Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KONSUMSI sugar sweetened beverages (SSB) atau minuman berpemanis di Indonesia menunjukkan tren peningkatan yang mengkhawatirkan dalam dua dekade terakhir. Fenomena ini memicu peringatan dari para ahli kesehatan karena potensi dampaknya yang signifikan terhadap peningkatan risiko penyakit tidak menular (PTM), seperti obesitas dan diabetes melitus.
Dosen Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, Dr. Zuraidah Nasution, menyoroti bahwa kemudahan akses terhadap minuman manis menjadi faktor utama. Mulai dari minuman kemasan hingga tren kopi kekinian dan boba, masyarakat kini semakin sulit menghindari asupan gula berlebih.
Zuraidah menjelaskan bahwa masyarakat perlu memahami batasan asupan gula agar tidak membahayakan kesehatan jangka panjang. Secara umum, batas asupan gula yang dianjurkan adalah 10 persen dari total kebutuhan energi harian.
| Parameter | Rekomendasi / Data |
|---|---|
| Rata-rata Kebutuhan Energi | 2.000 Kilokalori (kkal) |
| Batas Maksimal Gula (10% Energi) | 50 Gram per hari |
| Setara Takaran Sendok | 4 Sendok Makan |
| Kontribusi SSB di Indonesia | Mencapai 50% dari batas harian |
"Bayangkan, 50% itu hanya dari minuman saja. Belum dari makanan atau produk olahan lainnya yang juga mengandung gula tambahan," ujar Zuraidah. Ia menambahkan bahwa Indonesia bahkan pernah tercatat sebagai salah satu negara dengan konsumsi minuman berpemanis tertinggi di kawasan Asia.
Kebiasaan mengonsumsi minuman manis sering kali berakar dari pola asuh di masa kanak-kanak. Oleh karena itu, peran orangtua sangat krusial dalam memutus rantai ketergantungan pada gula. Zuraidah menyarankan langkah-langkah preventif sederhana yang bisa dilakukan di lingkungan keluarga.
Meski demikian, Zuraidah menegaskan bahwa masyarakat tidak harus sepenuhnya memusuhi minuman manis. Kuncinya terletak pada pengendalian diri dan keseimbangan pola hidup.
"Bukan berarti tidak boleh sama sekali, tetapi kita yang mengatur. Batasi jumlahnya, perhatikan total gula yang dikonsumsi dalam sehari, dan imbangi dengan pola hidup sehat seperti konsumsi sayur dan buah, aktivitas fisik, serta istirahat yang cukup," pungkasnya.(Z-1)
Timo Scheunemann mengapresiasi banyaknya sekolah sepak bola yang kini mulai membuka kelas putri.
Jumlah SSB khusus perempuan masih sangat terbatas, sehingga kompetisi antar-SSB sulit diwujudkan.
Upaya memutar roda ekosistem sepak bola putri di level usia dini mulai membuahkan hasil.
Dengan penyelenggaraan liga sepak bola putri yang rutin, diharapkan banyak atlet potensial dapat bergabung dengan klub-klub elite.
Sangat baik jika perjalanan seorang pemain bisa berlanjut ke tingkat yang lebih tinggi setelah dibina di SSB.
Pakar Gizi IPB memperingatkan risiko kesehatan menjadikan kental manis sebagai minuman harian karena kandungan gula yang mencapai 50 persen.
Satu sajian 250 mililiter minuman berpemanis rata-rata mengandung 22,8 gram gula.
Konsumsi makanan dengan kadar gula maupun garam tinggi dapat menyebabkan kulit kehilangan hidrasi dan menjadi lebih kering.
Makanan manis sederhana dapat memicu fluktuasi gula darah yang tidak stabil. Dampaknya, rasa lapar akan muncul lebih cepat saat sedang menjalankan ibadah puasa di siang hari.
Tubuh membutuhkan gula dalam jumlah cukup, tetapi konsumsi berlebihan bisa meningkatkan risiko obesitas, diabetes, dan penyakit jantung.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved