Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MENJALANI ibadah puasa membutuhkan manajemen asupan nutrisi yang tepat agar energi tubuh tetap terjaga sepanjang hari. Dietisien dari Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, Luthfianti Diana Mauludiyah, SGz, RD, memberikan edukasi penting mengenai pola makan, terutama terkait konsumsi gula selama bulan Ramadan.
Menurut Luthfianti, mengonsumsi makanan atau minuman tinggi gula saat santap sahur justru tidak dianjurkan.
Ia menjelaskan bahwa makanan manis sederhana dapat memicu fluktuasi gula darah yang tidak stabil. Dampaknya, rasa lapar akan muncul lebih cepat saat sedang menjalankan ibadah puasa di siang hari.
"Konsumsi gula tinggi saat sahur justru kurang dianjurkan. Makanan atau minuman manis sederhana dapat menyebabkan fluktuasi gula darah yang membuat rasa lapar muncul lebih cepat di siang hari," kata Luthfianti saat dihubungi dari Jakarta, Jumat.
Sebagai gantinya, Luthfianti menyarankan masyarakat untuk mengutamakan konsumsi karbohidrat kompleks, protein yang cukup, serta serat saat sahur. Kombinasi nutrisi ini terbukti lebih efektif dalam menjaga rasa kenyang agar bertahan lebih lama.
Sementara itu, saat waktu berbuka tiba, banyak orang sering terjebak untuk langsung mengonsumsi makanan atau minuman dengan kadar gula tinggi. Padahal, secara medis, tidak ada kewajiban fisiologis bagi seseorang untuk berbuka dengan menu yang manis berlebih.
"Yang dibutuhkan tubuh adalah rehidrasi (air putih), sumber energi yang cukup serta asupan zat gizi seimbang," ujar Luthfianti.
Ia menyarankan masyarakat untuk beralih ke sumber manis alami, seperti buah-buahan atau kurma.
Menurutnya, buah utuh jauh lebih baik karena kandungan seratnya membantu respons gula darah menjadi lebih stabil dibandingkan sirup atau teh dengan gula tambahan.
"Pilihan seperti 1–3 butir kurma atau buah utuh dapat menjadi alternatif yang lebih baik dibandingkan minuman sirup atau teh dengan gula berlebih," tambah dia.
Penting untuk diingat bahwa kelebihan asupan gula dapat berdampak buruk bagi kesehatan jangka panjang, seperti risiko obesitas, diabetes, dan kerusakan gigi.
Kementerian Kesehatan RI sendiri telah menetapkan batas konsumsi gula harian maksimal sebanyak 50 gram atau sekitar empat sendok teh per orang. Hal ini sejalan dengan rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyarankan asupan gula tambahan sebaiknya di bawah 10 persen dari total energi harian, bahkan lebih baik lagi jika kurang dari 5 persen.
Dengan memperhatikan panduan nutrisi tersebut, ibadah puasa diharapkan tidak hanya berjalan dengan khusyuk, tetapi juga tetap mendukung kondisi kesehatan tubuh secara menyeluruh. (Ant/Z-1)
Pemerintah mengklaim harga barang kebutuhan pokok selama Ramadan hingga Idulfitri 2026 lebih stabil dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Arah kebijakan Baznas ke depan termasuk target pengumpulan zakat nasional yang ditetapkan mencapai Rp160 triliun dan Baznas pusat sebesar Rp10 triliun pada 2031.
Momentum Ramadan mendorong spektrum belanja yang lebih luas—dari kebutuhan harian hingga pengeluaran yang lebih aspiratif.
Tradisi halal bi halal untuk menyempurnakan ibadah puasa Ramadan.
Human Initiative terus melakukan evaluasi dalam setiap pelaksanaan program.
Konsumsi makanan dengan kadar gula maupun garam tinggi dapat menyebabkan kulit kehilangan hidrasi dan menjadi lebih kering.
Konsumsi minuman berpemanis (SSB) di Indonesia meningkat tajam. Pakar Gizi IPB ingatkan risiko diabetes dan pentingnya membatasi asupan gula harian.
Pakar Gizi IPB memperingatkan risiko kesehatan menjadikan kental manis sebagai minuman harian karena kandungan gula yang mencapai 50 persen.
Satu sajian 250 mililiter minuman berpemanis rata-rata mengandung 22,8 gram gula.
Tubuh membutuhkan gula dalam jumlah cukup, tetapi konsumsi berlebihan bisa meningkatkan risiko obesitas, diabetes, dan penyakit jantung.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved