Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMBERIAN susu pada anak sering kali dianggap sebagai asupan utama untuk menunjang pertumbuhan. Namun, konsumsi yang berlebihan justru dapat berdampak buruk bagi kesehatan, terutama dalam proses penyerapan zat besi. Dokter spesialis anak sekaligus konselor laktasi lulusan Universitas Sebelas Maret (UNS), dr. Lucky Yogasatria, Sp.A, mengingatkan para orangtua untuk mengatur porsi dan jadwal pemberian susu agar tidak mengganggu nutrisi penting lainnya.
Menurut Lucky, kandungan kalsium yang tinggi dalam susu dapat bersifat kompetitif terhadap zat besi di dalam tubuh.
"Yang bermasalah itu adalah kalsiumnya karena bisa jadi kompetitif dengan penyerapan zat besinya," ujar Lucky, dikutip Sabtu (18/4).
Bagi anak, terutama yang telah menginjak usia dua tahun, Lucky menyarankan agar pemberian susu (baik formula maupun susu segar) dibatasi maksimal 500 mililiter per hari. Ia menekankan bahwa susu sebaiknya hanya menjadi makanan selingan, bukan pengganti makanan utama.
Untuk memastikan zat besi dari makanan terserap optimal, orangtua dianjurkan memberikan jeda waktu antara minum susu dan makan besar. Durasi jeda yang ideal adalah dua jam sebelum atau sesudah makan. Pengaturan jadwal ini tidak hanya membantu penyerapan nutrisi, tetapi juga menjaga nafsu makan anak tetap stabil saat waktu makan tiba.
Bahkan, Lucky menyebutkan bahwa setelah usia dua tahun, ketergantungan pada susu sebenarnya bisa dikurangi.
"Kalau usia setelah dua tahun bahkan (susu) tidak perlu-perlu sekali karena sudah ada real food," tambahnya.
Zat besi memegang peranan krusial dalam tumbuh kembang anak. Jika penyerapannya terhambat akibat konsumsi susu yang berlebih atau kebiasaan minum teh, yang juga sangat tidak dianjurkan bagi anak, maka risiko kesehatan serius mengintai.
Beberapa dampak negatif kekurangan zat besi meliputi:
Memasuki usia 4 hingga 6 bulan, cadangan zat besi alami dari ASI mulai berkurang, sehingga anak membutuhkan asupan tambahan baik dari suplemen (sesuai rekomendasi dokter) maupun Makanan Pendamping ASI (MPASI). Bayi membutuhkan sekitar 11 miligram zat besi per hari.
Berikut adalah perbandingan kebutuhan porsi makanan untuk memenuhi standar 11 mg zat besi harian menurut dr. Lucky:
| Sumber Makanan | Porsi untuk Memenuhi 11 mg Zat Besi | Keterangan |
|---|---|---|
| Hati Ayam | 70 Gram | Porsi yang relatif kecil dan mudah dikonsumsi anak. |
| Daging Ayam | 400 - 500 Gram | Porsi yang sangat besar untuk kapasitas lambung anak usia 7-8 bulan. |
| Daging Sapi | Disesuaikan | Salah satu sumber zat besi heme yang baik. |
Sebagai penutup, Lucky menyarankan agar orangtua lebih mengutamakan pemberian protein hewani seperti hati ayam dan daging-dagingan dalam menu MPASI untuk memastikan kebutuhan zat besi harian anak tercukupi tanpa harus bergantung pada konsumsi susu yang berlebihan. (Ant/Z-1)
Smile Train Indonesia rayakan 100.000 operasi sumbing gratis. Bersama Miss Cosmo 2025 dan RS Hermina Galaxy, perkuat layanan komprehensif bagi anak Indonesia.
Kenali perbedaan campak dan flu Singapura pada anak. Mulai dari pola ruam, penyebab virus, hingga risiko komplikasi serius yang perlu diwaspadai orangtua.
Psikolog Devi Yanti mengingatkan orang tua untuk peka terhadap perubahan perilaku anak di daycare. Simak tanda bahaya dan langkah hukum yang perlu diambil.
Psikolog HIMPSI Devi Yanti membagikan tips bagi orang tua agar anak mau bercerita tentang kegiatannya di daycare melalui pertanyaan terbuka dan media bermain.
Sindrom Turner adalah kelainan kromosom pada janin perempuan. Kenali gejala, risiko komplikasi, hingga langkah penanganan medis untuk optimalkan tumbuh kembang.
Dokter spesialis kulit dr. July Iriani Rahardja meluruskan hoaks larangan mandi bagi anak yang terkena campak atau cacar. Simak tips memandikannya di sini.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved