Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
BIRO Investigasi Federal (FBI) mengonfirmasi akun email pribadi Direkturnya, Kash Patel, telah menjadi target peretasan oleh kelompok yang berafiliasi dengan Iran. Kelompok yang menamakan diri mereka Handala Hack Team mengklaim bertanggung jawab atas serangan ini dan mulai menyebarkan data pribadi milik bos FBI tersebut.
Pada Jumat lalu, Handala mengunggah dokumen yang diduga sebagai resume milik Patel beserta sejumlah foto pribadi di situs mereka. Dalam pernyataan resminya, kelompok tersebut memberikan peringatan tajam: "Ini hanyalah permulaan kami."
Foto-foto yang kini beredar di media sosial menunjukkan sisi santai Patel yang jauh dari citra birokratisnya. Terlihat logo Handala tertempel sebagai watermark pada foto-foto yang memperlihatkan Patel sedang berpose di samping jet pribadi, bersantai dengan cerutu dan botol minuman keras, hingga berfoto di depan mobil antik.
Menanggapi hal ini, pihak FBI menyatakan telah menyadari adanya "aktor jahat" yang menargetkan informasi email Patel. Namun, mereka menegaskan data yang dicuri bukanlah dokumen negara yang bersifat rahasia.
"Informasi yang dimaksud bersifat historis dan tidak melibatkan informasi pemerintah," tulis pernyataan resmi FBI.
Sebagai langkah tegas, pemerintah Amerika Serikat menawarkan hadiah hingga US$10 juta (sekitar Rp158 miliar) bagi siapa pun yang memiliki informasi untuk mengidentifikasi anggota kelompok Handala.
Pakar keamanan siber meragukan kecanggihan serangan ini. Cynthia Kaiser dari Halcyon Ransomware Research Center menduga bahwa data tersebut berasal dari peretasan lama yang "didaur ulang" untuk menciptakan efek kejut hari ini.
"Email-email tersebut terlihat sangat lama, membuat saya percaya bahwa ini kemungkinan adalah kompromi yang terjadi dari kelompok lain di periode waktu berbeda, dan baru disebarkan kembali sekarang," ujar Kaiser.
Sementara itu, Handala mengklaim serangan ini adalah aksi balas dendam setelah Departemen Kehakiman AS menyita beberapa domain milik mereka pekan lalu. Handala mengejek sistem pertahanan siber AS yang dianggap rapuh.
"Sistem yang katanya 'tidak bisa ditembus' milik FBI berlutut dalam hitungan jam oleh tim kami. Inikah keamanan yang dibanggakan pemerintah AS?! Inikah raksasa siber yang mengira ancaman dan suap bisa membungkam suara perlawanan?!" tulis Handala dalam pernyataannya.
Serangan terhadap akun pribadi pejabat tinggi memang kerap terjadi karena tingkat proteksinya yang lebih rendah dibandingkan sistem pemerintahan. Dave Schroeder, Direktur Inisiatif Keamanan Nasional di University of Wisconsin-Madison, menyebut akun pribadi sebagai "target yang menarik" bagi peretas untuk mendapatkan publisitas.
Handala sendiri sebelumnya telah mengklaim serangan terhadap perusahaan teknologi medis AS, Stryker, dan menghapus data dalam jumlah besar sebagai bentuk protes atas konflik geopolitik yang melibatkan Iran. Saat ini, otoritas AS terus melacak jejak kelompok ini yang diyakini beroperasi di bawah payung Kementerian Intelijen dan Keamanan Iran (MOIS). (BBC/Z-2)
Mantan Direktur FBI James Comey menghadapi dakwaan pidana atas dugaan ancaman terhadap Presiden Donald Trump lewat unggahan media sosial.
Penting untuk dipahami bahwa enkripsi end-to-end (E2EE) secara teknis mencegah pihak ketiga membaca isi pesan saat sedang dikirim. Namun, laporan yang beredar menunjukkan bahwa FBI
FBI bersama New York Police Department (NYPD) bahkan mengutip isi percakapan dalam grup bernama courtwatch.
FBI selidiki Joe Kent terkait dugaan kebocoran informasi rahasia. Kent sebut pembunuhan Ali Khamenei oleh AS-Israel adalah kesalahan fatal.
FBI dituduh tidak kooperatif dalam penyelidikan penembakan perawat Alex Pretti. Gubernur Minnesota sebut operasi imigrasi tinggalkan trauma mendalam.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengambil langkah tak lazim dengan merekrut peretas dalam negeri untuk memperkuat sistem Coretax.
"Sekarang keamanan Cortex sudah bagus sekali. Dulu saya bilang, cyber security-nya 30 dari 100, sekarang sudah 95+. Kalau nilai sudah A+ security-nya."
Nama “Bjorka” selama dua tahun terakhir identik dengan sosok misterius berkemampuan tinggi di dunia maya. Namun, penangkapan WFT, 22, oleh Polda Metro Jaya justru memperlihatkan kontras: pemuda pengangguran, tidak lulus SMK, dan belajar IT secara otodidak.
Polisi mengusut dugaan WFT, 22 dengan akun X bernama @bjorka dan @bjorkanesia terkait dengan kebocoran data pejabat pemerintah
Polisi menangkap pria WFT, 22, asal Kakas Barat, Minahasa, Sulawesi Utara (Sulut) yang mengaku sebagai hacker ‘Bjorka’
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved