Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
Komunitas Read Aloud Indonesia mengadakan parade membaca buku anak secara daring dalam rangka memperingati 'Hari Aksara Internasional 2020' pada hari ini.
Tak hanya membaca, parade yang digelar di akun Instagram @readaloudyuk itu turut mengulas isi buku bersama sejumlah pegiat literasi seperti Angestiya Citra Pinakesti, Namira Syarah, Annisa Anastasia, dan Nurhaula Masruroh atau yang akrab disapa Buk Ula.
Acara dimulai pukul 09.00 WIB hingga pukul 20.30 WIB nanti. Parade dibagi menjadi beberapa sesi dan dikemas secara estafet dengan tajuk 'Rak Buku'. Setidaknya ada 12 buku anak yang dibaca dan diulas dalam acara tersebut, dengan judul seperti 'Moo Baa Lalala' karya Sandra Boynton, 'Pepuyu' karya Utari Ninghadiyati, atau 'Lihat! Lihat!' karya Aniek Wijaya.
Namira yang menjadi pembaca sekaligus pengkaji buku pertama yakni 'Moo Baa Lalala' mengatakan, buku tersebut ialah bahan bacaan yang cukup menarik. Tak hanya dapat dibaca, teks dalam buku tersebut juga dapat dinyanyikan karena berisi macam-macam suara binatang. Inti dari isi buku tersebut ialah mengajarkan suara-suara binatang dalam Bahasa Inggris. Menariknya, binatang yang dipilih dalam buku pun juga yang mudah ditemui anak di lingkungan sekitar, seperti sapi, kucing, kambing, atau bebek.
Menurut Namira, anak-anak berusia nol sampai tiga tahun akan sangat nyaman jika membaca buku jenis tersebut. Sebagai orangtua, sarannya, bunda dan ayah juga tidak perlu takut jika merasa kualitas suara atau menyanyinya belum cukup baik, karena dengan cara seperti itu anak-anak adalah fans pertamanya di rumah.
"Jadi, ayo semangat membacakan buku!" tutur perempuan yang saat ini mengelola pusat belajar bagi anak-anak berkebutuhan khusus tersebut, Selasa, (8/9).
Sementara itu, Annisa atau yang akrab disapa Teh Ica kali ini membacakan buku berjudul 'Pupuyu'. Buku karya Utari ini bercerita tentang ikan 'yang bisa berjalan'. Buku ini dipilih, sebagai salah satu bentuk eksplorasi, dimana bahan bacaan anak selain dapat diperoleh secara konvensional, juga dapat diakses secara elektronik dan gratis melalui laman literacycloud.org.
Kata Teh Ica, ikan Pupuyu itu sebenarnya adalah ikan yang ada di Kalimantan. Ikan ini dikenal sebagai ikan Betok atau ikan Betik di Pulau Jawa. Masyarakat Melayu menyebutnya ikan Puyu, dan di Sumatera Barat ia dikenal dengan sebutan ikan Puyu Puyu. Saat kemarau tiba, ikan ini dapat berjalan menggunakan tutup insangnya, dan menggali lumpur untuk hibernasi hingga musim penghujan tiba.
Kisah ikan Pupuyu ini, menurut Teh Ica, cukup menarik karena selain mengenalkan anak-anak terhadap mahluk hidup, ia juga menceritakan bagaimana cara mereka bertahan hidup. Anak-anak juga dapat mengetahui jika binatang itu sangat berarti bagi manusia, seperti ikan Pupuyu yang dapat memakan jentik nyamuk, atau hama wereng yang hinggap di tanaman padi milik petani.
"Setelah baca ini aku juga jadi mencari tahu, adakah ikan lain yang dapat berjalan. Ternyata ada juga, tetapi hidupnya di perairan luar Indonesia. Kalau di Indonesia ternyata ya cuma si Pupuyu ini adanya. Kalau kita sambungin lagi, ternyata ciptaan Tuhan itu luar biasa ya," katanya.
Buku dengan temanya kasih sayang seorang kakak kepada adik pada gilirannya dibacakan oleh Buk Ula. Meski saat ini buku berjudul 'Lihat! Lihat!' tersebut belum dipublikasikan secara komersial, Bunda dan Ayah di rumah juga dapat mengaksesnya melalui literacycloud.org.
Buku ini sebenarnya sedikit rumit karena berada di jenjang enam. Latar ceritanya cukup beragam atau terdiri dari gabungan kisah dunia nyata dan imajinasi karakter di dalamnya. Meski begitu, kata Buk Ula, buku ini sarat akan makna dan sangat indah karena didukung ilustrasi yang cukup menggugah dari Alnurul Gheulia.
"Saking penasarannya, saya membaca buku ini sampai tiga kali. Ini mengajarkan kita untuk bersyukur. Kakak beradik hidup di gerobak tetapi bisa berimajinasi seperti naik balon udara dan mobil balap. Buat teman-teman, saya punya sepatah dua patah kata, membaca itu untuk masa depan anak. Walau hanya 15 menit atau 5 menit, sudah sangat bagus asalkan kita punya quality time bersama anak," tutur pegiat literasi yang kini berdomisili di Makassar itu. (M-2)
Puncak Festival Literasi Batam #1 sukses digelar di Universitas Universal, melibatkan 272 sekolah dan menghasilkan 404 proyek literasi inovatif.
Festival Literasi Anak Rimba Kata 2026 mendorong kolaborasi penulis dan penerbit untuk ubah pola pikir membaca jadi aktivitas rekreatif keluarga.
Kisah Quinn Salman membuktikan bahwa membaca buku bisa jadi kunci kreativitas. Dari buku, ia menciptakan lagu dan karya sejak kecil.
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat dorong peningkatan literasi nasional manfaatkan tingginya minat baca Gen Z berdasarkan riset Jakpat 2025.
Program dirancang tidak hanya untuk mendukung pendidikan anak-anak pesisir.
WAKIL Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono menekankan peran strategis pengelola perpustakaan di Sekolah Rakyat dalam membentuk budaya literasi siswa.
Smile Train Indonesia rayakan 100.000 operasi sumbing gratis. Bersama Miss Cosmo 2025 dan RS Hermina Galaxy, perkuat layanan komprehensif bagi anak Indonesia.
Kenali perbedaan campak dan flu Singapura pada anak. Mulai dari pola ruam, penyebab virus, hingga risiko komplikasi serius yang perlu diwaspadai orangtua.
Psikolog Devi Yanti mengingatkan orang tua untuk peka terhadap perubahan perilaku anak di daycare. Simak tanda bahaya dan langkah hukum yang perlu diambil.
Psikolog HIMPSI Devi Yanti membagikan tips bagi orang tua agar anak mau bercerita tentang kegiatannya di daycare melalui pertanyaan terbuka dan media bermain.
Sindrom Turner adalah kelainan kromosom pada janin perempuan. Kenali gejala, risiko komplikasi, hingga langkah penanganan medis untuk optimalkan tumbuh kembang.
Dokter spesialis kulit dr. July Iriani Rahardja meluruskan hoaks larangan mandi bagi anak yang terkena campak atau cacar. Simak tips memandikannya di sini.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved