada dalam kondisi tidur atau dorman.
"Sehingga pengobatannya membutuhkan waktu yang lama untuk membunuh kuman tersebut. Pengobatan harus teratur, diminum setiap hari," ujar Titi, dikutip Senin (6/4).
Secara umum, pengobatan TB standar memerlukan waktu minimal enam bulan. Jika pasien lalai atau sengaja menghentikan konsumsi obat sebelum waktunya, risiko terbesar yang dihadapi adalah kuman TBC menjadi kebal atau resisten terhadap obat-obatan yang ada.
Kondisi resistensi ini jauh lebih berbahaya karena memerlukan durasi pengobatan yang berkali-kali lipat lebih lama dan dosis obat yang lebih kompleks. Berikut adalah rincian durasi pengobatan TB berdasarkan kategorinya:
| Kategori Pasien | Estimasi Durasi Pengobatan | Keterangan |
|---|---|---|
| TB Standar (Sensitif Obat) | 6 Bulan | Metode standar yang umum digunakan saat ini. |
| TB Resisten (Jangka Pendek) | Sekitar 9 Bulan | Untuk pasien yang sudah mengalami kekebalan kuman. |
| TB Resisten (Jangka Panjang) | Hingga 20 Bulan | Memerlukan pengawasan ketat dan dosis lebih banyak. |
| Metode Baru (Penelitian) | 4 Bulan | Masih dalam proses penelitian lebih lanjut. |
Dalam proses penyembuhan, Titi menjelaskan bahwa pasien akan melewati dua fase krusial:
Pada fase awal, pasien dengan gejala berat atau kondisi resisten biasanya akan mendapatkan dosis obat yang lebih banyak. Sementara pada fase lanjutan, jumlah obat cenderung lebih sedikit, biasanya hanya terdiri dari dua macam obat saja.
Ia kembali mengingatkan bahwa ketidakteraturan minum obat hanya akan memicu kondisi kekebalan kuman yang merugikan pasien dalam jangka panjang.
"Itu harus diminum dengan teratur karena kalau tidak, akan memicu terjadinya kondisi kekebalan terhadap kuman tersebut," pungkasnya. (Ant/Z-1)
Pemerintah menegaskan percepatan eliminasi tuberkulosis (Tb) sebagai langkah darurat nasional, menyusul tingginya angka penularan dan kematian akibat penyakit tersebut.
DIREKTUR Pascasarjana Universitas YARSI, Tjandra Yoga Aditama, menilai pemanfaatan dana desa untuk pengendalian tuberkulosis (TB) tetap relevan dan tepat sasaran.
Selain mual dan kelelahan, gejala ringan lain yang kerap dikeluhkan meliputi sakit kepala, sensasi menyerupai flu, nyeri sendi, hingga suhu tubuh yang terasa lebih hangat.
MEDIA sosial sempat dihebohkan dengan pernyataan dari influencer yang menyebut bahwa tuberkulosis (Tb) dapat dicegah dan diobati dengan obat herbal.
TB ginjal merupakan salah satu bentuk TB ekstra paru. Kondisi ini terjadi akibat infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis pada jaringan ginjal.
Studi Herbalife mengungkap 88 persen konsumen Indonesia rutin konsumsi suplemen, namun banyak yang belum memahami dosis aman dan risiko interaksi obat.
Untuk mengatasi ketersediaan obat, strategi pertama adalah bagaimana menyediakan substitusinya.
Pasien tuberkulosis disarankan segera berkonsultasi dengan dokter jika merasakan gejala ringan agar dapat diberikan penanganan yang tepat.
Sebagai obat pereda nyeri (analgesik), penggunaan tramadol wajib berada di bawah pengawasan tenaga medis.
Pengguna sering kali mengincar efek instan Tramadol berupa tubuh yang terasa lebih segar, peningkatan energi, hingga lonjakan suasana hati (mood) dan rasa percaya diri.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved