Bahaya Konsumsi Minuman Berpemanis Berlebih dan Batas Aman Gula Harian

Basuki Eka Purnama
21/4/2026 16:49
Bahaya Konsumsi Minuman Berpemanis Berlebih dan Batas Aman Gula Harian
Ilustrasi(Freepik)

KONSUMSI sugar sweetened beverages (SSB) atau minuman berpemanis di Indonesia menunjukkan tren peningkatan yang mengkhawatirkan dalam dua dekade terakhir. Fenomena ini memicu peringatan dari para ahli kesehatan karena potensi dampaknya yang signifikan terhadap peningkatan risiko penyakit tidak menular (PTM), seperti obesitas dan diabetes melitus.

Dosen Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, Dr. Zuraidah Nasution, menyoroti bahwa kemudahan akses terhadap minuman manis menjadi faktor utama. Mulai dari minuman kemasan hingga tren kopi kekinian dan boba, masyarakat kini semakin sulit menghindari asupan gula berlebih.

Batas Aman Konsumsi Gula Harian

Zuraidah menjelaskan bahwa masyarakat perlu memahami batasan asupan gula agar tidak membahayakan kesehatan jangka panjang. Secara umum, batas asupan gula yang dianjurkan adalah 10 persen dari total kebutuhan energi harian.

Parameter Rekomendasi / Data
Rata-rata Kebutuhan Energi 2.000 Kilokalori (kkal)
Batas Maksimal Gula (10% Energi) 50 Gram per hari
Setara Takaran Sendok 4 Sendok Makan
Kontribusi SSB di Indonesia Mencapai 50% dari batas harian

"Bayangkan, 50% itu hanya dari minuman saja. Belum dari makanan atau produk olahan lainnya yang juga mengandung gula tambahan," ujar Zuraidah. Ia menambahkan bahwa Indonesia bahkan pernah tercatat sebagai salah satu negara dengan konsumsi minuman berpemanis tertinggi di kawasan Asia.

Edukasi Sehat Sejak Dini

Kebiasaan mengonsumsi minuman manis sering kali berakar dari pola asuh di masa kanak-kanak. Oleh karena itu, peran orangtua sangat krusial dalam memutus rantai ketergantungan pada gula. Zuraidah menyarankan langkah-langkah preventif sederhana yang bisa dilakukan di lingkungan keluarga.

Tips Mengurangi Ketergantungan Gula pada Anak:
  • Hindari menyetok minuman berpemanis dalam kemasan di rumah.
  • Edukasi anak untuk membaca label informasi nilai gizi pada kemasan produk.
  • Biasakan memilih minuman dengan kandungan gula yang lebih rendah atau air putih.

Meski demikian, Zuraidah menegaskan bahwa masyarakat tidak harus sepenuhnya memusuhi minuman manis. Kuncinya terletak pada pengendalian diri dan keseimbangan pola hidup.

"Bukan berarti tidak boleh sama sekali, tetapi kita yang mengatur. Batasi jumlahnya, perhatikan total gula yang dikonsumsi dalam sehari, dan imbangi dengan pola hidup sehat seperti konsumsi sayur dan buah, aktivitas fisik, serta istirahat yang cukup," pungkasnya.(Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya