Paus Leo Tegur Penggunaan Agama untuk Justifikasi Perang Iran

Wisnu Arto Subari
22/4/2026 11:48
Paus Leo Tegur Penggunaan Agama untuk Justifikasi Perang Iran
Paus Leo XIV.(Al Jazeera)

PEMIMPIN Gereja Katolik, Paus Leo, mengeluarkan peringatan keras terhadap penggunaan agama sebagai alat untuk membenarkan kekerasan. Pernyataan ini dinilai sebagai teguran terselubung terhadap retorika pemerintahan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump terkait perang yang sedang berlangsung dengan Iran.

"Tanpa perubahan arah dalam pengambilan tanggung jawab politik, dan tanpa menghormati lembaga serta perjanjian internasional, nasib umat manusia berisiko terancam secara tragis," ujar Paus kelahiran Amerika tersebut pada Selasa (21/4).

Paus menegaskan bahwa nama Tuhan tidak boleh dinodai oleh ambisi dominasi atau diskriminasi. "Tuhan tidak menginginkan ini. Di atas segalanya, nama-Nya tidak boleh pernah digunakan untuk membenarkan pilihan dan tindakan yang menyebabkan kematian," lanjutnya.

Retorika Keagamaan di Pentagon

Ketegangan antara Vatikan dan Gedung Putih meningkat setelah Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, berulang kali membawa narasi Kekristenan dalam konteks militer. Pada Maret lalu, Hegseth mengeklaim bahwa Tuhan berpihak pada AS dalam konflik melawan Iran.

Dalam kebaktian doa di Pentagon, Hegseth bahkan memohon agar setiap peluru mengenai sasaran dan meminta agar jiwa-jiwa jahat musuh diserahkan kepada kutukan kekal. Ia juga sempat mengkritik jurnalis dengan membandingkan mereka sebagai kelompok orang Farisi dari Perjanjian Baru.

Komentar tersebut memicu kecaman dari ahli konstitusi yang menganggapnya sebagai pelanggaran batas antara gereja dan negara. Bahkan tokoh media sayap kanan, Steve Bannon, menyarankan agar Pentagon lebih fokus pada pengarahan militer daripada referensi Alkitabiah.

Perselisihan Vatikan dan Gedung Putih

Hubungan diplomatik antara Vatikan dan Washington kian memanas setelah Presiden Donald Trump melontarkan kritik tajam sepanjang 334 kata terhadap Paus Leo. Trump menyebut Paus buruk untuk kebijakan luar negeri dan menuduhnya mendukung kepemilikan senjata nuklir oleh Iran. Klaim itu tidak pernah dinyatakan oleh Paus.

Respons Paus Leo:

Menanggapi tekanan dari Gedung Putih dan peringatan Wakil Presiden JD Vance agar berhati-hati dalam masalah teologi, Paus Leo menegaskan posisinya.

"Saya tidak takut pada pemerintahan Trump atau berbicara lantang tentang pesan Injil. Itu tugas saya dan tugas Gereja di sini," tegas Uskup Roma tersebut.

Paus sebelumnya juga mengecam ancaman Trump untuk memusnahkan peradaban di Iran sebagai tindakan yang benar-benar tidak dapat diterima. Melalui platform X, ia menuliskan bahwa Tuhan menolak doa orang-orang yang mengobarkan peperangan.

Di tengah eskalasi retorika ini, sejumlah jajak pendapat menunjukkan bahwa mayoritas warga Amerika Serikat sebenarnya menentang keterlibatan lebih jauh dalam perang dengan Iran. Ini mencerminkan jurang pemisah antara kebijakan pemerintah dan aspirasi publik. (The Independent/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya