Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
Federal Bureau of Investigation (FBI) dilaporkan mampu mengakses dan membaca percakapan dalam grup privat aplikasi Signal milik aktivis hak imigran di New York, Amerika Serikat. Temuan ini berasal dari dokumen penegak hukum yang diperoleh organisasi transparansi Property of the People dan dilaporkan oleh The Guardian. Dalam laporan tersebut, FBI bersama New York Police Department (NYPD) bahkan mengutip isi percakapan dalam grup bernama courtwatch.
FBI menyebut informasi tersebut berasal dari “sumber sensitif dengan akses sangat baik”, meski tidak menjelaskan secara rinci bagaimana mereka bisa melaakukan penyadapan atau masuk ke dalam grup yang bersifat privat dan terenkripsi tersebut.
Signal dikenal menggunakan enkripsi end-to-end, yang secara teori membuat pesan hanya bisa dibaca oleh pengirim dan penerima. Karena itu, muncul pertanyaan besar soal bagaimana aparat bisa mengakses percakapan tersebut. Secara umum, akses semacam ini hanya mungkin terjadi jika aparat ikut masuk ke dalam grup, menerima tangkapan layar dari anggota, atau memperoleh akses ke perangkat pengguna.
Grup chat yang dipantau merupakan bagian dari gerakan courtwatch, yaitu relawan yang memantau sidang di pengadilan imigrasi. Aktivitas ini meningkat seiring kebijakan penegakan imigrasi oleh Immigration and Customs Enforcement yang dinilai semakin agresif.
Dalam laporannya, FBI menyoroti percakapan yang berisi koordinasi kehadiran di pengadilan serta pengumpulan dokumentasi aktivitas aparat. FBI juga mengklaim adanya diskusi terkait peningkatan aktivitas di sekitar fasilitas federal. Namun, laporan tersebut menuai kritik karena menyebut para aktivis sebagai aktor ekstremis anarkis yang berpotensi melakukan kekerasan tanpa bukti rinci.
Brad Lander, pejabat Kota New York yang juga aktif dalam courtwatch, mengecam keras praktik ini. Ia menyatakan bahwa pengawasan tersebut mengingatkan pada metode lama FBI. Lander menilai taktik itu diambil langsung dari gaya J. Edgar Hoover, yang dikenal luas karena memata-matai aktivis. Ia juga menegaskan bahwa memantau sidang pengadilan adalah tindakan sah dan damai.
“Mengamati sidang imigrasi adalah tindakan legal dan non-kekerasan," ujar Lander dikutip dari The Guardian.
Lander menambahkan bahwa tujuan courtwatch adalah untuk memastikan transparansi dan mencegah pelanggaran hak hukum. Ia menegaskan bahwa pengawasan dan intimidasi tidak akan menghentikan kami untuk melindungi masyarakat dan supremasi hukum.
Pandangan serupa disampaikan advokat kebebasan sipil, Spencer Reynolds. Ia menilai laporan FBI merupakan bagian dari tren kriminalisasi aktivitas kebebasan berpendapat di Amerika Serikat.
“aktivitas ini sah dan dilindungi konstitusi, tetapi justru sering digambarkan sebagai ancaman oleh aparat," ujar Reynolds.
Reynolds juga memperingatkan bahwa pengawasan semacam ini berpotensi menimbulkan ketidakpercayaan di antara aktivis dan merusak ruang diskusi privat. Reynolds membandingkan situasi ini dengan praktik FBI di masa lalu, seperti penyusupan dalam gerakan hak sipil pada 1960-an dan pemantauan komunitas Muslim setelah peristiwa serangan September 11. Ia menilai pola tersebut menunjukkan bagaimana lembaga keamanan dapat digunakan untuk memantau kelompok sipil yang kritis terhadap pemerintah. (E-3)
Militer AS melalui USS Rafael Peralta mencegat kapal tanker M/T Stream menuju Iran. Ketegangan di Selat Hormuz meningkat di tengah kebuntuan diplomasi.
Pemerintahan Trump mengusulkan Visa Kartu Emas US$5 juta dan tarif untuk tekan utang AS senilai US$39 triliun. Simak analisis kelayakan dan dampaknya.
PERANG AS-Israel melawan Iran telah membuka aib rezim Donald Trump yang sesungguhnya.
Gedung Putih telah menyetujui setiap pertemuan antara Raja Charles III dan Trump akan berlangsung tanpa kamera, demikian dilaporkan surat kabar tersebut pada Senin (27/4).
Pertemuan mungkin masih berlangsung, serta menegaskan proposal tersebut sedang dibahas. Meski demikian, Leavitt menolak berspekulasi lebih jauh.
Presiden AS Donald Trump merespons insiden penyerangan di Washington Hilton. Ia membantah isi manifesto pelaku dan meminta acara segera dijadwalkan ulang.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved