Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SEJUMLAH kapal nelayan di Pelabuhan Kejawanan, Kota Cirebon, Jawa Barat, terpaksa bersandar hampir sebulan akibat krisis bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis solar.
Berdasarkan pantauan di lokasi, deretan kapal terlihat parkir tanpa aktivitas melaut. Ketua Himpunan Nelayan Kota Cirebon, Karsudin, menyebut kelangkaan BBM menjadi penyebab utama lumpuhnya aktivitas nelayan.
“Kelangkaan BBM subsidi jenis solar menjadi penyebab utama lumpuhnya aktivitas nelayan tersebut,” tutur Karsudin, Kamis (16/4).
Karsudin menjelaskan, meski Pertamina masih memberikan bantuan solar bersubsidi, jumlahnya belum mencukupi kebutuhan.
“Setiap kapal mendapatkan bantuan 15 kiloliter,” ujar Karsudin.
Sementara itu, kebutuhan solar untuk satu kapal dalam satu kali perjalanan selama 4 hingga 5 bulan mencapai sekitar 24 kiloliter.
Kapal nelayan dengan kapasitas di bawah 30 GT memang masih bisa mengakses solar subsidi, namun jumlah yang diberikan dinilai jauh dari cukup.
“Untuk itu mohon, dari bantuan 15 kiloliter ditambah menjadi 20 kiloliter. Syukur-syukur bisa 24 kiloliter. Sehingga nelayan bisa langsung berangkat melaut dan tidak menumpuk di sini,” tutur Karsudin.
Kondisi ini tidak hanya berdampak pada aktivitas pelayaran, tetapi juga memukul sektor tenaga kerja perikanan.
“Satu kapal rata-rata mempekerjakan sekitar 13 ABK. Jika dikalikan dengan jumlah kapal yang tidak beroperasi, angka pengangguran meningkat signifikan,” tutur Karsudin.
Ia menambahkan, pihaknya telah berulang kali mengajukan permohonan kepada pemerintah dan pihak terkait, namun belum ada solusi konkret.
"Kami sudah kirim surat ke ESDM, ke Pertamina, semuanya. Tapi belum ada realisasi,” tuturnya.
Kelangkaan BBM juga dirasakan langsung oleh para pengurus kapal. Salah satunya, Tessy, menyebut kondisi saat ini sebagai yang terparah dalam beberapa tahun terakhir.
“BBM saat ini sangat susah. Dari pemerintah cuma dapat 15 KL. Kalau bisa ya 24 KL, minimal 20 KL supaya bisa berangkat,” tutur Tessy.
Ia menjelaskan, sebelumnya nelayan masih bisa menutup kekurangan dengan membeli BBM non-subsidi. Namun kini pasokan tersebut juga ikut langka.
"Yang non-subsidi sekarang tidak ada pengisian. Sudah satu bulan ini kosong,” tutur Tessy.
Akibatnya, aktivitas melaut nelayan di Cirebon pun terhenti sepenuhnya. (UL/I-1)
Untuk perbaikan rutilahu tersebut,Pemkab Cirebon sudah mengalokasikan anggaran.
BMKG memprediksi puncak musim kemarau di Cirebon terjadi Agustus–September 2026. Warga diimbau hemat air dan manfaatkan hujan yang masih turun.
Total jumlah jemaah calon haji yang berangkat tahun ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.
Sejak beroperasinya Waduk Jatigede, dampak penurunan debit air, khususnya di wilayah utara Kabupaten Cirebon dapat ditekan secara signifikan.
Es kopi yang menggunakan plastik dan sedotan dijual Rp6 ribu dari sebelumnya Rp5 ribu. Tapi karena pelanggan protes akhirnya kenaikan harga hanya berlaku sehari.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved