Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MAJELIS Ahli Iran resmi menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Agung ketiga Republik Islam Iran. Keputusan ini diambil menyusul tewasnya pemimpin sebelumnya, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan udara Amerika Serikat dan Israel. Namun, penunjukan ini langsung memicu reaksi keras dari Washington dan ancaman baru dari Yerusalem.
Presiden AS Donald Trump secara tegas menyatakan ia memandang kenaikan jabatan Mojtaba Khamenei sebagai hasil yang "tidak dapat diterima". Trump menekankan keinginannya untuk melihat sosok pemimpin yang bisa membawa stabilitas di kawasan tersebut.
"Putra Khamenei tidak bisa saya terima. Kami menginginkan seseorang yang akan membawa harmoni dan perdamaian ke Iran," ujar Trump kepada Axios.
Meskipun tidak memberikan spesifikasi mendetail mengenai kriteria pemimpin yang ia inginkan, Trump menegaskan bahwa prioritas utamanya bukanlah soal sistem demokrasi di Iran, melainkan sikap politik pemimpin tersebut terhadap sekutu AS.
"Saya katakan harus ada pemimpin yang adil dan benar. Melakukan pekerjaan yang hebat. Memperlakukan Amerika Serikat dan Israel dengan baik, serta memperlakukan negara-negara lain di Timur Tengah dengan baik, mereka semua adalah mitra kami," kata Trump dalam wawancara dengan CNN.
Ketika ditanya apakah ia terbuka terhadap pemimpin dari kalangan religius, Trump tidak menutup kemungkinan tersebut. "Yah, mungkin saja, ya. Maksud saya, itu tergantung pada siapa orangnya. Saya tidak keberatan dengan pemimpin agama. Saya berurusan dengan banyak pemimpin agama dan mereka luar biasa," tambahnya.
Di sisi lain, Israel mengeluarkan peringatan yang lebih keras. Pemerintah Israel bersumpah untuk menargetkan siapa pun yang menggantikan mendiang Ayatollah Ali Khamenei. Pihak Israel menegaskan bahwa mereka akan terus memantau proses suksesi ini dengan ketat.
"Lengan panjang Negara Israel akan terus mengejar penerus tersebut dan siapa pun yang mencoba menunjuknya," tegas pihak otoritas Israel. Seorang pejabat Israel bahkan meragukan keinginan rakyat Iran untuk kembali dipimpin oleh kalangan Ayatollah.
Menanggapi tekanan internasional, Majelis Ahli Iran menyerukan masyarakat untuk mendukung kepemimpinan baru. Dalam sebuah pernyataan, Majelis mendesak rakyat Iran, terutama para sarjana, akademisi, dan elite nasional, untuk setia kepada kepemimpinan Mojtaba Khamenei dan menjaga persatuan di bawah prinsip Velayat-e Faqih.
Majelis menyatakan pertemuan darurat segera dilakukan sesaat setelah berita kematian Khamenei muncul, meskipun berada dalam kondisi perang yang berat dan ancaman langsung terhadap institusi negara.
Langkah cepat ini diklaim sebagai proses konstitusional untuk menghindari kekosongan kekuasaan di Iran. Setelah melalui musyawarah panjang, Majelis mengumumkan bahwa Mojtaba Khamenei terpilih secara suara bulat oleh para anggotanya untuk menjadi pemimpin ketiga sejak revolusi 1979. (CNN/BBC/Al Jazeera/Z-2)
Presiden Donald Trump memperpanjang gencatan senjata dengan Iran demi solusi diplomatik, meski kepemimpinan Iran dilaporkan terpecah belah.
PEMIMPIN Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, secara terbuka menggaungkan klaim kemenangan negaranya dalam persaingan geopolitik melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Laporan intelijen menyebut Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei dalam kondisi kritis akibat serangan AS-Israel. Teheran membantah klaim kondisi koma.
PEMIMPIN Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei dilaporkan dalam keadaan tidak sadarkan diri dan sedang menjalani perawatan akibat kondisi parah, sementara donald trump sepakat gencatan senjata
Mojtaba Khamenei dikabarkan kritis dan tak sadarkan diri. Iran menghadapi krisis kepemimpinan di tengah konflik dan ancaman keras dari AS.
Mohsen Rezaei, penasihat militer Mojtaba Khamenei, menegaskan Iran tidak akan berhenti berperang sebelum AS memberikan jaminan internasional dan mencabut sanksi.
Militer AS melalui USS Rafael Peralta mencegat kapal tanker M/T Stream menuju Iran. Ketegangan di Selat Hormuz meningkat di tengah kebuntuan diplomasi.
Presiden AS Donald Trump memilih strategi blokade ekonomi berkepanjangan terhadap Iran untuk menekan ekspor minyak dan menghindari risiko perang terbuka.
Arab Saudi mendesak Dewan Keamanan PBB secara eksplisit mengecam serangan Iran sejak awal krisis, sembari menyoroti pentingnya keamanan Selat Hormuz bagi ekonomi global.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres memperingatkan bahwa kebuntuan ini berpotensi memicu krisis pangan global.
Pertemuan mungkin masih berlangsung, serta menegaskan proposal tersebut sedang dibahas. Meski demikian, Leavitt menolak berspekulasi lebih jauh.
HARGA minyak dunia terus menunjukkan tren kenaikan meskipun Iran mengajukan proposal untuk mengakhiri blokade di Selat Hormuz.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved