PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump memutuskan untuk memperpanjang masa gencatan senjata dengan Iran selama dua minggu. Keputusan strategis ini diambil di tengah kebuntuan komunikasi dan laporan mengenai keretakan internal di pucuk pimpinan Teheran.
Langkah ini diambil Trump setelah melakukan pertemuan darurat dengan tim keamanan nasionalnya di Gedung Putih pada Selasa sore. Pertemuan tersebut dihadiri oleh Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, dan Direktur CIA John Ratcliffe.
Dilema Diplomasi dan Keretakan Kepemimpinan Iran
Alasan utama di balik perpanjangan ini yaitu keyakinan intelijen AS bahwa pemerintah Iran saat ini sedang mengalami krisis konsensus. Para pembantu utama Trump percaya bahwa Iran tidak memiliki posisi tunggal terkait poin-poin krusial, seperti pengayaan uranium dan persediaan nuklir mereka.
Faktor krusial yang memperumit situasi ialah peran Pemimpin Tertinggi yang baru, Mojtaba Khamenei. Laporan dari perantara Pakistan menunjukkan bahwa upaya Mojtaba untuk tetap tersembunyi telah mengganggu diskusi internal pemerintah Iran, membuat para negosiator mereka ragu dalam mengambil keputusan tanpa arahan yang jelas.
Blokade Selat Hormuz Tetap Berlanjut
Meskipun gencatan senjata diperpanjang, Trump tetap bersikap keras mengenai blokade ekonomi. Ia menolak tuntutan Iran untuk membuka kembali akses kapal di Selat Hormuz sebelum kesepakatan akhir tercapai. "Kita tidak akan membuka selat sampai kita mencapai kesepakatan akhir," tegas Trump dalam wawancara dengan CNBC.
Kondisi itu menciptakan tekanan ekonomi ganda. Baik Washington maupun Teheran menderita secara finansial selama jalur air vital tersebut tertutup. Hal inilah yang diharapkan mediator dari Pakistan, Marsekal Lapangan Asim Munir, dapat menjadi motivasi bagi kedua belah pihak untuk segera kembali ke meja perundingan di Islamabad.
Mencari Kesepakatan yang Lebih Unggul
Trump berambisi untuk menghasilkan kesepakatan yang jauh lebih kuat dibandingkan Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) era Obama yang ia tarik pada 2018. Ia optimistis bahwa posisi AS saat ini lebih kuat setelah berhasil melumpuhkan sebagian aset militer Iran.
Namun, pendekatan itu memiliki risiko. Para penasihat internal memperingatkan bahwa tanpa tenggat waktu yang ketat, Iran mungkin sengaja mengulur waktu untuk memperkuat posisi militer mereka di bawah tanah.
Di sisi lain, pihak Iran melalui Mahdi Mohammadi, penasihat Ketua Parlemen Iran, menyatakan bahwa perpanjangan gencatan senjata tersebut tidak berarti apa-apa selama pengepungan ekonomi masih berlangsung.
Hingga saat ini, keberangkatan Wakil Presiden JD Vance ke Pakistan masih tertunda menunggu sinyal kesiapan dari Teheran. Dunia kini menanti apakah perpanjangan waktu dua minggu ini cukup bagi Iran untuk menyatukan suara dan mengakhiri konflik yang telah mengguncang pasar energi global tersebut. (CNN/I-2)
