Tiongkok Bantah Suplai Senjata ke Iran, Kecam Ancaman Tarif Trump

Media Indonesia
15/4/2026 07:45
Tiongkok Bantah Suplai Senjata ke Iran, Kecam Ancaman Tarif Trump
Ilustrasi.(Freepik)

PEMERINTAH Tiongkok secara tegas membantah tuduhan Amerika Serikat (AS) terkait suplai senjata ke Iran. Beijing menilai ancaman Presiden AS Donald Trump untuk mengenakan tarif tambahan sebesar 50 persen terhadap produk Tiongkok sebagai langkah yang tidak tepat dan tidak berdasar.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Guo Jiakun, menegaskan bahwa pihaknya selalu menerapkan kontrol ketat terhadap ekspor produk militer sesuai dengan hukum domestik dan kewajiban internasional.

"Tiongkok selalu bertindak bijaksana dan bertanggung jawab dalam ekspor produk militer. Laporan media terkait (suplai senjata ke Iran) sepenuhnya dibuat-buat," ujar Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing, Selasa (14/4/2026).

Guo juga memperingatkan bahwa Beijing tidak akan tinggal diam jika Washington merealisasikan ancaman tarif tersebut. "Jika AS melanjutkan kenaikan tarif terhadap Tiongkok berdasarkan tuduhan ini, Tiongkok akan merespons dengan tindakan balasan," tambahnya.

Ketegangan di Selat Hormuz

Selain isu perdagangan, Tiongkok menyoroti kebijakan blokade di Selat Hormuz yang diperintahkan oleh Presiden Trump. Langkah tersebut dinilai berbahaya dan berisiko merusak gencatan senjata sementara yang sedang berlangsung.

Menurut Guo, pengerahan militer dan blokade yang ditargetkan oleh AS hanya akan memperburuk konfrontasi dan membahayakan jalur aman perdagangan energi dunia. Selat Hormuz merupakan jalur vital yang menampung sekitar 20 persen pasokan minyak mentah, produk petroleum, dan gas alam cair (LNG) dunia.

"Kami mendesak pihak-pihak terkait untuk menghormati perjanjian gencatan senjata dan mengambil tindakan konkret untuk meredakan situasi agar lalu lintas normal di Selat dapat dilanjutkan," tegas Guo.

Iran Siapkan Kemampuan Militer Baru

Di sisi lain, Teheran menyatakan kesiapannya jika eskalasi militer terus meningkat. Juru Bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Hossein Mohebbi, menyebutkan bahwa Iran belum mengeluarkan seluruh kekuatan militernya.

"Jika perang berlanjut, kami akan mengungkap kemampuan yang tidak diketahui musuh," kata Mohebbi sebagaimana dilaporkan media lokal Fars.

Senada dengan IRGC, Juru Bicara Kementerian Pertahanan Iran, Reza Talaeinik, menyatakan bahwa pasokan rudal, drone, dan amunisi Iran saat ini sangat mencukupi untuk melakukan operasi ofensif maupun defensif dalam jangka panjang.

Dampak Perang Sejak 28 Februari 2026:
  • Korban Jiwa: Lebih dari 1.400 orang tewas.
  • Kerugian Materi: Kerusakan fasilitas di Iran ditaksir mencapai 270 miliar dolar AS (sekitar Rp4,6 kuadriliun).
  • Ekonomi Global: Lonjakan harga minyak dunia akibat gangguan di Selat Hormuz.

Gencatan Senjata yang Rapuh

Upaya perdamaian sebelumnya sempat menemui titik terang saat AS dan Iran menyepakati gencatan senjata sementara selama dua pekan pada 8 April 2026. Namun, negosiasi lanjutan di Islamabad pada 10 April gagal mencapai kesepakatan permanen, terutama karena perbedaan tajam mengenai kontrol di Selat Hormuz.

Kegagalan negosiasi ini memicu Komando Pusat (CENTCOM) AS untuk memulai blokade jalur maritim tersebut pada Senin (13/4) pukul 14.00 waktu setempat, sesuai dengan arahan langsung dari Presiden Trump. Tiongkok kini terus berupaya membawa pihak-pihak yang bertikai kembali ke meja perundingan demi stabilitas Timur Tengah. (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya