Krisis BBM, Kapal Nelayan Cirebon Menganggur hampir Sebulan Lamanya

Nurul Hidayah    
16/4/2026 16:51
Krisis BBM, Kapal Nelayan Cirebon Menganggur hampir Sebulan Lamanya
Sejumlah kapal nelayan di Pelabuhan Kejawanan, Kota Cirebon, terpaksa bersandar hampir sebulan akibat krisis bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis solar.(MI/Nurul)

SEJUMLAH kapal nelayan di Pelabuhan Kejawanan, Kota Cirebon, Jawa Barat, terpaksa bersandar hampir sebulan akibat krisis bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis solar.

Berdasarkan pantauan di lokasi, deretan kapal terlihat parkir tanpa aktivitas melaut. Ketua Himpunan Nelayan Kota Cirebon, Karsudin, menyebut kelangkaan BBM menjadi penyebab utama lumpuhnya aktivitas nelayan.

“Kelangkaan BBM subsidi jenis solar menjadi penyebab utama lumpuhnya aktivitas nelayan tersebut,” tutur Karsudin, Kamis (16/4).

Karsudin menjelaskan, meski Pertamina masih memberikan bantuan solar bersubsidi, jumlahnya belum mencukupi kebutuhan.

“Setiap kapal mendapatkan bantuan 15 kiloliter,” ujar Karsudin.

Sementara itu, kebutuhan solar untuk satu kapal dalam satu kali perjalanan selama 4 hingga 5 bulan mencapai sekitar 24 kiloliter.

Kapal nelayan dengan kapasitas di bawah 30 GT memang masih bisa mengakses solar subsidi, namun jumlah yang diberikan dinilai jauh dari cukup.

“Untuk itu mohon, dari bantuan 15 kiloliter ditambah menjadi 20 kiloliter. Syukur-syukur bisa 24 kiloliter. Sehingga nelayan bisa langsung berangkat melaut dan tidak menumpuk di sini,” tutur Karsudin.

Kondisi ini tidak hanya berdampak pada aktivitas pelayaran, tetapi juga memukul sektor tenaga kerja perikanan.

“Satu kapal rata-rata mempekerjakan sekitar 13 ABK. Jika dikalikan dengan jumlah kapal yang tidak beroperasi, angka pengangguran meningkat signifikan,” tutur Karsudin.

Ia menambahkan, pihaknya telah berulang kali mengajukan permohonan kepada pemerintah dan pihak terkait, namun belum ada solusi konkret.

"Kami sudah kirim surat ke ESDM, ke Pertamina, semuanya. Tapi belum ada realisasi,” tuturnya.

BBM Non-Subsidi Ikut Langka

Kelangkaan BBM juga dirasakan langsung oleh para pengurus kapal. Salah satunya, Tessy, menyebut kondisi saat ini sebagai yang terparah dalam beberapa tahun terakhir.

“BBM saat ini sangat susah. Dari pemerintah cuma dapat 15 KL. Kalau bisa ya 24 KL, minimal 20 KL supaya bisa berangkat,” tutur Tessy.

Ia menjelaskan, sebelumnya nelayan masih bisa menutup kekurangan dengan membeli BBM non-subsidi. Namun kini pasokan tersebut juga ikut langka.

"Yang non-subsidi sekarang tidak ada pengisian. Sudah satu bulan ini kosong,” tutur Tessy.

Akibatnya, aktivitas melaut nelayan di Cirebon pun terhenti sepenuhnya. (UL/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya