46 Persen Kanker HPV Kini Menyerang Pria, Kasus Tenggorokan Melonjak Tajam

Intan Safitri
24/4/2026 17:32
46 Persen Kanker HPV Kini Menyerang Pria, Kasus Tenggorokan Melonjak Tajam
Lonjakan kanker HPV pada pria mencapai 46% menurut CDC 2026.(Dok. Freepik)

LONJAKAN kasus kanker terkait Human Papillomavirus (HPV) kini mengarah pada satu fakta yang sulit diabaikan, pria bukan lagi sekadar kelompok pelengkap dalam epidemi ini. Laporan terbaru U.S. Cancer Statistics 2026 dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mencatat, hampir 46% kasus kanker HPV kini terjadi pada laki-laki, angka yang menandai pergeseran besar dalam peta risiko global.

Temuan ini diperkuat oleh publikasi ilmiah di JAMA Oncology, yang langsung memicu tekanan dari komunitas medis internasional agar vaksinasi HPV tidak lagi berfokus pada perempuan saja.

Kanker Tenggorokan Jadi Ancaman Utama Pria

Jenis kanker yang paling dominan menyerang laki-laki saat ini adalah kanker orofaring, atau kanker pada bagian belakang tenggorokan. Berbeda dengan kanker serviks pada perempuan yang berhasil ditekan lewat skrining rutin, tren pada pria justru bergerak berlawanan, naik tajam dan sering terlambat terdeteksi.

CDC mencatat, sekitar 70% kasus kanker tenggorokan di Amerika Serikat berkaitan langsung dengan infeksi HPV kronis. Yang lebih mengkhawatirkan, pria memiliki risiko hingga lima kali lebih tinggi dibandingkan wanita.

Minimnya gejala awal membuat banyak kasus baru teridentifikasi saat sudah memasuki stadium lanjut, fase di mana penanganan menjadi jauh lebih kompleks dan peluang sembuh menurun drastis.

Vaksin HPV Terbukti Pangkas Risiko Hingga 50%

Harapan terbesar saat ini datang dari vaksinasi. Studi besar yang dipublikasikan JAMA Oncology pada April 2026, melibatkan lebih dari 510.000 pria, menunjukkan hasil signifikan: vaksin HPV mampu menurunkan risiko kanker hingga 50% pada area kepala, leher, anus, dan penis.

Perlindungan ini tidak hanya bersifat jangka pendek. Vaksin juga efektif melawan strain HPV berisiko tinggi seperti tipe 16 dan 18—dua jenis virus yang paling sering dikaitkan dengan kanker.

Para ahli kini menegaskan, vaksin HPV bukan sekadar perlindungan terhadap infeksi menular seksual, melainkan instrumen nyata dalam pencegahan kanker.

Masalah Besar: Tidak Ada Skrining untuk Pria

Berbeda dengan perempuan yang memiliki Pap Smear sebagai alat deteksi dini, laki-laki hingga kini belum memiliki metode skrining standar untuk kanker terkait HPV.

Ketiadaan deteksi dini ini menjadikan vaksinasi sebagai garis pertahanan utama. Tanpa vaksin, risiko sering kali tidak terdeteksi hingga terlambat.

Lebih jauh lagi, pria yang tidak divaksinasi berpotensi menjadi pembawa virus tanpa gejala, mempercepat penyebaran HPV dalam populasi.

Vaksinasi Pria Jadi Kunci Putus Rantai Penularan

Pakar kesehatan global kini mendorong perubahan kebijakan: vaksinasi HPV harus bersifat inklusif.

Rekomendasi terbaru menyebutkan:

  • Remaja laki-laki di bawah 25 tahun cukup dengan 1 dosis
  • Pria dewasa hingga 45 tahun disarankan 2-3 dosis jika belum pernah divaksin

Langkah ini dinilai krusial untuk membangun herd immunity dan menghentikan siklus penularan.

Dengan kontribusi kasus yang mendekati 50%, keterlibatan laki-laki dalam program vaksinasi bukan lagi pilihan—melainkan kebutuhan mendesak dalam strategi eliminasi kanker terkait HPV secara global.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya