Usai Serangan Mematikan,  Israel Tiba-Tiba Ajak Libanon Berunding

Ferdian Ananda Majni
10/4/2026 14:06
Usai Serangan Mematikan,  Israel Tiba-Tiba Ajak Libanon Berunding
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump(AFP)

PERDANA Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan kesiapan untuk membuka pembicaraan langsung dengan Libanon, hanya sehari setelah serangan besar Israel ke negara tersebut menewaskan lebih dari 300 orang.

Serangan tersebut terjadi di tengah kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berlangsung selama dua pekan. Namun, Israel dan AS menegaskan bahwa Libanon tidak termasuk dalam cakupan kesepakatan tersebut.

"Menanggapi permintaan berulang dari Libanon untuk membuka negosiasi langsung dengan Israel, saya kemarin telah menginstruksikan kabinet untuk segera memulai pembicaraan tersebut secepat mungkin," kata Netanyahu dalam pernyataan resmi yang dirilis kantornya pada Kamis (9/4).

Ia menambahkan bahwa agenda utama dalam pembicaraan tersebut adalah pelucutan senjata kelompok Hizbullah serta upaya membangun hubungan damai antara Israel dan Lebanon.

Pernyataan Netanyahu muncul setelah rangkaian serangan Israel di berbagai wilayah Libanon yang menewaskan sedikitnya 300 orang. Serangan tersebut dinilai berpotensi mengganggu kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran.

Sementara itu, terdapat perbedaan pandangan mengenai cakupan gencatan senjata tersebut. Israel dan AS menilai Libanon tidak termasuk dalam kesepakatan, yang ditujukan untuk membuka jalan bagi negosiasi mengakhiri konflik lima pekan antara AS-Israel dan Iran. 

Di sisi lain, Iran dan mediator Pakistan menyebut Libanon merupakan bagian dari kesepakatan tersebut, pandangan yang juga didukung sejumlah pemimpin internasional.

Menjelang pengumuman Netanyahu, Presiden Libanon Joseph Aoun menyatakan bahwa pemerintahnya tengah menempuh jalur diplomatik yang mulai mendapatkan respons positif dari komunitas global.

Pemerintah Libanon juga mengambil langkah internal dengan memperketat kontrol senjata di ibu kota. Perdana Menteri Nawaf Salam menyampaikan bahwa aparat keamanan diminta memastikan monopoli senjata berada di tangan negara.

"Angkatan bersenjata dan aparat keamanan diminta segera memperkuat penerapan penuh otoritas negara di wilayah Beirut dan memastikan monopoli senjata berada di tangan otoritas yang sah," ujarnya usai rapat kabinet.

Presiden Aoun menegaskan bahwa gencatan senjata merupakan satu-satunya jalan keluar dari krisis yang sedang berlangsung.

"Saya telah mengatakan dan menegaskan kembali, saya tidak akan membiarkan konflik internal terjadi, dan semua pihak harus percaya pada negara dan kekuatan sahnya, karena tidak ada keselamatan tanpa itu," ujarnya.

Namun demikian, beberapa jam sebelum membuka peluang negosiasi, Netanyahu tetap menegaskan sikap keras terhadap Hizbullah.

Ia menyatakan Israel akan terus menyerang kelompok tersebut dengan kekuatan, presisi, dan determinasi.

Data dari Kementerian Kesehatan Libanon mencatat sedikitnya 303 orang tewas dan lebih dari 1.000 lainnya mengalami luka-luka akibat serangan Israel pada Rabu (8/4).

Tragedi ini mendorong pemerintah Lebanon menetapkan Kamis sebagai hari berkabung nasional. Serangan dilaporkan masih berlanjut hingga malam dan Kamis pagi. Militer Israel juga mengklaim telah menewaskan Ali Yusuf Harshi, yang disebut sebagai ajudan pemimpin Hizbullah Naim Qassem, meski klaim tersebut belum dikonfirmasi oleh pihak Hizbullah. (CNN/H-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya