Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PERILISAN ribuan halaman dokumen terkait kasus pelecehan seksual Jeffrey Epstein oleh Departemen Kehakiman (DOJ) Amerika Serikat menuai gelombang kekecewaan. Meskipun publik telah lama menantikan transparansi penuh, dokumen yang dirilis justru dipenuhi sensor (redaksi) ketat yang dianggap menutupi fakta penting.
Perilisan ini merupakan mandat dari undang-undang Kongres yang mewajibkan DOJ membuka seluruh materi terkait kejahatan Epstein. Namun, sejumlah anggota parlemen menilai langkah DOJ tidak tulus dan tidak lengkap. Para pakar hukum bahkan memperingatkan sensor yang berlebihan ini justru akan memperburuk teori konspirasi yang berkembang di masyarakat.
Dokumen yang baru dirilis mencakup foto Ghislaine Maxwell di depan Downing Street, klaim pertemuan Epstein dengan gadis 14 tahun bersama Donald Trump di Mar-a-Lago, serta foto-foto mantan Presiden Bill Clinton. Selain itu, muncul pula nama-nama pesohor seperti Andrew Mountbatten-Windsor, Mick Jagger, Michael Jackson, hingga Diana Ross.
Penting untuk dicatat keberadaan nama atau foto dalam berkas ini bukan merupakan bukti pelanggaran hukum. Donald Trump dan Bill Clinton secara konsisten membantah terlibat atau mengetahui aktivitas kriminal Epstein.
Wakil Jaksa Agung AS, Todd Blanche, menegaskan sensor dilakukan semata-mata untuk melindungi identitas lebih dari 1.200 korban dan kerabat mereka. "Satu-satunya redaksi yang diterapkan adalah yang diwajibkan oleh hukum, titik," tegas Blanche melalui unggahan di platform X.
Namun, alasan perlindungan korban ini diragukan para penyintas. Marina Lacerda, salah satu korban yang dilecehkan pada usia 14 tahun, menyatakan kekecewaannya. "Kami khawatir informasi ini akan terus disensor dengan cara yang sama seperti hari ini," ujarnya kepada BBC.
Senada dengan Marina, penyintas lainnya, Liz Stein, menuduh DOJ secara terang-terangan melanggar Epstein Files Transparency Act. Ia mengkhawatirkan adanya taktik pemberian informasi yang lambat dan tidak lengkap tanpa konteks yang jelas.
John Day, seorang pengacara pembela kriminal, juga terkejut dengan banyaknya informasi yang ditutupi. "Ini hanya akan menyulut api konspirasi. Muncul pertanyaan besar mengenai seberapa setia DOJ dalam menjalankan undang-undang ini," ungkapnya.
Anggota Kongres dari Partai Demokrat, Ro Khanna, dan Thomas Massie dari Partai Republik, yang mempelopori perilisan berkas ini, menyebut draf tersebut "tidak lengkap". Khanna bahkan mempertimbangkan langkah-langkah hukum seperti pemecatan (impeachment) atau tuntutan penghinaan terhadap pejabat terkait karena tidak memberikan penjelasan atas setiap sensor yang dilakukan.
Thomas Massie menambahkan Jaksa Agung Pam Bondi dan pejabat DOJ lainnya bisa menghadapi tuntutan hukum di masa depan. Pasalnya dianggap gagal mematuhi semangat transparansi yang diamanatkan undang-undang.
Menanggapi kritik tersebut, Gedung Putih mengklaim pemerintahan Trump sebagai yang "paling transparan dalam sejarah" dan menyatakan telah berbuat lebih banyak bagi para korban dibandingkan pihak lain. Todd Blanche juga menjanjikan bahwa tidak ada upaya untuk menutupi nama-nama besar, termasuk Donald Trump maupun Bill Clinton, selama hal tersebut sesuai dengan ketentuan hukum. (BBC/Z-2)
Tinjauan terbaru terhadap dokumen Departemen Kehakiman AS mengungkap testimoni korban Jeffrey Epstein yang menyeret tokoh Wall Street hingga mantan senator. Mengapa investigasi mandek?
Departemen Kehakiman AS menjatuhkan hukuman penjara bagi dua warga New Jersey yang mengelola "laptop farm" untuk menyelundupkan pekerja IT Korea Utara ke perusahaan Fortune 500.
Kelompok hacker Handala mengklaim telah membobol email pribadi Direktur FBI Kash Patel. Foto-foto santai hingga resume Patel disebar sebagai bentuk balas dendam.
Jaksa Agung Pam Bondi angkat bicara soal subpoena dokumen Jeffrey Epstein dan walkout anggota Demokrat. James Comer akui lontarkan kata kasar dalam rapat.
Rapat tertutup Jaksa Agung Pam Bondi dengan Komite Pengawas DPR AS berakhir ricuh. Anggota Demokrat tuduh adanya upaya penutupan dokumen kasus Epstein.
Komite Pengawasan DPR AS resmi memanggil paksa Jaksa Agung Pam Bondi terkait penyelidikan berkas Jeffrey Epstein. Anggota dewan tuntut transparansi penuh.
Presiden AS Donald Trump memilih strategi blokade ekonomi berkepanjangan terhadap Iran untuk menekan ekspor minyak dan menghindari risiko perang terbuka.
Donald Trump menyatakan King Charles III sejalan dalam mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Pernyataan disampaikan saat jamuan kenegaraan di AS.
Mantan Direktur FBI James Comey menghadapi dakwaan pidana atas dugaan ancaman terhadap Presiden Donald Trump lewat unggahan media sosial.
FCC memerintahkan peninjauan ulang lisensi siaran TV Disney menyusul desakan Presiden Donald Trump untuk memecat Jimmy Kimmel pasca insiden percobaan pembunuhan.
Gedung Putih mengunggah foto Raja Charles III dan Donald Trump dengan takarir "Dua Raja".
Raja Charles III dan Donald Trump melakukan pertukaran kado simbolis dalam kunjungan kenegaraan ke AS. Dari desain Resolute Desk hingga surat bersejarah John Adams.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved