Tiongkok Respons Kapal Kargo Touska Iran Disita AS, Ada Hubungan?

Wisnu Arto Subari
21/4/2026 06:15
Tiongkok Respons Kapal Kargo Touska Iran Disita AS, Ada Hubungan?
Kapal perang AS.(Al Jazeera)

KAPAL Iran yang menurut Presiden Amerika Serikat Donald Trump ditangkap oleh Marinir AS melakukan banyak kunjungan ke pelabuhan-pelabuhan Tiongkok. Demikian menurut analisis data pengiriman oleh Newsweek.

Kementerian Luar Negeri Tiongkok menanggapi penyitaan kapal kargo berbendera Iran, Touska, pada Senin (20/4).

"Kami berharap semua pihak terkait akan mengambil sikap bertanggung jawab, mematuhi perjanjian gencatan senjata, menghindari peningkatan ketegangan atau intensifikasi kontradiksi," kata juru bicara Guo Jiakun.

Tindakan itu terjadi beberapa hari setelah Trump mengumumkan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Menurut Trump, ini akan tetap berlaku sampai ada kesepakatan antara AS dan Iran mengenai pembukaan blokade Selat Hormuz.

"Kapal Angkatan Laut kami menghentikan mereka tepat di jalur mereka dengan membuat lubang di ruang mesin," kata Trump tentang penangkapan Touska di Truth Social. Ia menambahkan bahwa Marinir AS menahan kapal tersebut, yang berada di bawah sanksi Departemen Keuangan AS.

Hubungan Touska dengan Tiongkok

Kapal Touska dimiliki oleh Islamic Republic of Iran Shipping Lines, perusahaan pelayaran nasional Iran.

Organisasi Maritim Internasional (IMO), badan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa, memberikan nomor IMO kepada setiap kapal, yang dipertahankan sepanjang masa pakainya meskipun pemiliknya mengubah namanya. Nomor IMO Touska adalah 9773301. Sebelumnya dikenal sebagai Adalia dan Sahand.

Sejak dimasukkan dalam daftar sanksi Kantor Pengawasan Aset Asing AS (OFAC) pada 2019, Touska melakukan beberapa perjalanan ke pelabuhan Tiongkok. Ini menurut tinjauan Newsweek terhadap data pergerakan historis.

Kapal Touska terakhir kali meninggalkan perairan Iran pada 22 Februari melalui pelabuhan Shahid Rajaee dan melintasi Selat Malaka pada awal Maret sebelum singgah di pelabuhan Zhuhai di Tiongkok selatan pada 9 Maret.

Kemudian kapal itu berlayar ke utara dan tinggal di perairan Tiongkok di lepas pantai Shanghai selama setidaknya 11 hari. Ini menurut sinyal sistem identifikasi otomatis (AIS) yang ditangkap oleh kelompok nirlaba Global Fishing Watch.

Touska mematikan transponder AIS-nya--suatu praktik yang melanggar hukum internasional yang dikenal sebagai menghilang--selama dua setengah hari sebelum muncul kembali untuk singgah satu hari lagi di pelabuhan Zhuhai pada 29 Maret.

Washington Post sebelumnya mengidentifikasi pelabuhan Zhuhai sebagai lokasi kunci tempat Iran mendapatkan bahan baku untuk bahan bakar roket yang digunakan dalam rudal balistiknya.

Pada 3 April, kapal Iran yang akan pulang tersebut berlabuh di lepas pantai Port Klang di Malaysia. Perairannya dikenal sebagai titik transit bagi kapal-kapal armada bayangan Iran. Kapal tersebut baru berangkat sembilan hari kemudian.

Tidak jelas muatan yang dibawa Touska. Akan tetapi pada 16 April, saat kapal tersebut berada di Laut Arab di lepas pantai barat India, Centcom mengatakan akan menggeledah dan menyita semua kapal Iran, kapal dengan sanksi OFAC aktif, dan kapal yang dicurigai membawa barang selundupan.

Daftar barang selundupan tersebut termasuk peralatan militer, produk minyak bumi, dan bahan fisil. Demikian menurut peringatan yang dikeluarkan oleh Pusat Informasi Maritim Gabungan yang dikelola AS.

Barang selundupan itu, "Dapat disita di tempat mana pun di luar wilayah netral, jika tujuannya merupakan wilayah milik atau yang diduduki oleh Iran," kata Centcom.

Video Menunjukkan Penangkapan Touska

Video yang dirilis oleh Centcom menunjukkan Marinir mereka meninggalkan kapal serbu amfibi USS Tripoli dengan helikopter sebelum menuju ke Laut Arab untuk menaiki dan menyita Touska.

Centcom mengatakan Marinir turun menggunakan tali ke kapal berbendera Iran setelah kapal perusak berpeluru kendali USS Spruance melumpuhkan sistem propulsinya karena gagal mematuhi peringatan berulang dari pasukan AS.

Dalam video tersebut, suatu senjata terlihat menembak ke arah kapal kargo. Seorang pelaut terdengar memberi peringatan kepada awak Touska untuk meninggalkan ruang mesinnya.

Menurut unggahan Centcom di X, Spruance menembakkan beberapa peluru dari meriam MK 5 inci miliknya ke ruang mesin Touska setelah memperingatkan awak kapal untuk mengevakuasinya. Centcom mengatakan awak kapal gagal mematuhi peringatan berulang selama enam jam.

Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, yang mengawasi operasi militer Iran, mengatakan bahwa pasukannya tidak melawan Marinir karena awak kapal memiliki anggota keluarga di dalamnya.

Peneliti di lembaga think tank pertahanan Inggris, Royal United Services Institute, Steve Prest mengatakan dalam analisis yang dibagikan kepada Newsweek bahwa setiap kapal perusak rudal berpemandu AS memiliki awak lebih dari 300 pelaut yang sangat terlatih dalam operasi maritim ofensif dan defensif.

Ia mengatakan cara untuk mencegat kapal ialah operasi yang dipimpin oleh komando yang akan turun dengan tali cepat dari helikopter atau menaiki tangga dari perahu.

Dalam analisis dari minggu lalu yang mendahului operasi hari Minggu, Prest, seorang komodor purna tugas di Angkatan Laut Kerajaan Inggris, mengatakan tidak akan jelas yang mungkin terjadi pada kapal tersebut.

"Apakah Anda akan menyita kapal dan/atau minyaknya untuk diri sendiri sebagai rampasan perang? Menahannya sampai permusuhan berakhir dan kemudian membiarkannya pergi? Atau sesuatu yang lain? Ini pertanyaan yang belum pernah saya dengar dibahas," kata Prest.

Trump mengatakan di Truth Social bahwa Marinir AS memiliki pengawasan penuh atas Touska. Pihaknya sedang melihat yang ada di dalamnya tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.

Penasihat senior di Center for Strategic and International Studies (CSIS) Mark Cancian mengatakan kepada Newsweek pekan lalu, sebelum penangkapan Touska, blokade seperti yang diberlakukan AS tidak harus 100 persen efektif. "Yang perlu Anda lakukan hanyalah mendapatkan cukup banyak sehingga yang lain menjadi patah semangat," kata Cancian.

Iran Bersumpah Membalas

Komando militer gabungan tertinggi Iran mengatakan penangkapan kapal oleh AS melanggar gencatan senjata dan merupakan tindakan pembajakan maritim.

Markas besar Khatam al-Anbiya memperingatkan bahwa angkatan bersenjata Iran siap menghadapi Amerika Serikat dan akan segera membalas.

Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan bahwa Teheran melancarkan serangan drone terhadap kapal-kapal militer AS di Teluk Oman. Hal ini belum segera dikonfirmasi oleh AS dan tidak ada laporan kerusakan. (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya