Mojtaba Khamenei Diduga tak Sadarkan Diri, Iran Terancam Krisis Kepemimpinan

Ferdian Ananda Majni
08/4/2026 13:14
Mojtaba Khamenei Diduga tak Sadarkan Diri, Iran Terancam Krisis Kepemimpinan
Mojtaba Khamenei dikabarkan kritis dan tak sadarkan diri.(Antara)

LAPORAN intelijen internasional menyebut Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, berada dalam kondisi kritis dan tidak sadarkan diri. Situasi ini memicu kekhawatiran global atas stabilitas politik Iran di tengah konflik kawasan yang terus memanas.

Informasi tersebut pertama kali diungkap oleh The Times pada Selasa (7/4), berdasarkan memo diplomatik yang dibagikan kepada sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat, Israel, dan negara-negara Teluk. Disebutkan, Khamenei tengah menjalani perawatan intensif di Qom dan tidak mampu menjalankan fungsi kepemimpinan negara.

Memo itu juga menjadi laporan pertama yang mengungkap lokasi perawatan secara spesifik. Sumber yang sama menyebut lembaga keamanan nasional AS telah mengetahui kondisi tersebut, bahkan terjadi komunikasi tidak langsung dengan perwakilan Iran melalui jalur diplomatik di Pakistan.

Sejak konflik di Asia Barat meningkat, Khamenei tidak lagi muncul di hadapan publik. Meski demikian, pesan resmi atas namanya masih disiarkan melalui media pemerintah, memicu spekulasi terkait kondisi sebenarnya.

Laporan tersebut juga mengindikasikan bahwa persiapan pemakaman di Qom mulai dilakukan sebagai langkah antisipasi, meskipun belum ada konfirmasi resmi dari otoritas Iran.

Di tengah situasi ini, Presiden Amerika, Serikat Donald Trump kembali mengeluarkan peringatan keras. Ia menegaskan bahwa kegagalan mencapai kesepakatan dalam waktu dekat akan berujung pada konsekuensi serius bagi Iran.

"Mereka punya waktu hingga besok, dan kemudian kita akan lihat apa yang terjadi," ujar Trump, Rabu (8/4).

Ia menambahkan, tanpa kesepakatan, Iran berisiko kehilangan infrastruktur vital. "Tidak ada jembatan, tidak ada pembangkit listrik, situasinya akan jauh lebih buruk," katanya.

Trump juga menilai konflik yang berlangsung sejak 28 Februari telah memasuki fase kritis. Menurutnya, langkah yang diambil saat ini adalah keputusan yang tak bisa ditunda lagi.

Perkembangan ini mempertegas posisi Iran dalam tekanan ganda, krisis kepemimpinan internal dan ancaman eksternal, yang berpotensi mengguncang stabilitas kawasan dan hubungan geopolitik global. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya