Waspada, Kental Manis Bukan Susu: Pakar IPB Ungkap Risiko Kandungan Gulanya

Basuki Eka Purnama
20/4/2026 20:20
Waspada, Kental Manis Bukan Susu: Pakar IPB Ungkap Risiko Kandungan Gulanya
Ilustrasi(Freepik)

HINGGA saat ini, masih banyak keluarga di Indonesia yang keliru dalam mengonsumsi kental manis. Produk ini sering kali dijadikan minuman susu harian, terutama sebagai pelengkap menu sarapan anak-anak. Padahal, secara fungsi dan kandungan gizi, kental manis bukanlah produk yang dirancang untuk menggantikan peran susu segar maupun susu Ultra High Temperature (UHT).

Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, Dr. dr. Karina Rahmadia Ekawidyani, menegaskan bahwa kental manis merupakan produk olahan yang telah melalui proses pengurangan kadar air dan penambahan gula dalam jumlah yang sangat masif. Kandungan gula di dalamnya diperkirakan mencapai 40% hingga 50% dari total komposisi produk.

"Karena komposisi susunya sudah jauh lebih rendah, kandungan protein dan lemaknya juga tidak sesuai jika dikonsumsi sebagai susu harian. Jika dijadikan susu minum utama, ada risiko kesehatan yang mengintai," ujar Karina, dikutip Senin (20/4).

Kandungan Gula yang Mendominasi

Menurut Karina, anggapan bahwa kental manis setara dengan susu minum biasa adalah persepsi yang tidak tepat. Meskipun masih mengandung lemak dan protein, jumlahnya sangat kecil dan tidak mencukupi kebutuhan gizi harian. Sebaliknya, hampir setengah dari isi kemasan kental manis adalah gula.

Dalam satu takaran saji (sekitar 30 gram atau tiga sendok makan), terdapat kurang lebih 15 gram gula. Jika merujuk pada pedoman gizi seimbang, batas konsumsi gula harian yang dianjurkan adalah 50 gram. Artinya, mengonsumsi sembilan sendok makan kental manis saja sudah cukup untuk menghabiskan jatah kuota gula harian seseorang.

Komponen Detail Kandungan / Batas
Kandungan Gula dalam kental manis 40% – 50% dari total komposisi
Gula per Takaran Saji (30g) ± 15 Gram (Setara 3 sendok makan)
Batas Konsumsi Gula Harian (Anjuran) 50 Gram per hari
Ambang Batas Aman kental manis Maksimal 9 sendok makan (tanpa asupan gula lain)

Hanya Sebagai Pelengkap Makanan

Karina mengingatkan masyarakat untuk lebih bijak dalam membaca label kemasan. Ia menyarankan penggunaan sendok takar saat mengonsumsi kental manis daripada menuangkannya langsung dari kaleng agar asupan gula tetap terkontrol.

Fungsi utama kental manis yang sebenarnya adalah sebagai pemanis atau pelengkap rasa (topping) pada makanan dan minuman, seperti pada martabak, es campur, atau olahan kue lainnya. Produk ini sangat tidak disarankan untuk diberikan sebagai minuman utama bagi anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan.

Terlebih saat momen tertentu seperti bulan puasa, di mana minuman manis menjadi primadona saat berbuka. Karina mengimbau agar penggunaan SKM tetap dibatasi secara ketat.

"Kalau sudah menggunakan kental manis yang tinggi gula, sebaiknya tidak menambahkan gula pasir atau sirup lagi agar asupan gula tetap seimbang dalam tubuh," pungkasnya. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya