Hizbullah Andalkan Iran untuk Dorong Gencatan Senjata di Libanon, Ini Sikap Para Pejabat Dunia

Media Indonesia
09/4/2026 20:35
Hizbullah Andalkan Iran untuk Dorong Gencatan Senjata di Libanon, Ini Sikap Para Pejabat Dunia
Ilustrasi(Dok AFP)

KELOMPOK militan Hizbullah dilaporkan berada dalam posisi sulit di tengah eskalasi konflik dengan Israel. Kini mereka semakin mengandalkan Iran untuk mendorong terwujudnya gencatan senjata di Libanon.

Dalam perkembangan terbaru, konflik di Libanon semakin memanas setelah serangan udara besar-besaran Israel yang menewaskan ratusan orang dalam satu hari. Situasi ini memperumit upaya diplomatik yang tengah berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran.

Hizbullah Bergantung pada Iran

Berdasarkan laporan terbaru, Hizbullah tidak memiliki banyak pilihan selain berharap pada dukungan Teheran untuk menekan terjadinya gencatan senjata di wilayah Libanon.

“Iran mengatakan memperpanjang gencatan senjata ke Libanon adalah bagian dari kesepakatan,” demikian laporan media, menggambarkan posisi strategis Hizbullah yang bergantung pada sekutunya tersebut.

Namun, klaim tersebut tidak sepenuhnya diterima pihak lain. Israel dan Amerika Serikat menegaskan bahwa Libanon tidak termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata yang sedang dinegosiasikan.

Iran Tekan agar Libanon Masuk Kesepakatan

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa konflik di Libanon harus menjadi bagian dari kesepakatan damai.

“AS harus memilih, gencatan senjata atau perang berkelanjutan melalui Israel”, menegaskan bahwa serangan terhadap Lebanon dapat merusak stabilitas kesepakatan yang lebih luas.

Pernyataan ini memperlihatkan bahwa Iran secara aktif berupaya melindungi Hizbullah sebagai sekutu utamanya di kawasan.

AS dan Israel Tolak Masukkan Libanon

Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat menegaskan bahwa konflik antara Israel dan Hizbullah tidak termasuk dalam perjanjian gencatan senjata.

Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan bahwa “Libanon tidak termasuk dalam gencatan senjata”.

Sikap ini diperkuat oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang menegaskan operasi militer terhadap Hizbullah akan tetap berlanjut.

Desakan Internasional untuk Perdamaian Regional

Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot, mendesak agar Lebanon dimasukkan dalam skema gencatan senjata yang lebih luas.

Ia menyatakan bahwa Libanon “harus tercakup dalam perjanjian gencatan senjata”, sambil mengutuk serangan besar Israel di wilayah tersebut.

Barrot juga menekankan pentingnya Iran menghentikan dukungan terhadap kelompok-kelompok bersenjata di kawasan, termasuk Hizbullah.

Situasi di Lapangan Masih Memanas

Di tengah tarik-menarik kepentingan global, kondisi di lapangan tetap genting. Israel masih menguasai dominasi militer, terutama di udara, sementara Hizbullah terus melakukan perlawanan dengan roket lintas perbatasan.

Konflik yang merupakan bagian dari eskalasi perang regional sejak Maret 2026 ini telah menimbulkan krisis kemanusiaan besar, dengan ratusan ribu warga mengungsi.

Kesimpulan

Ketergantungan Hizbullah pada Iran menunjukkan bahwa penyelesaian konflik di Libanon kini sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik yang lebih luas.

Selama belum ada kesepakatan yang secara eksplisit mencakup Libanon, peluang gencatan senjata masih bergantung pada negosiasi antara kekuatan besar, terutama Iran, Amerika Serikat, dan sekutu-sekutunya.

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya