Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MISI gabungan European Space Agency (ESA) dan NASA berhasil melacak aliran elektron berkecepatan tinggi. Temuan ini didapatkan melalui wahana antariksa Solar Orbiter.
Penelitian ini menemukan elektron-elektron tersebut dikenal sebagai Solar Energetic Electrons (SEEs). SEEs berasal dari dua jenis ledakan matahari yang berbeda.
Solar Orbiter mendeteksi SEEs di luar angkasa setelah mereka dipercepat. Diketahui mencapai energi yang sangat tinggi. Melalui pengamatan ini, peneliti berhasil menelusuri sumbernya.
Didapatkan dua kelompok utama elektron supercepat dengan asal-usul berbeda. Kelompok pertama berhubungan dengan ledakan kecil pada permukaan Matahari. Ini dikenal sebagai solar flare. Kedua, berasal dari letusan plasma besar yang disebut coronal mass ejections (CMEs).
Meskipun para ilmuwan sudah lama mengetahui adanya dua kelompok utama SEEs. Pengamatan dari Solar Orbiter untuk pertama kalinya memungkinkan untuk memastikan perbedaan asal-usulnya.
Menurut Alexander Warmuth, peneliti dari Leibniz Institute for Astrophysics Postdam (AIP) sekaligus pemimpin penelitian ini mengatakan, “Dengan mendekat ke Matahari, kami bisa mengukur partikel-partikel ini dalam kondisi awal yang masih ‘murni’, sehingga waktu dan lokasi pelepasan mereka dapat ditentukan dengan sangat akurat,” katanya.
Pengamatan Solar Orbiter mengatakan, sering kali ada jeda waktu antara ledakan solar flare atau CME. Hal ini terdeteksi dari SEEs yang berada di luar angkasa.
Menurut Laura Rodriguez-García, peneliti ESA, jeda ini setidaknya disebabkan oleh cara elektron bergerak melewati antariksa. “Kadang-kadang keterlambatan itu berasal dari proses pelepasan, tapi bisa juga karena proses deteksi,” jelasnya.
Selain itu, perjalanan elektron juga dipengaruhi angin matahari. Aliran partikel bermuatan keluar terus-menerus dari Matahari dan membawa medan magnetiknya. Karena SEEs merupakan partikel bermuatan, jalur pergerakannya dibelokkan. Dan juga tersebar oleh medan magnet, serta interaksi dengan angin matahari.
Hasil penelitian ini menunjukkan revolusionernya misi Solar Orbiter dalam mempelajari Matahari dan lingkungannya. Serta memberikan wawasan penting tentang cuaca antariksa dan dampak terhadap teknologi di Bumi.
Penelitian ini juga menyoroti pentingnya kerja sama internasional. Keberhasilan ini dicapai berkat kolaborasi erat antara para ilmuwan Eropa, tim instrumen dari berbagai negara anggota ESA, serta kolega dari Amerika Serikat.
Untuk kedepannya, pemahaman tentang fenomena ini akan berkembang dengan peluncuran misi baru. Termasuk misi SMILE 2026, yang bertujuan mempelajari interaksi angin matahari dengan magnetosfer Bumi.
Selain itu, pada 2031, ESA juga akan meluncurkan misi Vigil. Guna memantau sisi Matahari yang menghadap jauh dari Bumi. Diluncurkan untuk mendeteksi potensi ledakan besar sebelum arahnya berbalik menuju Bumi.
Hasil penelitian ini dipublikasikan pada 1 September di jurnal Astronomy & Astrophysics. Diperkirakan akan menjadi salah satu referensi penting dalam memahami proses kompleks. Melihat apa yang terjadi di Matahari serta dampaknya terhadap lingkungan antariksa di Bumi. (Space/Z-2)
Badan Antariksa Eropa (ESA) membuka proyek sains warga Space Warps. Publik diajak mencari lensa gravitasi langka dalam data Teleskop Euclid yang belum pernah dipublikasikan.
NASA mendukung misi European Space Agency ExoMars. Rover Rosalind Franklin ditargetkan meluncur 2028 untuk mencari jejak kehidupan di Mars.
Asteroid 99942 Apophis akan melintas sangat dekat ke Bumi pada 13 April 2029. NASA memastikan tidak ada ancaman tabrakan dalam 100 tahun ke depan.
Hubble merilis citra terbaru Nebula Trifid (M20) dengan detail luar biasa. Gambar ini mengungkap proses kelahiran bintang di galaksi Bimasakti.
Ilmuwan selidiki bercak gelap raksasa di Utopia Planitia, Mars, yang terus meluas selama 50 tahun. Apakah ini bukti aktivitas geologis atau sekadar angin?
Foto terbaru ESA mengungkap bercak abu vulkanik di Mars yang terus merayap sejauh 6,5 km per tahun. Apa penyebab fenomena misterius di Utopia Planitia ini?
NASA mempercepat ambisi ke Bulan lewat proyek MoonFall. Empat drone "hopper" akan dikirim untuk memetakan Kutub Selatan Bulan sebelum pendaratan astronot 2028.
Keempat astronot yang terdiri dari Reid Wiseman sebagai komandan, Victor Glover sebagai pilot, serta Christina Koch dan Jeremy Hansen.
Rover Curiosity NASA menemukan molekul organik kompleks di Kawah Gale, Mars. Temuan ini memperkuat kemungkinan adanya bahan penyusun kehidupan di masa lalu.
Asteroid Apophis akan melintas dekat Bumi pada 13 April 2029. NASA memastikan aman, sekaligus jadi peluang langka untuk penelitian kosmik.
NASA telah resmi mengumumkan penugasan empat kru dari tiga agen antariksa berbeda untuk menjalankan misi SpaceX Crew-13.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved