Skandal Laptop Farm, 2 Warga AS Dipenjara Akibat Bantu Pekerja IT Korea Utara

Thalatie K Yani
16/4/2026 10:35
Skandal Laptop Farm, 2 Warga AS Dipenjara Akibat Bantu Pekerja IT Korea Utara
Departemen Kehakiman AS menjatuhkan hukuman penjara bagi dua warga New Jersey yang mengelola "laptop farm" untuk menyelundupkan pekerja IT Korea Utara ke perusahaan Fortune 500.(US District Court District of Massachusetts)

DEPARTEMEN Kehakiman Amerika Serikat resmi menjatuhkan hukuman penjara bagi dua warga negara Amerika Serikat yang terbukti terlibat dalam skema terselubung untuk mendanai rezim Korea Utara. Zhenxing “Danny” Wang, 39, dan Kejia “Tony” Wang, 42, keduanya asal New Jersey, berperan sebagai perantara dalam konspirasi yang menghasilkan pendapatan sebesar US$5 juta bagi Pyongyang.

Pengadilan federal di Boston menjatuhkan hukuman lebih dari tujuh tahun penjara bagi Zhenxing Wang, sementara Kejia Wang dijatuhi hukuman sembilan tahun penjara. Keduanya mengaku bersalah atas keterlibatan mereka dalam menipu perusahaan-perusahaan besar AS, termasuk perusahaan yang masuk dalam daftar Fortune 500.

Modus Operandi "Laptop Farm"

Inti dari skema ini adalah penggunaan "laptop farm" atau klaster komputer yang dikelola dari rumah mereka di AS. Perusahaan-perusahaan Amerika secara tidak sengaja mengirimkan laptop kerja ke alamat tersebut, mengira mereka telah mempekerjakan staf domestik.

Melalui perangkat ini, pekerja IT asal Korea Utara yang berada di luar negeri mendapatkan akses masuk ke sistem perusahaan besar di Amerika. Mereka menarik gaji besar dan, dalam satu kasus ekstrem, mencuri data ekspor yang dikendalikan dari sebuah kontraktor pertahanan di California. Perusahaan lain yang menjadi korban termasuk distributor semikonduktor di Massachusetts dan firma pengembangan perangkat lunak di California.

Menurut otoritas AS, skema seperti ini semakin sering digunakan Korea Utara untuk menghindari sanksi internasional dan menghasilkan pendapatan bagi program senjata nuklir mereka.

Pencurian Identitas Skala Besar

Para pelaku mendirikan perusahaan cangkang di New Jersey untuk menciptakan kesan para pekerja tersebut memiliki izin resmi untuk bekerja di AS. Anggota konspirasi lainnya diduga menggunakan firma pengecekan latar belakang untuk mencuri identitas sedikitnya 80 warga AS.

Michael Barnhart, peneliti di firma keamanan DTEX Systems, menjelaskan jaringan pekerja IT Korea Utara kini semakin mengandalkan perusahaan lokal di AS untuk menciptakan ilusi legitimasi.

"Memasangkan identitas warga AS, alamat AS, dan perusahaan cangkang... para fasilitator ini menciptakan ilusi 'upaya' domestik yang sah. Hal ini memungkinkan para pekerja IT mempresentasikan diri mereka sebagai penduduk AS tanpa memicu kecurigaan selama proses rekrutmen atau alur kerja harian," ujar Barnhart kepada CNN.

Ia juga memperingatkan bahwa banyak agen perekrutan yang secara tidak sadar memfasilitasi aktivitas ini dengan memberikan jaminan bahwa mereka telah melakukan pengecekan latar belakang secara mendalam.

Perburuan Terus Berlanjut

Meskipun dua pelaku utama telah divonis, pemerintah AS masih terus berupaya memberantas jaringan serupa. Pada Rabu (15/04), Departemen Luar Negeri AS menawarkan hadiah hingga US$5 juta bagi siapa pun yang memiliki informasi mengenai individu lain yang terlibat dalam penggalangan dana ilegal bagi rezim Korea Utara.

Hingga saat ini, pihak berwenang dan pakar swasta memperkirakan pemerintah Korea Utara telah mencuri miliaran dolar dalam beberapa tahun terakhir melalui peretasan bursa kripto dan infiltrasi pekerja IT ke perusahaan-perusahaan teknologi dunia. (CNN/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya