Hadapi Musim Kemarau, BMKG Imbau Warga Cirebon Hemat Air dan Manfaatkan Hujan

Nurul Hidayah    
19/4/2026 17:35
Hadapi Musim Kemarau, BMKG Imbau Warga Cirebon Hemat Air dan Manfaatkan Hujan
Ilustrasi Petugas BPBD Majalengka Bersihkan material longsor di Kecamatan Rajagaluh.(Dok)

BMKG mengingatkan masyarakat wilayah Cirebon untuk mulai bersiap menghadapi musim kemarau 2026 yang diprakirakan lebih kering dan berlangsung lebih panjang.

Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kertajati, Kabupaten Majalengka, Muhammad Syifaul Fuad, mengatakan puncak musim kemarau di wilayah Cirebon diprediksi terjadi pada Agustus hingga September 2026.

“Puncak musim kemarau diprediksi Agustus, September,” tutur Fuad, Minggu (19/4).

Ia menjelaskan musim kemarau tahun ini tidak hanya datang lebih cepat, tetapi juga berpotensi lebih kering dan lebih panjang. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh fenomena cuaca global berupa El Niño dengan intensitas lemah hingga sedang.

“El Nino ini identik dengan berkurangnya hujan di Indonesia,” ujar Fuad.

Menghadapi kondisi tersebut, masyarakat diimbau mulai melakukan penghematan air sejak dini. Selain itu, hujan yang masih turun saat masa peralihan dapat dimanfaatkan sebagai cadangan air.

“Hemat air dari sekarang. Masyarakat juga bisa memanfaatkan hujan yang masih turun di wilayah masing-masing,” katanya.

Fuad menyarankan agar air hujan ditampung untuk kebutuhan sehari-hari serta memperbaiki instalasi pipa yang bocor guna mencegah pemborosan.

Ia juga mengingatkan potensi kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau. Masyarakat diminta tidak membakar sampah atau membuka lahan dengan cara dibakar.

“Waspadai kebakaran hutan dan lahan. Warga jangan membakar sampah atau lahan sembarangan,” tuturnya.

Selain itu, warga diminta mengatur manajemen stok pangan rumah tangga serta menyiapkan masker untuk mengantisipasi polusi asap. Asupan air minum juga perlu ditingkatkan untuk mencegah dehidrasi.

Pada kesempatan yang sama, Fuad menyebut wilayah Cirebon yang meliputi Kota dan Kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan saat ini masih berada dalam masa pancaroba atau peralihan dari musim hujan ke kemarau.

“Masa pancaroba memiliki karakteristik cuaca yang berubah dinamis,” ujarnya.

Pada periode ini, cuaca umumnya panas pada pagi hingga siang hari, namun masih berpotensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat pada sore atau malam hari dengan durasi singkat.

“Hujan dapat disertai angin kencang, petir, puting beliung, dan hujan es,” jelasnya.

BMKG memprakirakan awal musim kemarau di wilayah Cirebon terjadi pada April dasarian III hingga Mei dasarian II 2026. (UL/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya