Cegah Penyakit tidak Menular, Wujudkan Kolaborasi Strategis dalam Penanganan Diabetes di Kendari

Rahmatul Fajri
27/4/2026 12:52
Cegah Penyakit tidak Menular, Wujudkan Kolaborasi Strategis dalam Penanganan Diabetes di Kendari
Ilustrasi(Dok Istimewa)

PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) terus berupaya mengurangi beban sistem kesehatan nasional dengan meningkatkan kualitas hidup para penyandang diabetes (diabetesi) dalam Semarak Dirgantara di Kendari, Sulawesi Tenggara, 22-27 April 2026.

Dalam Semarak Dirgantara 2026, Kalbe menjalin kolaborasi strategis antara TNI Angkatan Udara (AU), Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara, RSUD Bahteramas Kendari, Puskesmas Poasia Wundumbatu, akademisi, tenaga kesehatan, dan masyarakat dalam upaya penanganan diabetes di Kendari, lmelalui pendekatan yang terintegrasi dan berkelanjutan.

Salah satu bentuk dukungan nyata Kalbe adalah melalui Kalbe Diabetes Total Solution (DTS). DTS merupakan pendekatan ekosistem kesehatan yang terintegrasi, mencakup beberapa aspek. Pertama, pencegahan berupa edukasi gaya hidup sehat untuk masyarakat umum.

Medical Executive PT Kalbe Farma Tbk, dr. Riesta Hanjani menjelaskan, dirinya bersama tim telah memberikan edukasi untuk masyarakat yang akan menjalani screening operasi katarak mata gratis di RSUD Bahteramas, Kendari, Kamis, 23 April 2026.

Operasi mata katarak gratis menjadi bagian dari Semarak Dirgantara 2026. Di sana, ada calon peserta yang tidak lolos screening lantaran literasi mereka tentang diabetes sangat minim, sehingga gula darahnya tinggi.

"Masih banyak yang tidak pernah cek gula darah. Ada juga yang sudah periksa, tapi tidak berobat. Mereka kurang edukasi. Mereka bingung, tidak tahu kalau gula darah tinggi jadi faktor tidak bisa operasi katarak. Harus dilakukan edukasi, menjalani pengobatan, kontrol makanan," ujar dr Riesta.

Solusi untuk mengendalikan gula darah, kata dr Riesta, adalah minum susu diabetasol yang bisa diminum saat pagi dan siang hari, atau siang dan  malam hari sesudah makan. Suplemen ini bermanfaat untuk kesehatan tubuh dan mengontrol gula darah. Kedua, melakukan deteksi dini, yaitu skrining untuk mengidentifikasi risiko diabetes sejak awal.

Ketiga, terapi yang berupa penyediaan obat-obatan dan perawatan medis yang berkualitas. Keempat, nutrisi, yaitu mengonsumsi produk nutrisi khusus seperti Diabetasol untuk membantu menjaga kadar gula darah. 
"Kalbe memberikan bantuan susu Diabetasol untuk menjaga kandungan gula darah. Dan, Morinaga Chilgo untuk anak usia di atas 1 tahun," jelas SHE Sustainability Specialist Kalbe Nutritionals, Isa Dwiyono di booth Dinkes Sultra. Kelima, edukasi berkelanjutan, yaitu pendampingan bagi pasien agar dapat mengelola kondisinya secara mandiri.

Pengendalian PTM

Langkah Kalbe ini juga sejalan dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, yang menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam pengendalian penyakit tidak menular (PTM). 

"Melalui ekosistem DTS, Kalbe berharap dapat membantu mengurangi beban sistem kesehatan nasional dengan meningkatkan kualitas hidup para penyandang diabetes (diabetesi) di Indonesia," kata SFD Arie Wibowo, Assistant Manager Corporate Sustainability Kalbe.

Sementara itu, Abi Nisaka, Head of Corporate Sustainability Kalbe, menambahkan, inisiatif ini merupakan perwujudan dari komitmen keberlanjutan perusahaan, yaitu Bersama Sehatkan Bangsa. 
"Dengan memperluas akses kesehatan dan edukasi, Kalbe berupaya menciptakan dampak positif yang nyata bagi masyarakat luas demi mencapai Indonesia yang lebih sehat," jelas Abi Nisaka.

Data Kesehatan Terbaru

Berdasarkan data kesehatan terbaru yang dirilis pada 2026 yang merujuk pada hasil survei terkini (Survei Kesehatan Indonesia/SKI 2023 atau studi berbasis data Riskesdas terbaru), prevalensi diabetes di Indonesia menunjukkan tren peningkatan yang signifikan.

Berikut adalah poin-poin kunci data prevalensi diabetes di Indonesia per tahun 2026. Pertama, prevalensi diabetes (Usia >15 Tahun). Prevalensi diabetes melitus di Indonesia telah meningkat menjadi 11,7% pada data tahun 2023-2024, naik dari 10,9% pada Riskesdas 2018. Kedua, jumlah penderita. Lebih dari 20 juta orang dewasa di Indonesia diperkirakan hidup dengan diabetes pada 2024–2026.

Ketiga, urutan global. Indonesia menempati peringkat ke-5 dunia dalam jumlah penderita diabetes terbanyak, dengan proyeksi mencapai 28,6 juta orang pada tahun 2045 jika tidak ada intervensi efektif.

Keempat, kaktor risiko. Prevalensi diabetes lebih tinggi di daerah perkotaan dibandingkan pedesaan, sering kali terkait dengan obesitas sentral dan gaya hidup kurang aktif.

Kelima, deteksi dini. Studi menyoroti bahwa lebih dari 50% penderita diabetes tipe 2 di Indonesia tidak terdiagnosis. Mereka tidak menyadari telah mengidap diabetes.

Keenam, tren usia muda. Kasus diabetes tidak lagi hanya menyerang lansia, tetapi mulai meningkat pada usia yang lebih muda, bahkan anak-anak, dengan risiko komplikasi PTM.
 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya