Trump Umumkan Gencatan Senjata Libanon, Menteri-Menteri Israel Marah

Media Indonesia
17/4/2026 19:15
Trump Umumkan Gencatan Senjata Libanon, Menteri-Menteri Israel Marah
Ilustrasi(Dok AFP)

PRESIDEN Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan kesepakatan gencatan senjata selama 10 hari antara Israel dan Libanon. Namun, keputusan ini justru memicu kemarahan di internal pemerintahan Israel.

Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa kesepakatan tersebut dicapai setelah komunikasi langsung dengan para pemimpin kedua negara.

“Saya baru saja melakukan percakapan yang sangat baik dengan Presiden Joseph Aoun dari Libanon dan Perdana Menteri Bibi Netanyahu dari Israel. Kedua pemimpin telah sepakat untuk melakukan gencatan senjata selama 10 hari,” ujar Trump.

Ia juga menegaskan peran Amerika Serikat dalam proses ini.

“Kami akan bekerja sama secara erat dengan kedua pihak untuk memastikan ini mengarah pada perdamaian yang bertahan lama di kawasan.”

Trump bahkan menyebut momen ini sebagai tonggak penting.

“Ini adalah hari bersejarah bagi Libanon dan langkah penting menuju stabilitas di Timur Tengah.”


Netanyahu Setuju, Tapi Beri Peringatan Tegas

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengonfirmasi persetujuan Israel terhadap gencatan senjata, namun menekankan syarat yang tidak bisa ditawar.

“Israel menyetujui gencatan senjata sementara, tetapi tidak akan mengorbankan kebutuhan keamanannya atau tujuan untuk melucuti kemampuan militer Hizbullah,” kata Netanyahu.

Ia juga menegaskan bahwa posisi militer Israel tetap dipertahankan. “Pasukan kami akan tetap berada di posisi yang diperlukan untuk melindungi warga Israel dan mencegah serangan di masa depan.”


Menteri Israel Marah: “Ini Kesalahan Besar”

Kesepakatan ini memicu reaksi keras dari sejumlah menteri kabinet Israel. Menteri Keamanan Nasional, Itamar Ben-Gvir, secara terbuka mengkritik keputusan tersebut.

“Gencatan senjata ini adalah kesalahan besar. Kita memberi musuh waktu untuk berkumpul kembali dan mempersenjatai diri,” tegas Ben-Gvir.

Sementara itu, Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, juga menyampaikan penolakan.

“Tidak ada alasan untuk menghentikan operasi ketika ancaman dari Hizbullah masih ada,” ujarnya.

Pernyataan keduanya mencerminkan ketegangan serius di dalam kabinet Israel, terutama terhadap keputusan yang dinilai terlalu dipengaruhi oleh tekanan Amerika Serikat.


Libanon Sambut Baik, Tapi Tetap Waspada

Di pihak Libanon, Presiden Joseph Aoun menyambut kesepakatan ini dengan nada hati-hati.

“Libanon menyambut baik gencatan senjata ini dan berharap dapat membawa kelegaan bagi rakyat kami serta membuka jalan menuju stabilitas jangka panjang,” kata Aoun.

Namun ia juga mengingatkan potensi pelanggaran.

“Kami tetap waspada, karena pelanggaran masih mungkin terjadi dalam beberapa hari ke depan.”


Gencatan Senjata masih Rapuh

Meski diumumkan sebagai terobosan diplomatik, situasi di lapangan menunjukkan gencatan senjata ini masih rapuh. Tembakan sporadis dilaporkan masih terjadi di beberapa wilayah perbatasan.

Perbedaan kepentingan antara Israel, Libanon, dan Hizbullah membuat implementasi kesepakatan ini menghadapi tantangan besar. (E-4).



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya